- Rupiah tembus Rp17.600/USD akibat memanasnya konflik geopolitik AS-Iran di Selat Hormuz.
- Cadev April turun ke USD146,2 M karena BI terbagi fokus bayar utang luar negeri jatuh tempo.
- Utang RI dekati Rp10.000 T, pelemahan kurs dongkrak beban APBN hingga 6 persen lebih.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) dikabarkan mulai menghadapi keterbatasan ruang intervensi atau "kehabisan amunisi" untuk menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Jumat (15/5/2026), mata uang Garuda terus terperosok hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data pasar finansial Jumat pagi, rupiah sempat menyentuh posisi terendah di level Rp17.612 per dolar AS sebelum bergerak di kisaran Rp17.579. Pembengkakan biaya operasi moneter demi menyelamatkan rupiah ini dikabarkan terus menguras cadangan devisa (cadev) nasional secara signifikan.
Posisi cadangan devisa RI pada akhir April 2026 tercatat merosot menjadi USD146,2 miliar, turun USD2 miliar dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2026 yang sebesar USD148,2 miliar. Sumber Suara.com mengungkapkan bahwa kemampuan BI untuk mengguyur pasar tidak lagi bisa dilakukan secara jor-joran karena adanya prioritas pembiayaan lain yang mendesak.
"Kita terus berupaya segala cara untuk menguatkan nilai tukar, tetapi ada batasnya. Karena cadangan devisa kita tidak hanya untuk menstabilkan rupiah tetapi juga untuk hal lain, salah satu yang paling menjadi perhatian utama saat ini adalah kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah yang mulai jatuh tempo," ujar sumber tersebut.
Sikap hati-hati Bank Indonesia sangat beralasan. Jika bank sentral hanya berfokus pada stabilitas rupiah, posisi cadangan devisa dikhawatirkan dapat merosot tajam hingga di bawah ambang batas aman USD100 miliar.
"Cadangan devisa kita sudah dibagi-bagi peruntukkannya, ini buat ini, ini buat itu dan lain sebagainya, jika kami hanya fokus di rupiah, cadangan devisa kita bisa dibawah USD100 miliar," papar sumber itu.
Di sisi lain, beban fiskal pemerintah juga kian berat. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat total utang pemerintah per 31 Mach 2026 telah mencapai Rp9.920,42 triliun, atau hampir menyentuh angka Rp10.000 triliun. Walaupun secara rasio masih berada di level 40,75% terhadap Produk Domestik Buruto (PDB) di bawah batas aman undang-undang sebesar 60% kenaikan ini terjadi di tengah tren suku bunga global yang tetap tinggi.
![Nilai tukar rupiah menguat 0,30 persen ke level Rp17.475 terhadap dolar AS pada penutupan Rabu sore, 13 Mei 2026. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/60419-nilai-tukar-rupiah.jpg)
Komposisi utang pemerintah saat ini didominasi oleh penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8.652,89 triliun (87,22%), sedangkan porsi pinjaman tercatat sebesar Rp1.267,52 triliun. Ketergantungan yang tinggi pada pasar obligasi ini membuat APBN sangat rentan terhadap fluktuasi kurs.
Dengan posisi rupiah yang bertengger di level Rp17.600, angka ini telah jauh melampaui asumsi makro dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar Rp16.500 per dolar AS. Selisih kurs yang melebar ini diperkirakan akan langsung mendongkrak beban pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri dalam denominasi rupiah sekitar 5 hingga 6 persen, memicu tekanan baru pada ruang gerak belanja negara.
Pengamat pasar keuangan dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan tajam rupiah kali ini dipicu oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Konflik bersenjata yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran telah melumpuhkan jalur logistik vital dunia, khususnya di Selat Hormuz.
"Permasalahan gejolak geopolitik di Timur Tengah ini masih terus dijadikan sebagai momok, terutama di Selat Hormuz. Saat ini sekitar 20 persen transportasi minyak global terhenti total. Hal ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang pada gilirannya mendorong penguatan indeks dolar AS secara global," jelas Ibrahim.
Sentimen tersebut membuat dolar AS diburu sebagai aset aman (safe haven), sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Tekanan terhadap rupiah diproyeksikan masih akan relatif besar di pasar keuangan dalam jangka pendek selama ketegangan global belum mereda.