- Vero Indonesia dan Kadence International merilis survei pada Sabtu (1/8/2026) di Asia Tenggara.
- Layanan perbankan serta pembayaran digital meraih skor kepercayaan tertinggi mencapai angka 81,7.
- Sebanyak 42 persen responden Indonesia akan meninggalkan bank digital jika terjadi kebocoran data.
Di Malaysia, angkanya juga relatif tinggi, dengan 40 persen responden siap meninggalkan layanan perbankan digital dan 20 persen menghentikan penggunaan layanan pembayaran digital setelah terjadi insiden keamanan.

Survei juga menemukan bahwa 49,5 persen responden Indonesia menempatkan penyalahgunaan data pribadi sebagai kekhawatiran terbesar ketika menggunakan layanan digital.
Di sisi lain, 79 persen responden memasukkan berbagai bentuk penipuan daring sebagai salah satu ancaman utama dalam aktivitas digital mereka.
Meski demikian, mayoritas konsumen masih memberikan kesempatan kepada penyedia layanan untuk memperbaiki keadaan.
Sebanyak 54 persen responden menyatakan hanya akan menghentikan penggunaan layanan untuk sementara hingga masalah berhasil diselesaikan, sedangkan 43 persen lebih memilih melihat rekam jejak perusahaan dalam menangani insiden sebagai indikator utama kepercayaan.
Executive Account Director Vero Indonesia, Diah Andrini Dewi, menilai kebocoran data kini tidak lagi sekadar menjadi persoalan teknologi, tetapi telah berkembang menjadi ujian terhadap reputasi perusahaan di mata publik.
"Temuan ini menunjukkan bahwa konsumen semakin menilai perusahaan dari cara mereka merespons krisis, bukan semata dari kualitas produk atau layanan yang ditawarkan. Membangun kembali kepercayaan tidak cukup melalui pernyataan resmi, tetapi harus disertai transparansi, langkah perbaikan yang nyata, serta melibatkan pihak independen yang kredibel," ujarnya.
Kepercayaan Jadi Aset Baru Ekonomi Digital
Director Kadence International, Ashutosh Awasthi, menegaskan keberhasilan perusahaan teknologi kini tidak lagi hanya diukur dari jumlah pengguna, tetapi juga dari tingkat kepercayaan yang berhasil dipertahankan.
"Untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan, mereka perlu membuat konsumen merasa cukup yakin untuk terus mengandalkan produk tersebut, bahkan ketika ekspektasi, risiko, atau alternatif lain berubah," kata Ashutosh.
Hasil survei ini memperlihatkan bahwa di tengah semakin masifnya digitalisasi di Asia Tenggara, kepercayaan konsumen menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi digital.
![Ilustrasi perlindungan data. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/01/48286-ilustrasi-perlindungan-data.jpg)
Bagi industri perbankan dan teknologi finansial, penguatan keamanan siber, perlindungan data pribadi, serta transparansi dalam menangani insiden akan menjadi faktor penentu loyalitas nasabah.
Sementara itu, bagi pemerintah, regulasi yang jelas, pengawasan yang efektif, dan perlindungan konsumen yang kuat akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekosistem ekonomi digital sekaligus mendorong pertumbuhan sektor keuangan digital secara berkelanjutan.