- Kementerian ESDM menjamin ketersediaan pasokan BBM bersubsidi jenis Pertalite tetap aman pasca kenaikan harga Pertamax pada Juni 2026.
- Dirjen Migas Laode Sulaeman menyatakan pemerintah telah melakukan mitigasi melalui percepatan pengiriman stok BBM ke berbagai SPBU.
- Langkah percepatan distribusi dilakukan untuk mengelola peningkatan konsumsi masyarakat guna mencegah antrean panjang di wilayah Jakarta.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pasokan BBM bersubsidi jenis Pertalite dalam kondisi aman.
Jaminan ini diberikan di tengah potensi adanya pergeseran konsumsi dari BBM nonsubsidi, setelah PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga Pertamax series terhitung sejak 10 Juni 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyebut pemerintah telah memitigasi pergeseran konsumsi BBM non subsidi ke subsidi.
"Sudah (ada mitigasi), bahkan semalam, dari sore dari siang hingga semalam tim bekerja 24 jam ya, khususnya tim BPH Migas. Jadi, bekerja 24 jam memastikan ke Pertamina agar waktu pengiriman (Pertalite) dipercepat," kata Laode saat ditemui wartawan di Kementerian ESDM, Jakarta pada Jumat (26/6/2026).
![Pengendara mengisi bensin untuk kendaraannya di SPBU Pertamina, kawasan Palmerah, Jakarta, Jumat (8/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/08/56716-bbm-kenaikan-harga-bbm-spbu-pertamina-ilustrasi-bbm-ilustrasi-spbu-ilustrasi-pertalite.jpg)
Ia menjelaskan percepatan pengiriman dilakukan guna mencegah antrian panjang di SPBU karena adanya peningkatan konsumsi BBM bersubsidi.
"Karena kan intinya ini setiap hari dikirim sejumlah itu, tapi karena yang butuh panjang maka jumlahnya kan jadi harus cepat dipasok agar tidak terjadi antrian yang panjang. Dan semalam saya dapat info dari Kepala SKK Migas sudah ada kondisi yang lebih normal dari pada saat siang dan sore," jelasnya.
Oleh karena itu, ia memastikan stok BBM bersubsidi saat ini dalam kondisi aman. Menurutnya, fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga tata kelola dan pola distribusinya.
"Masih sesuai. Sesuainya kalau realisasi konsumsi kan, kalau kita kan menjaga stok. Jangan sampai stoknya tidak tersedia, tapi kenyataan kan stok semua tersedia. Hanya bagaimana kita memanage pola suplainya ke konsumen ini biar tidak terjadi antrian yang panjang," pungkasnya.
- Pasokan HGBT Menipis, Apa Aksi Bahlil?
Baca Juga