Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.501,585
LQ45 638,736
Srikehati 310,420
JII 390,270
USD/IDR 17.774

Kementerian ESDM Terus Tunda Pengesahan RKAB Batubara, Pemadaman Listrik Masih Mengintai

Liberty Jemadu, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Selasa, 07 Juli 2026 | 18:40 WIB
Kementerian ESDM Terus Tunda Pengesahan RKAB Batubara, Pemadaman Listrik Masih Mengintai
Kekurangan pasokan batubara PLN disebabkan keterlambatan pengesahan RKAB dan pemotongan kuota produksi oleh Kementerian ESDM sepanjang tahun 2026. . [Antara]
baca 10 detik
  • Kekurangan pasokan batubara PLN disebabkan keterlambatan pengesahan RKAB dan pemotongan kuota produksi oleh pemerintah sepanjang tahun 2026.
  • Disparitas harga jual DMO yang tetap sejak 2018 membebani biaya operasional tambang di tengah lonjakan harga kebutuhan produksi.
  • Pengamat menyarankan percepatan pengesahan RKAB dan penyesuaian harga DMO untuk menjamin stabilitas pasokan listrik nasional di masa depan.

Suara.com - Pengamat pertambangan Rizal Kasli menilai kekurangan pasokan batubara yang sempat dialami PT PLN (Persero) hingga memicu pemadaman bergilir disebabkan oleh sejumlah tantangan pada industri hulu. Hambatan tersebut di antaranya keterlambatan pengesahan RKAB batubara serta pemotongan kuota produksi.

Menurut Rizal, faktor-faktor tersebut berdampak langsung pada defisit pasokan untuk kebutuhan dalam negeri atau Domestic Market Obligasi (DMO), khususnya bagi PLN.

"Yang pertama kita sudah tahu bahwa ada keterlambatan pengesahan RKAB. Kemudian pemotongan kuota. Ini banyak perusahaan-perusahaan dipotong kuota produksi oleh pemerintah," kata Rizal dalam diskusi bertajuk 'Menjaga Pasokan Batubara untuk Kebutuhan Nasional' yang digelar ASPEBINDO di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Sebagai catatan, pemerintah menetapkan target produksi batubara dalam RKAB 2026 sebesar 600 juta ton, meskipun Menteri ESDM Bahlil Lahadalia belakangan menyatakan membuka peluang untuk melakukan relaksasi kuota.

Selain masalah regulasi, disparitas harga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku industri. Rizal menyebut terdapat selisih yang jauh antara harga pasar global dengan harga patokan DMO untuk PLN yang dipatok maksimal USD 70 per ton dan tidak berubah sejak 2018.

Padahal, biaya operasional penambang terus melonjak akibat kenaikan harga solar, suku cadang, serta pelemahan nilai tukar rupiah.

Untuk mengantisipasi agar krisis pasokan tidak berulang, Rizal mengusulkan sejumlah solusi. Salah satunya adalah mendorong pemerintah mempercepat pengesahan RKAB untuk periode tahun depan.

"Jadi kami mengusulkan. Terutama ada pengesahan RKAB 2027, dan penugasan ya. Penugasan pemenuhan batubara untuk DMO, itu harus selesai pada akhir tahun 2026. Jangan tunggu 2027," tuturnya.

Solusi lainnya meliputi penyesuaian harga DMO yang tidak berubah sejak 2018, serta kajian mendalam mengenai peta sebaran tambang di Sumatera dan Kalimantan yang spesifikasi kalorinya sesuai dengan kebutuhan teknis PLTU milik PLN.

baca juga

Di sisi lain, PLN juga diminta menjamin ketepatan waktu pembayaran kepada perusahaan pemasok guna menjaga stabilitas arus kas operasional tambang.

"Karena ada beberapa teman mengeluh agak lama katanya di PLN," kata Rizal.

Tata kelola RKAB Batubara harus dibenahi

Sebelumnya pada pekan lalu Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) juga mendesak dilakukannya pembenahan tata kelola RKAB batubara guna menjamin kepastian pasokan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Ketua Bidang Hubungan Industri Perhapi Ardhi Ishak Koesen menyatakan evaluasi atas pemadaman listrik di sistem Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) merupakan momentum bagi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memastikan proses persetujuan RKAB tidak mengganggu kepastian pasokan batu bara untuk PLTU.

"Dengan adanya ketidakpastian angka produksi batu bara yang bisa dikerjakan oleh pemegang konsesi, pengiriman batu bara untuk pasar domestik (DMO) juga terganggu," kata Ardhi dalam keterangannya di Jakarta.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

RI Sebenarnya Punya Senjata untuk Mitigasi Pemadaman Listrik

RI Sebenarnya Punya Senjata untuk Mitigasi Pemadaman Listrik

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:50 WIB

Tiga Pulau Padam dalam Dua Bulan: Ada Apa dengan Listrik Indonesia?

Tiga Pulau Padam dalam Dua Bulan: Ada Apa dengan Listrik Indonesia?

News | Selasa, 07 Juli 2026 | 10:59 WIB

Cegah Mati Lampu, PLN Modif PLTU Bisa Pakai Batu Bara Kelas Rendah

Cegah Mati Lampu, PLN Modif PLTU Bisa Pakai Batu Bara Kelas Rendah

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:52 WIB

Stok Batu Bara Normal, Bos PLN Janji Tak Ada Mati Lampu

Stok Batu Bara Normal, Bos PLN Janji Tak Ada Mati Lampu

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 19:48 WIB

Pemadaman Listrik Hambat Industri Manufaktur di Juni 2026

Pemadaman Listrik Hambat Industri Manufaktur di Juni 2026

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 20:06 WIB

Terkini

Persib Bandung di Ujung Tanduk, Kalah dari Manila Diggers Bisa Bikin Turun ke Kasta Ketiga Asia

Persib Bandung di Ujung Tanduk, Kalah dari Manila Diggers Bisa Bikin Turun ke Kasta Ketiga Asia

Bola | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 13:55 WIB

Pengguna Qlola Tumbuh 42,6 Persen, BRI Hadirkan Tampilan Baru untuk Nasabah Bisnis

Pengguna Qlola Tumbuh 42,6 Persen, BRI Hadirkan Tampilan Baru untuk Nasabah Bisnis

Kalbar | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 13:53 WIB

Bias dalam Rekrutmen: Mengapa Status Pernikahan Membatasi Peluang Kerja?

Bias dalam Rekrutmen: Mengapa Status Pernikahan Membatasi Peluang Kerja?

Your Say | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 13:50 WIB

BRI Group Raih Enam Penghargaan Bergengsi di Asia's Best Companies dan Finance Asia 2026

BRI Group Raih Enam Penghargaan Bergengsi di Asia's Best Companies dan Finance Asia 2026

Bisnis | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 13:49 WIB

Pengguna Qlola Tembus 99 Ribu, BRI Perkuat Platform Digital bagi Nasabah Bisnis

Pengguna Qlola Tembus 99 Ribu, BRI Perkuat Platform Digital bagi Nasabah Bisnis

Batam | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 13:49 WIB

Sony FX5 Ubah Kamera Sinema Jadi Lebih Ringkas, Bawa Open Gate dan RAW Internal

Sony FX5 Ubah Kamera Sinema Jadi Lebih Ringkas, Bawa Open Gate dan RAW Internal

Tekno | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 13:48 WIB

Imigrasi Sumut Tingkatkan Pengawasan Sampai ke Desa, Pimpasa Jadi Garda Pencegahan TPPO dan TPPM

Imigrasi Sumut Tingkatkan Pengawasan Sampai ke Desa, Pimpasa Jadi Garda Pencegahan TPPO dan TPPM

Sumut | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 13:44 WIB

Subsidi Energi 2027 Membengkak, Beban APBN Makin Berat

Subsidi Energi 2027 Membengkak, Beban APBN Makin Berat

Bisnis | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 13:43 WIB

Disorot Jadi Biang Polusi Jakarta, Banten Siapkan Langkah Tekan Emisi PLTU Suralaya

Disorot Jadi Biang Polusi Jakarta, Banten Siapkan Langkah Tekan Emisi PLTU Suralaya

News | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 13:43 WIB

Qlola New Skin Bawa Pengalaman Digital Baru, BRI Perkuat Konektivitas Layanan Bisnis

Qlola New Skin Bawa Pengalaman Digital Baru, BRI Perkuat Konektivitas Layanan Bisnis

Bali | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 13:43 WIB

×