Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.665.000
Beli Rp2.535.000
IHSG 6.101,333
LQ45 598,429
Srikehati 292,525
JII 363,372
USD/IDR 17.863

Pupuk Indonesia Tembus Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dikebut hingga Akhir 2026

Mohammad Fadil Djailani

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:14 WIB
Pupuk Indonesia Tembus Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dikebut hingga Akhir 2026
Pupuk Indonesia Tembus Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dikebut hingga Akhir 2026. Foto ist.
baca 10 detik
  • Pupuk Indonesia kirim 47.250 ton urea ke Australia.
  • RI jadi pemasok pupuk andal di tengah krisis rantai pasok global.
  • Target ekspor urea ke Australia capai 250.000 ton hingga akhir 2026.

Suara.com - PT Pupuk Indonesia (Persero) berhasil merealisasikan pengiriman 47.250 ton urea ke Australia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok pupuk strategis di kawasan Indo-Pasifik.

Keberhasilan ekspor ini ditandai dengan tibanya kapal Motor Vessel (MV) Medi Luna di Pelabuhan Brisbane, Queensland, Australia, pada Senin (22/6/2026). Pengiriman tersebut menjadi tonggak penting implementasi kerja sama ekspor pupuk Indonesia-Australia melalui skema Government-to-Government (G-to-G).

Di tengah ketidakpastian rantai pasok pupuk global akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah, Indonesia dinilai mampu tampil sebagai pemasok yang andal dan stabil bagi negara-negara mitra.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Siswo Pramono, mengatakan pengiriman urea ke Australia merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan kawasan Indo-Pasifik.

Menurut dia, kerja sama tersebut menjadi simbol eratnya hubungan Indonesia dan Australia dalam menjaga ketahanan pangan di tengah berbagai tantangan global.

"Ketika rantai pasok global menghadapi tantangan, Indonesia dengan kapasitas produksi urea yang besar dapat membantu memenuhi kebutuhan Australia yang mencapai 3,7 juta ton per tahun," ujar Siswo.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menegaskan keberhasilan ekspor ini mencerminkan kemampuan Indonesia menjaga kontinuitas produksi dan pasokan pupuk di tengah dinamika global.

Menurut Rahmad, Indonesia mampu memberikan kepastian pasokan ketika banyak negara menghadapi ketidakpastian akibat gangguan rantai pasok internasional.

"Hari ini Indonesia menunjukkan bahwa kita adalah reliable supplier yang bisa menjadi sumber pasokan pupuk bagi negara mitra. Kita datang ketika mereka membutuhkan dan kita memberikan kepastian ketika dunia penuh ketidakpastian," kata Rahmad.

baca juga

Sebagai produsen pupuk dengan kapasitas mencapai 14,8 juta ton per tahun, Pupuk Indonesia memiliki ruang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan petani dalam negeri sekaligus melayani pasar ekspor. Pada 2026, produksi urea perusahaan ditargetkan mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik diperkirakan sekitar 6,3 juta ton.

Rahmad menegaskan ekspor dilakukan setelah kebutuhan pupuk nasional dipastikan aman sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

"Arahan dari Bapak Presiden adalah penuhi dulu kebutuhan pupuk dalam negeri untuk para petani kita. Kita memiliki kapasitas yang memang lebih besar dari kebutuhan petani di Indonesia," ujarnya.

Kondisi pasokan pupuk nasional juga terbilang kuat. Hingga 22 Juni 2026, stok pupuk bersubsidi tercatat mencapai 1,23 juta ton. Sementara itu, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai 4,61 juta ton atau melonjak 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pemerintah Australia menyambut positif kedatangan urea asal Indonesia tersebut. Chief Digital & Data Officer Kementerian Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Australia Amanda Chalmers menyebut pasokan pupuk dari Indonesia memberikan kepastian bagi petani Australia sekaligus memperkuat ketahanan pangan kawasan.

"Kedatangan urea dari Indonesia hari ini menjadi cerminan eratnya kemitraan serta persahabatan antara Australia dan Indonesia. Pasokan pupuk ini memberikan kepastian bagi para petani, sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan Australia dan kawasan yang lebih luas," kata Amanda.

Ekspor urea ke Australia merupakan tindak lanjut kesepakatan yang sebelumnya dibangun antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese. Pengiriman perdana dilakukan dari Dermaga BSL PT Pupuk Kalimantan Timur di Bontang, Kalimantan Timur, pada pertengahan Mei 2026.

Ke depan, realisasi ekspor akan dilakukan secara bertahap hingga mencapai 250.000 ton sepanjang 2026. Langkah ini semakin menegaskan peran Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok pupuk regional sekaligus memperkuat diplomasi pangan nasional di kawasan Indo-Pasifik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ekspor Mobil Buatan Indonesia Tancap Gas, Naik 31,4 Persen

Ekspor Mobil Buatan Indonesia Tancap Gas, Naik 31,4 Persen

Foto | Selasa, 23 Juni 2026 | 16:06 WIB

DSI Diam-diam Bertemu ke Sekuritas, Ini Dampaknya ke Saham Komoditas

DSI Diam-diam Bertemu ke Sekuritas, Ini Dampaknya ke Saham Komoditas

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 12:27 WIB

Bek Amerika Serikat Emosional Cetak Gol Piala Dunia, Kenang Jejak Sang Ayah di Seattle

Bek Amerika Serikat Emosional Cetak Gol Piala Dunia, Kenang Jejak Sang Ayah di Seattle

Bola | Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:38 WIB

Terkini

Pelemahan Tak Terbendung, Rupiah Hampir Balik Lagi ke Rp18.000

Pelemahan Tak Terbendung, Rupiah Hampir Balik Lagi ke Rp18.000

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:13 WIB

Purbaya Klaim Kemenkeu Belum Berencana Punya Saham BEI Meski Diizinkan UU P2SK

Purbaya Klaim Kemenkeu Belum Berencana Punya Saham BEI Meski Diizinkan UU P2SK

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 15:37 WIB

Purbaya Ngotot Tambah Layer Cukai untuk Legalisasi Rokok Ilegal

Purbaya Ngotot Tambah Layer Cukai untuk Legalisasi Rokok Ilegal

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 15:14 WIB

Bunga Kredit PNM Mekaar Turun Jadi 8 Persen, OJK Mendadak Beri Peringatan

Bunga Kredit PNM Mekaar Turun Jadi 8 Persen, OJK Mendadak Beri Peringatan

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:37 WIB

Evaluasi MBG, Luhut Soroti Pelaksanaan Serentak

Evaluasi MBG, Luhut Soroti Pelaksanaan Serentak

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:35 WIB

Purbaya Respons Isu Tarik Dana SAL Milik Pemerintah dari Perbankan

Purbaya Respons Isu Tarik Dana SAL Milik Pemerintah dari Perbankan

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:26 WIB

Pemerintah Siapkan Rp815 Miliar untuk Program Kompor Listrik, Upayakan Tidak Impor

Pemerintah Siapkan Rp815 Miliar untuk Program Kompor Listrik, Upayakan Tidak Impor

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:18 WIB

Rute Lengkap KRL, TransJakarta dan Mikrotrans Menuju ke JIS

Rute Lengkap KRL, TransJakarta dan Mikrotrans Menuju ke JIS

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 13:49 WIB

Daftar Saham yang Meroket di Tengah Koreksi IHSG Sesi I

Daftar Saham yang Meroket di Tengah Koreksi IHSG Sesi I

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 13:32 WIB

Gas Mahal Picu PHK 55 Ribu Buruh, ESDM: Industri yang Mana Dulu!

Gas Mahal Picu PHK 55 Ribu Buruh, ESDM: Industri yang Mana Dulu!

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 13:08 WIB