- Analis Nafan Aji Gusta menyatakan laporan keuangan kuartal II-2026 di Jakarta pada Jumat, 31 Juli, menjadi katalis penentu arah saham tambang.
- BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan pendapatan emiten pertambangan logam kuartal II-2026 menembus US$4,5 miliar, didorong harga jual rata-rata komoditas.
- Berbagai saham emiten pertambangan membukukan apresiasi harga atraktif di Bursa Efek Indonesia sepanjang satu bulan terakhir hingga Jumat, 31 Juli.
Suara.com - Rilis laporan keuangan periode kuartal II-2026 diproyeksikan menjadi indikator penentu yang memegang peranan vital dalam mengarahkan laju pergerakan saham-saham di sektor pertambangan.
Para pemodal dan analis di pasar modal saat ini tengah menanti hasil pembukuan emiten guna mengukur sejauh mana stabilitas fundamental perusahaan tambang dalam menghadapi fluktuasi ekonomi global.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, memaparkan bahwa publikasi kinerja keuangan paruh pertama tersebut akan bertindak sebagai salah satu katalis utama.
Menurutnya, pelaku pasar akan menelaah seberapa besar implikasi pemulihan harga komoditas global yang sempat terjadi pada pertengahan kuartal II-2026 terhadap pembesaran margin keuntungan dan profitabilitas emiten tambang.
“Emiten yang memiliki efisiensi operasional lebih baik, serta diversifikasi bisnis yang kuat berpotensi memperoleh respons pasar yang lebih positif. Kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi juga dapat menjadi pemicu penguatan harga saham dalam jangka pendek,” ujar Nafan sebagaimana keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (31/7).
Lebih lanjut, Nafan mencermati bahwa emiten-emiten sektor pertambangan, termasuk jajaran saham perusahaan tambang milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mulai memperlihatkan sinyal pemulihan arah pergerakan atau rebound.
Kendati demikian, tren penguatan yang terjadi masih berjalan secara selektif pada emiten tertentu dan belum menciptakan pola kenaikan jangka panjang yang kokoh.
Khusus untuk saham-saham pertambangan pelat merah, Nafan mengingatkan bahwa investor tidak hanya fokus pada perolehan angka laba bersih semata. Perhatian pasar juga tertuju pada kemajuan proyek hilirisasi mineral di dalam negeri, efektivitas alokasi belanja modal (capital expenditure/capex), hingga prospek permintaan komoditas strategis seperti nikel dan batu bara di pasar internasional.
"Apabila realisasi kinerja mampu melampaui ekspektasi pasar, peluang penguatan harga saham masih terbuka," tutur Nafan.
Pandangan optimis terhadap pemulihan sektor tambang logam juga diperkuat oleh kajian dari analis perbankan investasi nasional. Berdasarkan laporan riset terbaru dari BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), akumulasi pendapatan emiten pertambangan logam pada kuartal II-2026 diperkirakan mampu menembus angka US$4,5 miliar.
Estimasi angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 12 persen secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq) dan melesat hingga 38 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Walaupun memperlihatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan, tim riset BRIDS memberi catatan bahwa peningkatan angka tersebut belum sepenuhnya didorong oleh lonjakan kapasitas volume produksi secara menyeluruh.
Penguatan pendapatan saat ini lebih banyak ditopang oleh pergerakan positif harga jual rata-rata komoditas, ketepatan momentum penjualan, manajemen persediaan barang, serta optimalisasi bauran produk (product mix) yang tepat saji.
Menatap prospek bisnis pada paruh kedua tahun ini, tim riset BRI Danareksa Sekuritas mengarahkan preferensi pilihan investasinya pada emiten-emiten logam berfundamental kuat.
"Namun, untuk prospek semester II-2026, preferensi kami beralih ke ANTM, TINS, AMMN, INCO, NCKL, MBMA, dan BRMS," sebagaimana dikutip dari riset BRIDS.