- DBS Indonesia memproyeksikan harga emas global berpotensi melonjak hingga kisaran 5.000–5.300 dolar AS per troy ounce di masa depan.
- Ketegangan geopolitik dan dominasi dolar AS saat ini menahan kenaikan harga emas jangka pendek di pasar internasional.
- Kelangkaan pasokan akibat minimnya eksplorasi baru dan aksi borong bank sentral global mendorong penguatan harga emas jangka panjang.
Suara.com - Laju harga emas di pasar global diproyeksikan bakal mengalami lonjakan signifikan hingga memicu kelangkaan pasokan dalam jangka panjang.
Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika politik internasional yang masih memanas antara Iran dan Amerika Serikat, yang secara tidak langsung ikut mengubah peta prioritas investasi global.
Head of Investment and Insurance Product DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, mengamati bahwa pergerakan harga logam mulia dalam jangka pendek memang masih dibayangi oleh tekanan akibat tingginya volatilitas geopolitik global.
Namun, jika menilik prospek jangka panjang, aset lindung nilai (safe haven) ini dinilai berpeluang besar mencatatkan penguatan tajam menuju level 5.000 dolar AS hingga 5.300 dolar AS per troy ounce.
Nilai tersebut setara dengan kisaran Rp95 juta per troy ounce apabila mengacu pada posisi kurs rupiah di level Rp18.090 per dolar AS.
"Kami masih melihat emas memiliki potensi kembali naik ke kisaran 5.000 dolar AS hingga sekitar 5.300 dolar AS per troy ounce. Ketika situasi global mulai membaik, investor kemungkinan akan kembali mencari aset yang mampu menjaga nilai kekayaan mereka, dan emas menjadi salah satu pilihan utama," kata Djoko di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Djoko menambahkan bahwa akselerasi harga emas ke depan akan ditopang oleh masifnya aksi borong logam mulia yang dilakukan oleh jajaran bank sentral di berbagai belahan dunia, serta ancaman defisit pasokan di pasar.
Selama dua tahun terakhir, konsentrasi investasi dunia yang terlalu berfokus pada sektor energi telah berdampak pada melambatnya aktivitas eksplorasi pertambangan baru. Alhasil, temuan cadangan emas baru menjadi sangat minim dan berisiko memicu kelangkaan.
"Produksi emas cenderung stagnan dan penemuan cadangan emas baru dalam dua tahun terakhir relatif sangat sedikit. Jika permintaan terus meningkat sementara pasokan terbatas, kondisi itu akan menjadi faktor tambahan yang dapat mendukung kenaikan harga emas dalam jangka panjang," bebernya.
Lebih lanjut, banyak pemerintahan di berbagai negara kini memprioritaskan anggaran mereka untuk mengejar ketahanan energi nasional, termasuk memacu ekosistem energi terbarukan. Imbasnya, aliran modal lebih banyak tersedot ke sektor tersebut.
Alasannya, transaksi perdagangan minyak mentah global masih terikat kuat pada dolar AS, posisi mata uang greenback tersebut otomatis tetap perkasa dan menjadi batu sandungan yang menahan laju penguatan emas dalam waktu dekat.
"Selama konflik masih berlangsung, negara-negara lebih fokus pada energi. Karena transaksi minyak masih didominasi dolar AS, maka penguatan dolar masih cukup kuat sehingga peluang pelemahan dolar dalam waktu dekat relatif berat. Kondisi ini ikut menahan kenaikan harga emas," jelasnya.
Kendati pergerakan saat ini cenderung tertahan, fundamental emas untuk jangka panjang diklaim tetap solid. Menurut Djoko, pamor emas sebagai instrumen pelindung kekayaan global akan kembali berkilau begitu ketegangan geopolitik internasional mulai mereda.
Langkah bank sentral global yang mempertahankan suku bunga tinggi serta masifnya penerbitan obligasi negara juga diproyeksikan menjadi katalis positif bagi logam mulia.
" Dengan tingginya suku bunga global dan penerbitan obligasi pemerintah dalam jumlah besar berpotensi meningkatkan jumlah uang beredar, yang pada akhirnya dapat menekan nilai mata uang dan meningkatkan daya tarik emas sebagai instrumen penyimpan nilai," tandasnya.