- Pengamat Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah terdepresiasi pekan depan akibat penguatan indeks dolar dan ketegangan geopolitik global yang meningkat.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan kebijakan suku bunga agresif The Fed menjadi faktor utama penekan rupiah.
- Pelemahan nilai tukar rupiah berdampak langsung pada kenaikan harga logam mulia ritel di pasar domestik Indonesia tersebut.
Suara.com - Rupiah diproyeksikan menghadapi tekanan berat pada pekan depan. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprakirakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi melaju kuat seiring memanasnya situasi geopolitik global, yang pada gilirannya akan menekan nilai tukar rupiah serta memicu lonjakan harga logam mulia ritel di dalam negeri.
Secara teknikal, indeks dolar AS dalam sepekan ke depan diproyeksikan bergerak dalam rentang support 99,90 hingga resistance 102,30.
Meskipun pada penutupan perdagangan Jumat (10/7/2026) rupiah di pasar spot sempat menguat tipis 0,35 persen ke level Rp18.065 per dolar AS, namun secara akumulatif dalam sepekan mata uang garuda telah melemah 0,56 persen dari posisi pekan lalu di level Rp17.963.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia juga merekam tren serupa, di mana rupiah bertengger di Rp18.069 per dolar AS pada akhir pekan setelah melemah 0,60 persen dalam basis mingguan.
Ibrahim menilai penguatan akhir pekan tersebut bersifat sementara dan memproyeksikan rupiah kembali terdepresiasi pada pekan depan akibat kuatnya sentimen negatif eksternal.
“Rupiah dalam sepekan ke depan itu ditransaksikan kemungkinan di Rp17.870 sampai Rp18.300-an (per dolar AS),” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Minggu (12/7/2026).
Pelemahan nilai tukar rupiah ini dipastikan akan berdampak langsung pada harga emas dan logam mulia di pasar domestik. Ketika rupiah melemah, biaya importasi dan konversi bahan baku komoditas emas menjadi lebih mahal dalam mata uang lokal.
Ibrahim memproyeksikan harga logam mulia domestik akan bergerak di level support Rp2.570.000 per gram dan berpotensi menyentuh resistance di angka Rp2.800.000 per gram.
“Jadi penguatan harga logam mulia ritel ini disebabkan oleh melemahnya mata uang rupiah,” jelasnya.
Dua Faktor Utama: Penutupan Selat Hormuz dan Sikap Hawkish The Fed
Fluktuasi tajam pada indeks dolar, rupiah, hingga minyak mentah dunia pekan depan dipengaruhi oleh dua faktor utama:
Eskalasi Militer di Timur Tengah
Ketegangan geopolitik mencapai titik kritis setelah militer AS melancarkan serangan udara ke sejumlah target di Iran bertepatan dengan masa libur nasional pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.
Langkah ini dibalas oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang mengeluarkan pernyataan resmi pada Minggu pagi untuk menutup total jalur pelayaran strategis Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan.
Penyegelan Selat Hormuz dipastikan langsung memukul rantai pasok distribusi minyak mentah dunia mulai Senin besok. Akibatnya, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diproyeksikan bergejolak tinggi pada rentang support US$62,30 per barel dan resistance hingga US$82,20 per barel.
Kebijakan Suku Bunga Bank Sentral AS
Sentimen global kian diperparah oleh sikap tegas Bank Sentral AS (The Fed). Otoritas moneter Negeri Paman Sam tersebut berkomitmen penuh untuk menjaga stabilitas harga dan menyatakan siap mengambil tindakan agresif guna menekan ekspektasi inflasi jangka panjang, yang memberi sinyal bahwa era suku bunga tinggi masih akan bertahan lebih lama.