- Investor Jepang memperingatkan Indonesia menghadapi risiko stagflasi akibat pelemahan rupiah dan penurunan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
- Konflik di Timur Tengah menyebabkan kenaikan harga bahan baku impor yang memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
- Kondisi ekonomi yang stagnan mengancam pertumbuhan industri nasional dan berisiko memicu pemutusan hubungan kerja secara massal di Indonesia.
Suara.com - Indonesia bersiap-siap menghadapi stagflasi atau kemandekan pertumbuhan ekonomi yang berbahaya, demikian disampaikan oleh seorang investor Jepang yang beroperasi di Tanah Air kepada media Nikkei Asia pada pekan ini.
Stagflasi adalah kondisi ketika inflasi meningkat, sementara pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerja tidak bertumbuh.
Di tengah kondisi perekonomian yang merayap, nilai tukar rupiah yang ambruk hingga ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya, daya beli masyarakat yang melemah dan inflasi yang semakin tinggi akibat konflik di Timur Tengah, peringatan dari para investor ini perlu didengar oleh pemerintah Prabowo Subianto.
Shoichi Hasegawa, Presiden Direktur KAO Indonesia, mengatakan Indonesia saat ini mengalami dua masalah utama yakni pelemahan nilai tukar rupiah dan turunnya kepercayaan publik.
"Yang menurut saya berbahaya saat ini adalah pelemahan permintaan yang mengarah ke deflasi. Pada dasarnya, jika konsumen hanya membeli barang murah, pertumbuhan ekonomi akan mandek kecuali volume bertambah," kata Hasegawa.
Sementara itu tekanan dari luar, yakni perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di Timur Tengah yang masih berlangsung juga masih akan terus mengganggu perekonomian Indonesia.
"Harga minyak saat ini sedikit turun, tapi masih butuh waktu lebih lama agar harga bahan baku juga ikut turun. Jadi kami harus beroperasi dengan asumsi bahwa tren ini akan bertahan hingga akhir tahun," terang Hasegawa, yang perusahaanya membawahi merek-merek seperti Biore, deterjen Attack, pembalut Laurier dan popok Merries.
Nilai tukar rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS pada pekan ini, titik paling rendah dalam sejarah Indonesia. Sementara itu kepercayaan investor terhadap pemerintah juga menurun akibat ketidakpastian kebijakan, reformasi pasar finansial yang belum jelas dan rendahnya kepastian hukum.
Bank Indonesia pekan lalu sudah menaikkan suku Bungan acuan hingga 50 basis poin untuk menjaga nilai tukar rupiah, meski efeknya belum banyak terasa.
Kao Indonesia sudah mengumumkan kepada para distributor akan menaikkan harga produk-produknya menyusul naiknya harga bahan baku yang diimpor akibat melemahnya nilai tukar rupiah serta konflik di Timur Tengah.
Hasegawa mengatakan produk deterjen adalah yang paling terdampak karena menggunakan bahan baku nafta dan bahan turunan minyak bumi lainnya yang diimpor dari Timur Tengah.
"Kami memiliki banyak produk. Ada bahan baku yang masih bisa kami impor, tapi ada juga yang tidak. Ini membuat produksi melambat," terang dia.
Hal ini kata dia berdampak ke semua pedagang. Ada yang bahkan sudah mulai menimbun barang, sebelum kebijakan kenaikan harga berlaku.
"Bahkan pasar-pasar tradisional juga terdampak parah. Arus kas mereka sekarang sudah kering," kata Hasegawa.
Lebih lanjut Hasegawa mengungkapkan pihaknya sudah melihat polarisasi dalam pola konsumsi di Indonesia. Ini terlihat khusus di pasar kelas menengah, yang terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir.