- Indeks Harga Saham Gabungan dibuka melemah ke level 6.185 di Bursa Efek Indonesia pada Senin, 27 Juli 2026.
- Pergerakan IHSG pekan ini diproyeksikan terbatas akibat sentimen konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
- BRI Danareksa Sekuritas mencatat IHSG memiliki level support di 6.137 dan resistance di 6.268 untuk perdagangan pekan ini.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dua arah pada awal perdagangan, Senin, 27 Juli 2026. IHSG dibuka melemah ke level 6.185.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, hingga pukul 09.07 WIB, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.204.
Aktivitas transaksi pasar tercatat mencapai 3,15 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp1,652 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 201 ribu kali. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.880 triliun.
Meski indeks bergerak menguat, jumlah saham yang melemah masih lebih banyak dibandingkan yang naik. Sebanyak 213 saham menguat, 330 saham melemah, dan 422 saham bergerak stagnan.
![Warga melintas di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). [ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/bar]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/03/65229-ihsg-indeks-harga-saham-gabungan-saham-ihsg-melemah-ihsg-anjlok.jpg)
Adapun saham-saham yang masuk jajaran top gainers pada awal perdagangan antara lain:
- HELI
- PSDN
- DMMX
- MCAS
- TNCA
Sementara itu, daftar top losers diisi oleh:
- OILS
- BAPA
- COCO
- FPNI
- RANS
Proyeksi IHSG
IHSG diperkirakan masih bergerak terbatas pada perdagangan pekan ini di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), hingga dinamika inflasi. global.
Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, IHSG memiliki level support di 6.137 dan resistance di 6.268. Selama mampu bertahan di atas area support tersebut, peluang terjadinya rebound masih terbuka meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
Pada perdagangan Jumat (24/7/2026), IHSG ditutup melemah 1,88 persen ke level 6.196,43. Pelemahan tersebut dipicu aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar di tengah meningkatnya sentimen risk-off global.
BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan tekanan terhadap pasar dipengaruhi lonjakan harga minyak mentah Brent yang kembali menembus level US$100 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Selain itu, kebijakan tambahan tarif impor sebesar 10 persen dari Amerika Serikat terhadap produk asal Indonesia turut membebani sentimen investor.Meski demikian, secara akumulatif IHSG masih membukukan kenaikan sebesar 0,34 persen sepanjang pekan lalu.
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, fokus pasar pada pekan ini akan tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi sehingga meningkatkan tekanan inflasi global.
Selain itu, investor juga menantikan hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Fed. Probabilitas kenaikan suku bunga dinilai mulai meningkat seiring lonjakan harga minyak serta masih kuatnya kondisi ekonomi Amerika Serikat.
Pelaku pasar juga akan mencermati arah kebijakan bank sentral global lainnya, termasuk Bank of England, serta perkembangan inflasi di kawasan Eropa guna memperoleh gambaran mengenai prospek suku bunga global ke depan.
Sementara itu, dari pasar global, pergerakan indeks saham Wall Street pada perdagangan sebelumnya ditutup bervariasi. Dow Jones Industrial Average menguat 0,46 persen ke level 51.947,25. Indeks S&P 500 naik tipis 0,05 persen menjadi 7.411,98, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,64 persen ke level 24.975,82.
Untuk strategi perdagangan, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang layak dicermati pada pekan ini, yakni BULL, MMIX, dan SIMP.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi. Investor disarankan untuk melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan.