- Rupiah anjlok ke Rp 17.667/USD dan minyak Brent tembus USD 111,29 per barel
- Biaya produksi & logistik naik memicu inflasi barang impor (imported inflation).
- Daya beli lemah berisiko memicu gelombang PHK dalam kurun 2-3 bulan ke depan.
Suara.com - Kombinasi pelemahan nilai tukar rupiah yang drastis dan lonjakan harga minyak mentah global diproyeksikan bakal memicu tekanan hebat pada perekonomian domestik dalam beberapa bulan ke depan. Fenomena imported inflation atau inflasi barang impor kini mengintai di depan mata.
Berdasarkan data pasar pada Senin (18/5/2026) sore, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah mencatatkan rekor pelemahan baru hingga menyentuh angka Rp 17.667. Di saat yang sama, komoditas energi global belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Harga minyak mentah Brent bertengger di level USD 111,29 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS berada di angka USD 107,73 per barel. Keduanya masih kokoh bertahan di atas ambang psikologis USD 100 per barel.
Menanggapi situasi kritis ini, Peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, memperingatkan bahwa depresiasi rupiah akan langsung mengerek biaya distribusi dan logistik nasional akibat naiknya harga bahan bakar. Dampak domino dari kenaikan ini dipastikan bakal memukul berbagai sektor, baik untuk bahan baku industri, barang penolong, hingga barang konsumsi langsung.
"Akan ada kenaikan harga dalam 2-3 bulan ke depan. Yang sudah mulai adalah plastik karena barangnya langka, distribusi mahal, sekalinya dapet, nilai rupiahnya melemah," ujar Huda saat dihubungi Suara.com pada Senin (18/5/2026).
Huda menambahkan, efek kenaikan harga komoditas dasar seperti plastik ini akan merembet ke segala arah karena sifatnya yang krusial bagi kemasan industri. Imbasnya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat perkotaan, melainkan hingga ke pelosok daerah. "Apakah di desa gak ada plastik? Tentu saja banyak dan itu menggerus dompet masyarakat desa juga," jelasnya.
Selain sektor kemasan, lonjakan biaya produksi berbasis impor ini diproyeksi mengerek harga barang elektronik serta memukul sektor pertanian akibat ketergantungan impor bahan baku pupuk yang masih sangat tinggi.
Kondisi ini kian pelik lantaran daya beli masyarakat domestik belum pulih seutuhnya. Para pelaku usaha kini terjebak dalam dilema yang berat: terpaksa menaikkan harga jual demi menutup modal, namun dihantui risiko penurunan volume penjualan karena masyarakat menahan belanja.
Sebagai langkah awal, banyak produsen memilih untuk mengorbankan keuntungan mereka terlebih dahulu. "Yang ada untuk saat ini margin dipertipis," kata Huda.
Namun, pertahanan tersebut memiliki batas waktu. Jika biaya produksi terus membengkak tanpa kendali, para pengusaha diprediksi akan mengambil keputusan efisiensi yang jauh lebih radikal, yakni Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
"Ketika permintaan turun, potensi terjadi PHK sangat tinggi. Saya khawatir PHK ini akan memburuk dua-tiga bulan ke depan. Ekonomi kita akan semakin melambat. Efeknya ke rupiah yang tidak kunjung membaik," pungkas Huda.