- Pasukan Amerika Serikat dan Iran terlibat aksi saling balas serangan rudal dan drone di Timur Tengah pada Minggu, 12 Juli 2026.
- Iran menutup Selat Hormuz dan menyerang fasilitas strategis di beberapa negara Teluk, termasuk Qatar, Yordania, Kuwait, serta Oman.
- Blokade Selat Hormuz mengganggu distribusi logistik global, memicu kenaikan harga energi, serta memperparah inflasi dan stabilitas politik domestik AS.
Operasi Militer AS: CENTCOM mengeklaim telah menggempur 140 target militer Iran pada hari Sabtu, dan lebih dari 300 target sepanjang pekan ini demi mengikis kemampuan Iran dalam mengganggu kapal dagang.
Saling Klaim Kerusakan Fasilitas
Media resmi pemerintah Iran melaporkan adanya rangkaian ledakan di beberapa kota pelabuhan serta tewasnya seorang perwira militer akibat serangan udara gabungan AS-Israel.
Sebagai respon instan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah menghancurkan pusat komando taktis dan hanggar drone di Yordania, situs radar di Kuwait, platform logistik lepas pantai di Oman, serta pusat pemeliharaan jet tempur di Qatar.
Pihak Qatar menyatakan tiga orang, termasuk seorang anak-anak, terluka akibat jatuhnya serpihan proyektil, dan menegaskan Iran bertanggung jawab secara hukum atas insiden tersebut.
Eskalasi militer ini ironisnya terjadi tepat setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menggelar pertemuan diplomatik di Muscat untuk membahas pengelolaan Selat Hormuz.
Menanggapi situasi yang semakin buntu, negosiator senior sekaligus tokoh politik Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyampaikan pesan tegas mengenai posisi negaranya saat ini.
"Era kesepakatan sepihak telah BERAKHIR. Kami sudah memperingatkan Anda: tepati janji Anda atau bayar harganya. Realitas kini sedang membuktikannya," tulis Qalibaf melalui akun resminya di platform X.