- Kemenperin mencatat kenaikan BI Rate menjadi 5,75 persen memicu peningkatan tingkat pesimisme pelaku industri pada Juni 2026.
- Hasil survei IKI menunjukkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek enam bulan ke depan melambat menjadi 68,6 persen.
- Kenaikan suku bunga saat ini baru memengaruhi persepsi pelaku usaha dan belum berdampak langsung pada aktivitas industri.
Suara.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,75 persen mulai memengaruhi persepsi pelaku industri terhadap prospek usaha enam bulan ke depan. Meski dampaknya belum dirasakan secara langsung, tingkat pesimisme pelaku usaha tercatat meningkat.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, hasil survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2026 menunjukkan optimisme pelaku usaha masih mendominasi. Namun, tingkat optimisme mulai melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
"Optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usahanya enam bulan ke depan sedikit menurun dibandingkan beberapa bulan terakhir, yaitu sebesar 68,6 persen. Angka ini melambat 1,3 persen dibandingkan persentase bulan sebelumnya. Sebanyak 23,1 persen pelaku usaha menyatakan kondisi usahanya stabil, sedangkan persentase pesimisme naik 1 persen menjadi 8,4 persen," kata Febri kepada wartawan, Rabu (1/7/2026).
![Bank Indonesia. [Suara.com/Angga Budhiyanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/09/17/69964-bank-indonesia.jpg)
Menurut dia, kenaikan tingkat pesimisme tersebut merupakan respons industri terhadap keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,75 persen.
"Kami menilai bahwa naiknya tingkat pesimisme sebesar 1 persen dari 7,4 persen Mei 2026 sampai Juni 2026 adalah bentuk respons industri terhadap kenaikan BI Rate. Meskipun sampai saat ini kenaikan BI Rate belum dirasakan oleh industri, tapi untuk beberapa bulan ke depan respons industri adalah seperti ini. Dan menurut kami ini adalah sesuatu yang wajar," ungkapnya.
Dalam sesi tanya jawab, Febri menjelaskan dampak kenaikan BI Rate yang ditangkap Kemenperin saat ini masih sebatas persepsi pelaku usaha, belum berdampak langsung terhadap aktivitas industri.
"Dampaknya itu terhadap persepsi pelaku usaha yang tertangkap oleh IKI, ekspektasi usaha untuk enam bulan ke depan. Di mana yang pesimisme itu naik 1 persen. Tapi yang optimis masih tetap banyak," katanya.
Ia menilai pelaku industri memperkirakan kenaikan BI Rate akan diikuti penyesuaian suku bunga kredit perbankan sehingga dapat memengaruhi konsumsi masyarakat.
"Ya bisa begitu. Tapi dampaknya itu kan masih akan lama. Kita menilai mungkin bank-bank menyalurkan kredit konsumsi itu juga akan menaikkan suku bunganya. Dan itu tekanan terhadap daya beli masyarakat. Tapi untuk BI Rate sejauh ini dampaknya yang tertangkap oleh kami baru pada persepsi, ekspektasi usaha ke depan. Masih pada persepsi," ungkap Febri.