- Pengamat Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp22.000 pada akhir Mei 2026.
- Pelemahan rupiah dipicu oleh kondisi geopolitik global serta penguatan dolar Amerika Serikat yang terus berlanjut secara signifikan.
- Bank Indonesia dipertimbangkan menaikkan suku bunga acuan guna menstabilkan mata uang rupiah di tengah tantangan pertumbuhan ekonomi nasional.
Suara.com - Pengamat Mata Uang Ibrahim Assuaibi meramal nilai tukar rupiah akan terus memburuk hingga akhir Mei 2026. Bahkan, tidak menutup kemungkinan rupiah bisa tembus ke level Rp 22.000.
Menurutnya, tidak ada sentimen positif yang mendorong rupiah perkasa terhadap dolar AS. Apalagi, kondisi geopolitik masih belum mereda dan serta dolar AS yang terus melonjak.
Namun, Ibrahim menyebut, skenario terpendek rupiah akan menembus level Rp 18.000 terlebih dahulu dalam waktu dekat ini.
"Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp 18 ribu akan tembus. Saya kalau seandainya Rp 18 ribu tembus di bulan Mei ini ada kemungkinan besar rupiah itu akan menembus level Rp 22 ribu," ujarnya kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).
![Nilai tukar rupiah menguat 0,30 persen ke level Rp17.475 terhadap dolar AS pada penutupan Rabu sore, 13 Mei 2026. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/70066-nilai-tukar-rupiah.jpg)
Ibrahim melanjutkan, untuk meredam pelemahan nilai tukar rupiah ini hanya dengan kebijakan-kebijakan pemerintah serta Bank Indonesia (BI).
Misalnya, dalam Rapat Dewan Gubernur, ia menilai BI akan menaikkan suku bungan acuan atau BI Rate.
"Ya bisa saja 25 basis poin sampai 50 basis poin, tujuannya adalah untuk menestabilkan mata uang rupiah," jelasnya.
Ibrahim melihat, kenaikan suku bunga ini memang sangat dilema, karena jika tak naik Rupiah akan terus jebol. Sedangkan, kenaikan BI Rate maka akan menurunkan daya beli yang akhirnya pertumbuhan ekonomi melambay.
"Memang ya dalam kondisi saat ini sangat sulit Bank Indonesia apakah tetap mempertahankan suku bunga atau menaikkan suku bunga. Tapi ada kemungkinan besar dalam bulan Mei ini pertemuan Bank Sentral Indonesia akan menaikkan suku bunga tujuannya adalah untuk menestabilkan mata uang rupiah," imbuhnya.
"Walaupun rupiah terus mengalami pelemahan tetapi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup bagus, karena 90 persen ya obligasi yang membeli adalah domestik," sambung Ibarahim.