Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Ekonom Beri Peringatan Soal Kebijakan B50: Lihat Peluang yang Dikorbankan

M Nurhadi

Minggu, 05 Juli 2026 | 20:43 WIB
Ekonom Beri Peringatan Soal Kebijakan B50: Lihat Peluang yang Dikorbankan
Ilustrasi. [Dokumentasi TAPG].
baca 10 detik
  • Pemerintah Indonesia berencana menerapkan kebijakan mandatori biodiesel B50 pada tahun 2026 untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar solar.
  • Ekonom CORE menyarankan pemerintah menghitung biaya peluang dari hilangnya devisa ekspor CPO agar evaluasi ekonomi lebih akurat.
  • Efektivitas fiskal program bergantung pada fluktuasi harga komoditas global serta keberlanjutan pendanaan internal melalui pungutan ekspor sawit.

Suara.com - Rencana implementasi kebijakan mandatori biodiesel B50 pada tahun 2026 disarankan untuk dikaji secara lebih menyeluruh.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan pemerintah agar tidak sekadar berfokus pada kalkulasi penghematan impor bahan bakar solar, melainkan juga wajib menghitung biaya peluang (opportunity cost) akibat menyusutnya volume ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Yusuf menjelaskan bahwa evaluasi program B50 perlu menyentuh variabel makro yang lebih luas demi memastikan dampak riilnya terhadap perekonomian nasional dapat terukur secara akurat dan objektif.

“Ukuran keberhasilan program tidak cukup hanya membandingkan penghematan impor dengan besarnya subsidi, melainkan juga harus memasukkan biaya peluang dari ekspor yang dikorbankan,” tegas Yusuf, dikutip dari ANTARA di Jakarta, Minggu (5/7/2026).

Pemerintah sebelumnya memproyeksikan bahwa penerapan B50 di dalam negeri berpotensi mengamankan devisa negara hingga Rp157,28 triliun pada tahun 2026 berkat berkurangnya ketergantungan pada impor solar.

Di waktu yang sama, kebutuhan alokasi insentif biodiesel yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) diperkirakan berada di kisaran Rp32 triliun.

Secara matematis, perbandingan tersebut memang memperlihatkan keuntungan ekonomi neto yang besar bagi Indonesia. Namun, Yusuf menilai kalkulasi tersebut belum mencerminkan realitas biaya ekonomi yang seutuhnya.

Menurutnya, nilai bersih penghematan impor mestinya dikurangi dengan potensi hilangnya pendapatan devisa dari sektor ekspor. Sebab, sebagian besar pasokan CPO yang biasanya dijual ke pasar internasional kini harus dialihkan demi memenuhi kebutuhan bahan baku bahan bakar nabati di dalam negeri.

Lebih lanjut, CORE menyoroti bahwa efektivitas fiskal dari program B50 ini akan sangat bergantung pada dinamika harga komoditas global, khususnya jarak (spread) antara harga jual CPO dan minyak bumi dunia.

baca juga
  • Skenario Menguntungkan: Saat harga minyak mentah dunia melonjak tinggi dan harga CPO cenderung melandai, produk biodiesel menjadi jauh lebih kompetitif sehingga beban subsidi yang ditanggung otomatis berkurang.
  • Skenario Berisiko: Apabila harga CPO internasional melesat naik sementara harga minyak mentah justru jatuh, biaya operasional program dipastikan membengkak. Oleh karena itu, pemerintah diminta cermat memitigasi risiko fiskal dari ketidakpastian pasar global ini.

Ancaman Jangka Panjang Pendanaan BPDPKS

Meskipun pembiayaan insentif B50 disalurkan melalui kantong BPDPKS tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara langsung, Yusuf mengingatkan bahwa modal utama lembaga tersebut ditopang oleh pungutan ekspor produk sawit.

Jika penyerapan domestik digenjot dan volume ekspor melemah, maka sumber pendapatan dana sawit milik BPDPKS berisiko ikut tergerus.

Yusuf mengimbau pemerintah untuk menjaga kualitas tata kelola alokasi anggaran ini agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.

Jika porsi dana jorjoran habis hanya untuk menyubsidi konsumsi bensin biodiesel sementara porsi investasi untuk mendongkrak produktivitas perkebunan sawit rakyat justru dikesampingkan, maka tujuan utama ketahanan energi dan kesejahteraan petani dikhawatirkan tidak akan tercapai secara optimal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ekspor CPO Dapat Angin Segar, Pemerintah Turunkan Bea Keluar Juli 2026

Ekspor CPO Dapat Angin Segar, Pemerintah Turunkan Bea Keluar Juli 2026

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 19:11 WIB

B50 Resmi Disalurkan ke Industri, Pertambangan Jadi Penerima Perdana

B50 Resmi Disalurkan ke Industri, Pertambangan Jadi Penerima Perdana

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 15:52 WIB

Komponen Mobil Diesel yang Perlu Diperhatikan saat Beralih ke B50

Komponen Mobil Diesel yang Perlu Diperhatikan saat Beralih ke B50

Otomotif | Kamis, 02 Juli 2026 | 21:14 WIB

Prabowo Bakal Resmikan B50 Pekan Depan

Prabowo Bakal Resmikan B50 Pekan Depan

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 19:53 WIB

B50 Resmi Jalan, Ekonom UGM Ingatkan Ancaman APBN, Minyak Goreng hingga Deforestasi

B50 Resmi Jalan, Ekonom UGM Ingatkan Ancaman APBN, Minyak Goreng hingga Deforestasi

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:54 WIB

BBM B50 Resmi Mulai Didistribusikan ke SPBU, Peluncuran Tinggal Tunggu Prabowo

BBM B50 Resmi Mulai Didistribusikan ke SPBU, Peluncuran Tinggal Tunggu Prabowo

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 12:29 WIB

Terkini

CORE Soroti Rencana Pembatasan Pertalite, Data BPS Diminta Jadi Patokan

CORE Soroti Rencana Pembatasan Pertalite, Data BPS Diminta Jadi Patokan

Bisnis | Senin, 24 Agustus 2026 | 18:40 WIB

Tragedi 5 Laga Tanpa Kemenangan: Saat Kehadiran Lionel Messi Tak Lagi Menakutkan di MLS

Tragedi 5 Laga Tanpa Kemenangan: Saat Kehadiran Lionel Messi Tak Lagi Menakutkan di MLS

Your Say | Senin, 24 Agustus 2026 | 18:40 WIB

Jurus Rudy Susmanto Tekan Pengangguran Bogor: Gandeng SKPD, Cetak Ribuan Wirausaha Baru

Jurus Rudy Susmanto Tekan Pengangguran Bogor: Gandeng SKPD, Cetak Ribuan Wirausaha Baru

Bogor | Senin, 24 Agustus 2026 | 18:39 WIB

Masuk Babak Akhir, Putusan Praperadilan Febrie Adriansyah Dibacakan Kamis

Masuk Babak Akhir, Putusan Praperadilan Febrie Adriansyah Dibacakan Kamis

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 18:37 WIB

Kualitas Udara Pekanbaru Masih Tidak Sehat, Warga Diminta Batasi Aktivitas

Kualitas Udara Pekanbaru Masih Tidak Sehat, Warga Diminta Batasi Aktivitas

Riau | Senin, 24 Agustus 2026 | 18:32 WIB

Polda Metro Bantah Tangkap Botok di DPR, Sebut Hanya Dampingi Urus Izin Kegiatan

Polda Metro Bantah Tangkap Botok di DPR, Sebut Hanya Dampingi Urus Izin Kegiatan

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 18:28 WIB

Tegas! Prabowo Minta 3 Tersangka Kasus Karhutla Riau Dipindahkan ke Jakarta

Tegas! Prabowo Minta 3 Tersangka Kasus Karhutla Riau Dipindahkan ke Jakarta

Video | Senin, 24 Agustus 2026 | 18:26 WIB

Pasca Gempa NTT, Gibran Siapkan Keringanan Kredit bagi Warga Terdampak

Pasca Gempa NTT, Gibran Siapkan Keringanan Kredit bagi Warga Terdampak

Video | Senin, 24 Agustus 2026 | 18:25 WIB

Menhut dan Menteri LH Absen Rapat Karhutla, Istana Beri Penjelasan

Menhut dan Menteri LH Absen Rapat Karhutla, Istana Beri Penjelasan

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 18:23 WIB

Ekonom Nilai Target Pajak Naik 12% di RAPBN 2027 Tak Realistis

Ekonom Nilai Target Pajak Naik 12% di RAPBN 2027 Tak Realistis

Bisnis | Senin, 24 Agustus 2026 | 18:23 WIB

×