- Anwar minta Prabowo turun tangan soal investasi BWPT.
- Malaysia berisiko kehilangan RM2,5 miliar investasi.
- Anwar khawatir hanya RM200 juta yang bisa dipulihkan.
Suara.com - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim meminta Presiden Prabowo Subianto menindaklanjuti persoalan investasi Malaysia di Indonesia yang saat ini tengah berproses di pengadilan. Salah satu investasi yang menjadi perhatian adalah kepemilikan saham pada PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) milik taipan Peter Sondakh.
Anwar mengungkapkan kekhawatiran Malaysia berpotensi mengalami kerugian besar apabila persoalan tersebut tidak segera mendapatkan penyelesaian. Ia bahkan mengaku telah mengirimkan surat kepada Presiden Prabowo untuk meminta perhatian pemerintah Indonesia.
“Investasi ini [BWPT] sedang dalam proses pengadilan di Indonesia. Saya telah menulis surat kepada Presiden Prabowo Subianto meminta beliau untuk menindaklanjuti masalah ini,” ujar Anwar.
Menurut Anwar, nilai investasi yang dipertaruhkan mencapai sekitar RM2,5 miliar. Jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp4.000 per ringgit, nilainya setara dengan sekitar Rp10 triliun.
Namun, Anwar menyebut potensi pemulihan dana apabila persoalan tersebut tidak ditangani hanya sekitar RM200 juta. Artinya, terdapat risiko kehilangan sebagian besar nilai investasi yang telah ditanamkan.
“Jika tidak ditangani, kita berpotensi kehilangan RM2,5 miliar dan hanya dapat memulihkan RM200 juta,” katanya.
Berdasarkan data perdagangan Rabu (26/8/2026) sekitar pukul 11.12 WIB, saham BWPT berada di level Rp102 per saham. Secara year to date, saham Eagle High Plantations telah anjlok 29,66 persen atau turun Rp43.
Saham BWPT bahkan sempat menyentuh level terendah Rp60 dalam 52 minggu terakhir, sementara level tertingginya mencapai Rp193. Pada perdagangan 3 Agustus 2026, saham BWPT tercatat dibuka di Rp88.
Dengan harga Rp102 per saham, kapitalisasi pasar BWPT berada di kisaran Rp3,22 triliun. Rasio price to earnings (P/E) tercatat sekitar 7,92 kali.
Pergerakan saham tersebut memperlihatkan kontras dengan nilai investasi yang menjadi perhatian pemerintah Malaysia. Di satu sisi, Malaysia memperkirakan potensi kerugian hingga RM2,5 miliar apabila persoalan investasi tidak diselesaikan. Di sisi lain, nilai kapitalisasi pasar BWPT di Bursa Efek Indonesia saat ini jauh lebih kecil.
Asal tahu saja emiten PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) atau EHP dirintis pada tahun 2000 dengan nama PT Bumi Perdana Prima Internasional. Perusahaan ini diakuisisi oleh Green Eagle Group pada tahun 2014 dan berganti nama menjadi EHP. Perusahaan ini bergerak dalam industri perkebunan kelapa sawit dengan produk utama minyak sawit mentah (CPO) dan inti sawit.
Perkebunan ini berlokasi di lahan seluas 116.000 hektar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Delapan pabrik pengolahan perseroan berlokasi di Kalimantan (7 pabrik) dan Papua (1 pabrik), dengan total kapasitas 2,5 juta ton tandan buah segar per tahun.