Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.555.000
Beli Rp2.430.000
IHSG 6.175,535
LQ45 621,910
Srikehati 307,227
JII 366,948
USD/IDR 17.939

IHSG Ambruk Ditinggal Investor Asing, Mengapa Masalah Utama Ada di Dalam Negeri?

Liberty Jemadu

Senin, 08 Juni 2026 | 19:08 WIB
IHSG Ambruk Ditinggal Investor Asing, Mengapa Masalah Utama Ada di Dalam Negeri?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia anjlok hampir 39 persen sepanjang tahun 2026 hingga Juni. [Antara]
baca 10 detik
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia anjlok hampir 39 persen sepanjang tahun 2026 hingga Juni.
  • Sebanyak 3,6 miliar dolar AS dana asing keluar dari pasar modal Indonesia akibat ketidakpastian kebijakan ekonomi pemerintah.
  • Pasar modal Indonesia terancam turun kasta saat lembaga global melakukan evaluasi peringkat pada Juni 2026 mendatang.

Suara.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) kini menjadi gudang ratapan dan gertak gigi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus anjlok dan sepanjang 2026 sudah turun nyaris 39 persen.

Pada Senin (8/6/2026) IHSG ditutup melemah 252,63 poin atau 4,52 persen ke posisi 5.342,14 - capaian paling jeblok bahkan dalam lima tahun terakhir.

Menurut catatan Bloomberg, hingga dari Januari hingga Juni 2026, sudah sekitar 3,6 miliar dolar AS dana asing yang kabur dari pasar modal Indonesia. Investor asing, yang menjadi tulang punggung pasar modal, ramai-ramai kabur dari Indonesia.

Sejumlah pengamat mengatakan penurunan IHSG ini adalah masalah domestik. Pemerintah disebut yang paling bertanggung jawab atas ambruknya pasar modal Indonesia.

Ketidakpastian, kredibilitas dan kualitas kebijakan yang rendah yang diperparah oleh komunikasi yang buruk ke para investor membuat pasar modal Indonesia kini terancam turun kasta.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan faktor domestik adalah faktor utama ambruknya IHSG. Ia menjelaskan tekanan yang terjadi terhadap pasar modal Indonesia menunjukkan adanya proses repricing - yakni investor global menghitung ulang risiko untuk memutar uangnya di pasar saham Indonesia.

Ketika kurs rupiah melemah, IHSG terus terkoreksi dan arus dana asing keluar (capital outflow), menurutnya, pasar pada dasarnya sedang menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia.

“Dalam kondisi seperti ini, investor tidak hanya melihat potensi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menilai seberapa besar risiko yang harus mereka tanggung,” ujar Hendra.

baca juga

Analisis senada juga disampaikan oleh Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam riset mereka pekan lalu. Disebutkan bahwa para investor sudah kehilangan kepercayaan pada Indonesia.

"Investor global tidak sedang meninggalkan pasar Emerging Market, tapi hanya Indonesia," tulis para periset Kiwoom.

Kiwoom melihat investor kini sedang menimbang-nimbang, apakah Indonesia masih layak dilirik sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan yang tinggi atau justru sedang bergerak turun menuju pasar dengan premi risiko tinggi - seperti negara miskin.

Ketidakpastian tinggi

Menurut para periset Kiwoom, ada lima faktor yang membuat investor cabut dari Indonesia. Pertama investor tak percaya lagi pada kebijakan ekonomi Indonesia. Kebijakan dan aturan di Indonesia di bawah rezim Prabowo Subianto kini mudah berubah, sukar diprediksi dan kualitasnya rendah.

Kedua, terus anjloknya nilai tukar rupiah yang kini sudah mencapai di atas Rp18.000 per dolar AS. Artinya sebentar lagi akan terjadi inflasi akibat naiknya biaya impor dan mengarah ke semakin lemahnya daya beli masyarakat.

Ketiga, menyusutnya kelas menengah yang menjadi motor ekonomi Indonesia. Pada 2025, kelas menengah hanya tinggal 46,6 juta orang dari 61,5 juta pada 2018 silam.

Keempat, aliran modal asing terus mengalir keluar Indonesia. Hal ini membuat sentimen negatif ke Indonesia semakin kencang.

Kelima, pemerintah dinilai kurang cakap dalam menyampaikan pesan serta kebijakan ekonomi strategis ke para investor global. Alhasil, ketidakpercayaan tumbuh semakin tinggi.

Turun kelas?

Salah satu risiko jangka pendek yang paling berdampak adalah de-rating. Dalam periode satu pekan ke depan, pasar modal Indonesia berisiko turun kasta setelah sejumlah lembaga pemeringkat global akan mengumumkan hasil evaluasi mereka terhadap pasar domestik.

Setidaknya ada tiga momen kunci pada pekan depan.

Pertama, pada 9 Juni akan ada MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review. Kedua, FTSE Russell Rebalancing Effective Date pada 22 Juni. Terakhir, MSCI Annual Market Classification Review 2026 pada 24 Juni.

Menurut Kiwoom, evaluasi ini menjadi semacam referendum para investor global untuk memutuskan apakah Indonesia masih layak untuk menjadi tempat investasi.

Jika MSCI dan FTSE mempertahankan rating Indonesia sebagai Emerging Market tanpa perusahaan berarti, maka keraguan investor akan perlahan hilang. Harapannya, para investor akan kembali percaya dan mengalirkan duit mereka ke pasar ekuitas dalam negeri.

Jika yang terjadi sebaliknya, maka para investor akan mendapatkan konfirmasi: bahwa Indonesia memang benar-benar pasar yang bobrok dan layak untuk ditinggalkan. Maka saat itu, IHSG akan semakin jatuh semakin dalam.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prabowo dalam Tekanan! Media Asing Sebut Anies Baswedan Saat Rupiah dan IHSG Kompak Jebol

Prabowo dalam Tekanan! Media Asing Sebut Anies Baswedan Saat Rupiah dan IHSG Kompak Jebol

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 18:35 WIB

Rupiah-IHSG Ambruk, Purbaya Akui Kelemahannya Ada di Komunikasi Pemerintah

Rupiah-IHSG Ambruk, Purbaya Akui Kelemahannya Ada di Komunikasi Pemerintah

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 18:28 WIB

Kepercayaan Investor Asing Hilang, Rupiah dan IHSG Kompak Melemah Hari Ini

Kepercayaan Investor Asing Hilang, Rupiah dan IHSG Kompak Melemah Hari Ini

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 16:52 WIB

IHSG Hancur Lebur di Sesi 1, Saham BBCA dan Big Banks Catat Harga Termurah!

IHSG Hancur Lebur di Sesi 1, Saham BBCA dan Big Banks Catat Harga Termurah!

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 12:54 WIB

Rupiah Jebol Rp18.110 dan IHSG Ambles 3%, Pasar Tak Percaya Jurus Baru Perry dan Purbaya?

Rupiah Jebol Rp18.110 dan IHSG Ambles 3%, Pasar Tak Percaya Jurus Baru Perry dan Purbaya?

Bisnis | Senin, 08 Juni 2026 | 11:50 WIB

Terkini

OTT Bupati Lombok Barat, KPK Bawa 7 Orang ke Jakarta

OTT Bupati Lombok Barat, KPK Bawa 7 Orang ke Jakarta

News | Senin, 20 Juli 2026 | 17:37 WIB

7 Parfum dengan Aroma Floral yang Cocok untuk Acara Formal: Produk Lokal hingga High End

7 Parfum dengan Aroma Floral yang Cocok untuk Acara Formal: Produk Lokal hingga High End

Lifestyle | Senin, 20 Juli 2026 | 17:35 WIB

Peraperadioan Ditolak, Roy Suryo Tetap Jadi Tersangka Kasus Ijazah Jokowi

Peraperadioan Ditolak, Roy Suryo Tetap Jadi Tersangka Kasus Ijazah Jokowi

Foto | Senin, 20 Juli 2026 | 17:34 WIB

Antrean Mobile JKN Semrawut hingga Obat Kosong, Komnas HAM Beri Nilai 67,1 untuk BPJS

Antrean Mobile JKN Semrawut hingga Obat Kosong, Komnas HAM Beri Nilai 67,1 untuk BPJS

News | Senin, 20 Juli 2026 | 17:29 WIB

4 Produk Skincare Nacific untuk Samarkan Noda Hitam dan Mencerahkan Wajah Kusam

4 Produk Skincare Nacific untuk Samarkan Noda Hitam dan Mencerahkan Wajah Kusam

Lifestyle | Senin, 20 Juli 2026 | 17:28 WIB

Sindikat Scam Myanmar Jerat Ribuan WNI, Modus Kerja Ilegal Lewat Thailand

Sindikat Scam Myanmar Jerat Ribuan WNI, Modus Kerja Ilegal Lewat Thailand

News | Senin, 20 Juli 2026 | 17:27 WIB

Kegaduhan di Kementerian PU Dinilai Bisa Berujung Lengsernya Dody Hanggodo

Kegaduhan di Kementerian PU Dinilai Bisa Berujung Lengsernya Dody Hanggodo

Bisnis | Senin, 20 Juli 2026 | 17:22 WIB

Praperadilan Raudi Akmal Dimulai, Ampuh Pertanyakan Dua Alat Bukti Penetapan Tersangka

Praperadilan Raudi Akmal Dimulai, Ampuh Pertanyakan Dua Alat Bukti Penetapan Tersangka

Jogja | Senin, 20 Juli 2026 | 17:20 WIB

Harga Minyak Dunia Turun Begitu Iran Nyatakan Siap Negosiasi dengan Syarat

Harga Minyak Dunia Turun Begitu Iran Nyatakan Siap Negosiasi dengan Syarat

News | Senin, 20 Juli 2026 | 17:18 WIB

Prabowo Ungkap Prioritas Gaji Guru, PNS, dan Layanan Kesehatan

Prabowo Ungkap Prioritas Gaji Guru, PNS, dan Layanan Kesehatan

Video | Senin, 20 Juli 2026 | 17:15 WIB

×