Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.630.000
Beli Rp2.525.000
IHSG 5.916,070
LQ45 584,483
Srikehati 289,903
JII 349,817
USD/IDR 17.994

Pemerintah Diminta Evaluasi Dampak Komisi Ojol 8 Persen Selama Enam Bulan

Mohammad Fadil Djailani

Selasa, 07 Juli 2026 | 15:45 WIB
Pemerintah Diminta Evaluasi Dampak Komisi Ojol 8 Persen Selama Enam Bulan
Pengemudi ojek daring menunggu penumpang di Stasiun Sudirman, Jakarta, Senin (20/5/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Evaluasi 3-6 bulan diperlukan ukur dampak komisi 8 persen.
  • Pendapatan driver dinilai belum tentu langsung meningkat.
  • Ekonom minta aturan hukum segera diterbitkan agar ada kepastian.

Suara.com - Ekonom Universitas Airlangga (Unair) sekaligus peneliti Research Institute of Socio-Economic Development (RISED), Rumayya Batubara, meminta pemerintah tidak terburu-buru menyimpulkan keberhasilan kebijakan pembatasan komisi aplikasi ojek online (ojol) menjadi maksimal 8 persen. Menurutnya, kebijakan yang mulai diterapkan aplikator sejak 1 Juli 2026 itu perlu dievaluasi dalam kurun waktu tiga hingga enam bulan.

Rumayya mengatakan, masa evaluasi diperlukan untuk mengukur dampak riil kebijakan terhadap seluruh pelaku dalam ekosistem transportasi daring, mulai dari pengemudi, konsumen hingga perusahaan aplikator.

"Pemerintah perlu memberi waktu, misalnya 3 sampai 6 bulan, untuk mengevaluasi dampaknya. Kebijakan publik yang baik bukan hanya terlihat berpihak, tetapi juga harus bisa dijalankan dan berkelanjutan," kata Rumayya kepada wartawan, Selasa (7/7/2026).

Menurut dia, evaluasi harus mencakup sejumlah indikator penting, seperti apakah pendapatan pengemudi benar-benar meningkat, bagaimana perkembangan jumlah pesanan konsumen, apakah tarif berubah, apakah platform fee kepada konsumen mengalami kenaikan, hingga apakah model bisnis perusahaan aplikator masih dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan.

Rumayya menilai, secara prinsip kebijakan pembatasan komisi menjadi 8 persen memang memberikan sinyal positif karena porsi pendapatan yang diterima pengemudi menjadi lebih besar. Namun, hal itu tidak otomatis membuat penghasilan pengemudi meningkat secara signifikan.

Ia menjelaskan, perusahaan aplikator masih memiliki ruang melakukan berbagai penyesuaian, termasuk menurunkan tarif ke batas bawah untuk menjaga permintaan tetap tinggi dan memastikan harga yang dibayar konsumen tidak melonjak.

"Aplikator juga bisa menyesuaikan tarif dasar agar harga ke konsumen tetap terjangkau. Artinya, yang harus dilihat bukan hanya angka komisi, tetapi take-home pay driver: berapa pendapatan bersih driver per trip, per jam, dan per hari setelah memperhitungkan bensin, waktu tunggu, jarak kosong, perawatan kendaraan, dan biaya lain," ujarnya.

Karena itu, Rumayya menilai indikator keberhasilan kebijakan tidak cukup hanya melihat besaran komisi yang dipotong aplikator. Pemerintah juga harus menghitung pendapatan bersih yang benar-benar diterima pengemudi setelah seluruh biaya operasional diperhitungkan.

Di sisi lain, ia berpandangan dampak terhadap konsumen masih relatif dapat dikendalikan selama kebijakan tersebut hanya diterapkan pada layanan transportasi roda dua atau ojol penumpang. Menurutnya, aplikator masih memiliki fleksibilitas untuk menjaga tarif tetap kompetitif.

baca juga

Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru memperluas kebijakan serupa ke layanan lain seperti taksi online, pengantaran makanan, logistik maupun layanan digital lainnya.

"Saya tidak menyarankan kebijakan ini langsung diperluas ke R4 atau taksi online, jasa pengantaran makanan, logistik, atau layanan lain. Karakter bisnisnya berbeda. Struktur biaya, margin, subsidi, merchant fee, dan perilaku konsumennya juga berbeda," katanya.

Menurut Rumayya, penyamarataan kebijakan justru berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem digital yang memiliki karakteristik bisnis berbeda-beda.

"Kalau dipukul rata, risikonya bisa mengganggu ekosistem yang lebih luas. Jadi untuk saat ini fokus dulu pada R2 atau ojol penumpang. Jangan ada perubahan besar lain dulu. Jangan langsung menambah kebijakan baru sebelum dampaknya dikaji," ujarnya.

Lebih lanjut, Rumayya menilai langkah sejumlah perusahaan aplikator yang telah menerapkan komisi maksimal 8 persen meski regulasi resminya belum diterbitkan menunjukkan adanya kepatuhan terhadap arah kebijakan pemerintah.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya pemerintah segera menerbitkan dasar hukum yang jelas agar implementasi kebijakan tidak menimbulkan ketidakpastian bagi seluruh pelaku usaha.

"Presiden sudah menyampaikan komitmen publik bahwa pendapatan driver perlu diperbaiki, salah satunya melalui skema 92 persen untuk driver dan maksimal 8 persen untuk aplikator. Namun, dari sisi tata kelola, tetap perlu ada kepastian hukum. Naskah resmi dan aturan teknis harus segera jelas agar tidak muncul ruang abu-abu dalam implementasi," tutup Rumayya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mahfud MD Sentil Fenomena UU 'Simsalabim', Komisi II DPR Langsung Buka Suara

Mahfud MD Sentil Fenomena UU 'Simsalabim', Komisi II DPR Langsung Buka Suara

News | Selasa, 07 Juli 2026 | 14:49 WIB

Bukan Cuma Thamrin, Shelter Ojol Gratis 24 Jam Bakal Menjamur di Terminal dan Stasiun

Bukan Cuma Thamrin, Shelter Ojol Gratis 24 Jam Bakal Menjamur di Terminal dan Stasiun

News | Selasa, 07 Juli 2026 | 14:28 WIB

Hakim yang Vonis Nadiem Makarim Dilaporkan ke KY, Ada Bukti Rekaman Ketiduran Saat Sidang

Hakim yang Vonis Nadiem Makarim Dilaporkan ke KY, Ada Bukti Rekaman Ketiduran Saat Sidang

News | Senin, 06 Juli 2026 | 19:09 WIB

Terkini

Saham Tambang Kembali Bersinar, AMMN, ANTM, Hingga BUMI Potensi Cuan Gede

Saham Tambang Kembali Bersinar, AMMN, ANTM, Hingga BUMI Potensi Cuan Gede

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:44 WIB

Rampungkan Streamlining 10 Entitas, Telkom Perkuat Transformasi Jadi Strategic Holding

Rampungkan Streamlining 10 Entitas, Telkom Perkuat Transformasi Jadi Strategic Holding

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:43 WIB

Zulhas Dorong Sektor Lain Ikuti Langkah Cepat Jalankan Perdagangan Karbon

Zulhas Dorong Sektor Lain Ikuti Langkah Cepat Jalankan Perdagangan Karbon

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:40 WIB

Pelaku Usaha Kembali Dibikin Pusing Pemerintah, Pajak Air Tanah Naik

Pelaku Usaha Kembali Dibikin Pusing Pemerintah, Pajak Air Tanah Naik

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:36 WIB

Bolak-balik Masuk BUMN, Faik Fahmi Kini Jadi Bos Pelita Air

Bolak-balik Masuk BUMN, Faik Fahmi Kini Jadi Bos Pelita Air

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:31 WIB

Telkom Perkuat Transformasi Digital UMKM di Wilayah 3T Lewat Rural Youth AI Facilitator

Telkom Perkuat Transformasi Digital UMKM di Wilayah 3T Lewat Rural Youth AI Facilitator

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:18 WIB

Purbaya Umumkan Defisit APBN Tembus Rp 196,5 Triliun di Semester I 2026

Purbaya Umumkan Defisit APBN Tembus Rp 196,5 Triliun di Semester I 2026

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:16 WIB

Tentang PFII dan Ambisi Bangun Pusat Finansial Pesaing Dubai

Tentang PFII dan Ambisi Bangun Pusat Finansial Pesaing Dubai

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:09 WIB

Komisaris Tanpa Kompetensi Hanya Jadi Beban bagi BUMN

Komisaris Tanpa Kompetensi Hanya Jadi Beban bagi BUMN

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:01 WIB

Ajak Istri dan Anak Kunker Ke New York, Apakah Menteri PU Langgar Aturan Menkeu?

Ajak Istri dan Anak Kunker Ke New York, Apakah Menteri PU Langgar Aturan Menkeu?

Bisnis | Selasa, 07 Juli 2026 | 14:41 WIB

×