- Bank Indonesia diprediksi mempertahankan suku bunga acuan di level 5,50 persen dalam rapat dewan gubernur hari ini.
- Keputusan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, serta merespons ketidakpastian kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
- Menahan suku bunga bertujuan menyeimbangkan beban ekonomi nasional tanpa harus membebani sektor perbankan dan konsumsi rumah tangga domestik.
Dalam kondisi tersebut, BI kemungkinan perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga lanjutan, meski keputusan tersebut akan sangat bergantung pada respons pasar dan pergerakan nilai tukar setelah pengumuman kebijakan The Fed.
![Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/25/18701-ilustrasi-kilang-minyak-harga-minyak-dunia-minyak.jpg)
Faktor lain yang mendukung keputusan mempertahankan suku bunga adalah meredanya harga minyak dunia setelah membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Penurunan harga minyak dinilai menguntungkan Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih karena dapat mengurangi kebutuhan devisa untuk impor energi, menekan inflasi, serta menjaga beban fiskal tetap terkendali.
Meski demikian, Josua menegaskan bahwa ruang untuk menurunkan suku bunga masih sangat terbatas.
Menurutnya, pemangkasan suku bunga saat kondisi rupiah masih rapuh dapat memberikan sinyal yang keliru kepada pasar dan berpotensi mengurangi daya tarik aset berdenominasi rupiah.
"Penurunan suku bunga juga dapat mempersempit daya tarik aset rupiah dan berisiko memicu kembali tekanan di pasar valas. Karena itu, peluang pemangkasan suku bunga dalam RDG kali ini hampir tidak realistis," ujarnya.
Ia menilai, keputusan yang paling tepat bagi Bank Indonesia adalah mempertahankan BI Rate di level 5,50 persen dengan komunikasi kebijakan yang tetap tegas.
BI perlu menegaskan bahwa ruang untuk kenaikan suku bunga tambahan masih terbuka apabila rupiah kembali melemah tajam, terjadi arus keluar modal asing, harga minyak kembali meningkat, atau The Fed mengadopsi kebijakan yang lebih ketat.
Dari sisi nilai tukar, keputusan menahan suku bunga diperkirakan akan memberikan dampak netral hingga positif terhadap rupiah selama disertai komunikasi yang kuat.
Komitmen BI dalam menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi terukur, optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), operasi pasar valas, serta pengelolaan likuiditas yang memadai diyakini dapat menjaga stabilitas mata uang domestik.
Sementara bagi perekonomian nasional, keputusan mempertahankan BI Rate dinilai lebih sehat dibandingkan melakukan kenaikan suku bunga secara beruntun.
![Ilustrasi KPR. [Suara.com/Linktown Property]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/30/93528-ilustrasi-rumah-ilustrasi-kpr.jpg)
Kenaikan suku bunga tambahan berpotensi meningkatkan bunga kredit, biaya dana perbankan, serta menekan konsumsi rumah tangga, kredit pemilikan rumah (KPR), pembiayaan kendaraan, modal kerja, dan investasi.
Di tengah tekanan inflasi dan melemahnya daya beli masyarakat, kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang tetap di level 5,50 persen diyakini dapat memberikan ruang penyesuaian bagi dunia usaha dan sektor perbankan sekaligus menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.