Emas Diprediksi Meroket ke Level Tinggi Imbas Aksi Borong Bank Sentral Dunia

M Nurhadi, Rina Anggraeni

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:18 WIB
Emas Diprediksi Meroket ke Level Tinggi Imbas Aksi Borong Bank Sentral Dunia
Ilustrasi - Petugas menata emas batangan di Setiabudi, Jakarta. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc)
baca 10 detik
  • DBS Indonesia memproyeksikan harga emas global berpotensi melonjak hingga kisaran 5.000–5.300 dolar AS per troy ounce di masa depan.
  • Ketegangan geopolitik dan dominasi dolar AS saat ini menahan kenaikan harga emas jangka pendek di pasar internasional.
  • Kelangkaan pasokan akibat minimnya eksplorasi baru dan aksi borong bank sentral global mendorong penguatan harga emas jangka panjang.

Suara.com - Laju harga emas di pasar global diproyeksikan bakal mengalami lonjakan signifikan hingga memicu kelangkaan pasokan dalam jangka panjang.

Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika politik internasional yang masih memanas antara Iran dan Amerika Serikat, yang secara tidak langsung ikut mengubah peta prioritas investasi global.

Head of Investment and Insurance Product DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, mengamati bahwa pergerakan harga logam mulia dalam jangka pendek memang masih dibayangi oleh tekanan akibat tingginya volatilitas geopolitik global.

Namun, jika menilik prospek jangka panjang, aset lindung nilai (safe haven) ini dinilai berpeluang besar mencatatkan penguatan tajam menuju level 5.000 dolar AS hingga 5.300 dolar AS per troy ounce.

Nilai tersebut setara dengan kisaran Rp95 juta per troy ounce apabila mengacu pada posisi kurs rupiah di level Rp18.090 per dolar AS.

"Kami masih melihat emas memiliki potensi kembali naik ke kisaran 5.000 dolar AS hingga sekitar 5.300 dolar AS per troy ounce. Ketika situasi global mulai membaik, investor kemungkinan akan kembali mencari aset yang mampu menjaga nilai kekayaan mereka, dan emas menjadi salah satu pilihan utama," kata Djoko di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Djoko menambahkan bahwa akselerasi harga emas ke depan akan ditopang oleh masifnya aksi borong logam mulia yang dilakukan oleh jajaran bank sentral di berbagai belahan dunia, serta ancaman defisit pasokan di pasar.

Selama dua tahun terakhir, konsentrasi investasi dunia yang terlalu berfokus pada sektor energi telah berdampak pada melambatnya aktivitas eksplorasi pertambangan baru. Alhasil, temuan cadangan emas baru menjadi sangat minim dan berisiko memicu kelangkaan.

"Produksi emas cenderung stagnan dan penemuan cadangan emas baru dalam dua tahun terakhir relatif sangat sedikit. Jika permintaan terus meningkat sementara pasokan terbatas, kondisi itu akan menjadi faktor tambahan yang dapat mendukung kenaikan harga emas dalam jangka panjang," bebernya.

baca juga

Lebih lanjut, banyak pemerintahan di berbagai negara kini memprioritaskan anggaran mereka untuk mengejar ketahanan energi nasional, termasuk memacu ekosistem energi terbarukan. Imbasnya, aliran modal lebih banyak tersedot ke sektor tersebut.

Alasannya, transaksi perdagangan minyak mentah global masih terikat kuat pada dolar AS, posisi mata uang greenback tersebut otomatis tetap perkasa dan menjadi batu sandungan yang menahan laju penguatan emas dalam waktu dekat.

"Selama konflik masih berlangsung, negara-negara lebih fokus pada energi. Karena transaksi minyak masih didominasi dolar AS, maka penguatan dolar masih cukup kuat sehingga peluang pelemahan dolar dalam waktu dekat relatif berat. Kondisi ini ikut menahan kenaikan harga emas," jelasnya.

Kendati pergerakan saat ini cenderung tertahan, fundamental emas untuk jangka panjang diklaim tetap solid. Menurut Djoko, pamor emas sebagai instrumen pelindung kekayaan global akan kembali berkilau begitu ketegangan geopolitik internasional mulai mereda.

Langkah bank sentral global yang mempertahankan suku bunga tinggi serta masifnya penerbitan obligasi negara juga diproyeksikan menjadi katalis positif bagi logam mulia.

" Dengan tingginya suku bunga global dan penerbitan obligasi pemerintah dalam jumlah besar berpotensi meningkatkan jumlah uang beredar, yang pada akhirnya dapat menekan nilai mata uang dan meningkatkan daya tarik emas sebagai instrumen penyimpan nilai," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Update Harga dan Buyback Emas Antam, UBS, Galeri 24 di Pegadaian

Update Harga dan Buyback Emas Antam, UBS, Galeri 24 di Pegadaian

Bisnis | Kamis, 16 Juli 2026 | 07:54 WIB

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Liks | Rabu, 15 Juli 2026 | 17:20 WIB

Pendidikan Dianaktirikan: Mengapa Indonesia Masih Pelit Investasi pada Otak Rakyatnya?

Pendidikan Dianaktirikan: Mengapa Indonesia Masih Pelit Investasi pada Otak Rakyatnya?

Your Say | Rabu, 15 Juli 2026 | 14:21 WIB

Tahan Beli, Harga Emas Antam Melonjak Jadi Rp2.635.000 per Gram Hari Ini

Tahan Beli, Harga Emas Antam Melonjak Jadi Rp2.635.000 per Gram Hari Ini

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 09:59 WIB

Daftar Lengkap Harga Jual dan Buyback Emas Pegadaian per 15 Juli 2026

Daftar Lengkap Harga Jual dan Buyback Emas Pegadaian per 15 Juli 2026

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 09:07 WIB

Pemerintah Siapkan Insentif ETF Emas, Bursa Mineral, Hingga Demutualisasi

Pemerintah Siapkan Insentif ETF Emas, Bursa Mineral, Hingga Demutualisasi

Bisnis | Selasa, 14 Juli 2026 | 21:59 WIB

Terkini

Tunggakan Rp14,8 Miliar, 303 Pemain Belum Digaji: Ada Klub Raffi Ahmad Rans FC

Tunggakan Rp14,8 Miliar, 303 Pemain Belum Digaji: Ada Klub Raffi Ahmad Rans FC

Bola | Senin, 31 Agustus 2026 | 22:37 WIB

Bukan Cuma Jadi Konsumen! DPR Ingin Indonesia Kuasai Ekosistem AI

Bukan Cuma Jadi Konsumen! DPR Ingin Indonesia Kuasai Ekosistem AI

Video | Senin, 31 Agustus 2026 | 22:35 WIB

Alasan Ada Agenda Lain, Anggota DPR Satori Mangkir dari Pemeriksaan KPK

Alasan Ada Agenda Lain, Anggota DPR Satori Mangkir dari Pemeriksaan KPK

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 22:30 WIB

Persib Lolos ACL Two dengan Drama! Mariano Peralta Jadi Pahlawan di Menit-Menit Akhir

Persib Lolos ACL Two dengan Drama! Mariano Peralta Jadi Pahlawan di Menit-Menit Akhir

Bola | Senin, 31 Agustus 2026 | 22:20 WIB

Cegah Risiko Pidana, Pakar Sebut Pemerintah Tepat Atur Pembelian Timah Rakyat

Cegah Risiko Pidana, Pakar Sebut Pemerintah Tepat Atur Pembelian Timah Rakyat

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 22:15 WIB

Desak Pelaku Pengeroyok Bambang Setiawan Ditangkap, Wamen HAM: Harus Ditindak Tegas!

Desak Pelaku Pengeroyok Bambang Setiawan Ditangkap, Wamen HAM: Harus Ditindak Tegas!

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 22:15 WIB

Dedi Mulyadi: Uang Pajak Warga Depok Siap Disulap Jadi Flyover dan Underpass

Dedi Mulyadi: Uang Pajak Warga Depok Siap Disulap Jadi Flyover dan Underpass

Jabar | Senin, 31 Agustus 2026 | 22:04 WIB

Setengah Karhutla Terjadi di Wilayah Korporasi yang Izinnya dari Negara!

Setengah Karhutla Terjadi di Wilayah Korporasi yang Izinnya dari Negara!

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 22:00 WIB

Sikap Bupati Bogor Usai KPK Masuk Pemkab: Serahkan Proses Hukum dan Hargai Praduga Tak Bersalah

Sikap Bupati Bogor Usai KPK Masuk Pemkab: Serahkan Proses Hukum dan Hargai Praduga Tak Bersalah

Bogor | Senin, 31 Agustus 2026 | 21:55 WIB

Padam Setelah 30 Jam, Kebakaran Pabrik Plastik di Serang Telan Kerugian Rp41 Miliar

Padam Setelah 30 Jam, Kebakaran Pabrik Plastik di Serang Telan Kerugian Rp41 Miliar

Banten | Senin, 31 Agustus 2026 | 21:46 WIB

×