- Indeks Harga Saham Gabungan diproyeksikan bergerak terbatas dengan potensi melemah pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026.
- Pergerakan pasar dibayangi sentimen global terkait arah suku bunga tinggi The Fed dan penantian rilis data ekonomi nasional.
- Analis memperkirakan IHSG berada di kisaran support 6.430 dan resistance 6.606, dengan beberapa rekomendasi saham pilihan.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (31/8/2026).
Pergerakan laju indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut dibayangi oleh tekanan sentimen global terkait arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), serta penantian rilis data ekonomi nasional.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memperkirakan IHSG pada awal pekan bergerak campuran (mixed) dengan kecenderungan melemah. Secara teknikal, pergerakan IHSG diproyeksikan berada dalam rentang level support 6.430 dan resistance 6.606.
“IHSG awal pekan depan kami perkirakan bergerak mixed cenderung melemah dalam rentang level support 6.430 dan resistance 6.606 dengan indikator MACD menunjukkan tren yang landai, dan RSI bergerak turun,” ujar Oktavianus, pada Senin (31/8/2026).
Oktavianus menjelaskan bahwa pergerakan IHSG masih sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global, khususnya sinyal ketat dari bank sentral AS.
Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole baru-baru ini memperitegas bahwa inflasi inti dinilai belum melambat sesuai harapan, sehingga menguatkan spekulasi kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer).
“Kami berpandangan IHSG akan dipengaruhi sentimen: nada hawkish Fed masih nyata, seiring dengan pernyataan Warsh terkait inflasi inti belum melambat dan mengonfirmasi higher for longer masih berlanjut,” kata Oktavianus.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memberikan tekanan negatif bagi pasar saham global maupun domestik karena ekspektasi penurunan suku bunga belum akan terealisasi dalam waktu dekat. Pelaku pasar mengkhawatirkan tingginya suku bunga dapat menghambat laju ekspansi korporasi serta menahan pertumbuhan permintaan kredit perbankan.
Sementara dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis data ekonomi terkini. Pasar menantikan pengumuman data inflasi Indonesia periode Agustus 2026 yang diperkirakan tumbuh sebesar 2,86 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Selain itu, rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia juga dinanti, di mana konsensus memproyeksikan masih berada di area ekspansif pada level 50,5.
“Hal ini akan cenderung direspons moderat oleh pasar karena belum adanya perubahan material,” ujar Oktavianus.
Di sisi lain, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memberikan pandangan yang sedikit lebih optimistis. Menurut perkiraannya, laju indeks masih memiliki peluang untuk mengalami penguatan terbatas pada perdagangan awal pekan.
“Untuk Senin, posisi pergerakan IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan support 6.506 dan resistance 6.539,” kata Herditya.
Pandangan senada juga disampaikan oleh tim riset BNI Sekuritas. Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas Fanny Suherman mencermati bahwa IHSG yang sebelumnya ditutup terkoreksi tipis 0,06 persen disertai aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp442 miliar—dengan saham EMAS, ISAT, AMMN, BRMS, dan ASII menjadi yang paling banyak dilepas—masih memiliki modal untuk berbalik arah.
BNI Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi rebound hari ini setelah pada perdagangan sebelumnya mampu bertahan di atas level support kuatnya. Area support IHSG diperkirakan berada pada Rentang 6.460–6.500, sedangkan posisi resistance berada di kisaran 6.580–6.620.
Tekanan pada IHSG juga sejalan dengan penutupan bursa Wall Street akhir pekan lalu yang berakhir di zona merah. Tiga indeks utama AS kompak melemah setelah Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan komitmennya untuk menekan inflasi hingga mencapai target 2 persen.
![Ilustrasi pergerakan saham di bursa Wall Street. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/27/40126-wall-street-nasdaq.jpg)
Pada penutupan perdagangan Jumat (28/8), indeks S&P 500 turun 0,25 persen, Nasdaq Composite melemah 0,52 persen, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,02 persen.
Berbeda dengan Wall Street, mayoritas bursa saham Asia justru mencatatkan penguatan pada pertengahan pekan lalu di tengah penurunan harga minyak mentah dan imbal hasil (yield) obligasi.
Sentimen positif didorong oleh optimisme pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz pasca-dialog diplomatik Iran dan Oman. Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,41 persen, Taiex Taiwan naik 0,77 persen, dan Hang Seng Hong Kong terangkat 0,07 persen, meskipun KOSPI Korea Selatan harus terdepresiasi 1,79 persen.
Rekomendasi Saham Hari Ini
Di tengah pergerakan indeks yang cenderung terbatas, para analis membagikan beberapa pilihan saham yang dapat dicermati oleh para investor dan pelaku pasar:
Kiwoom Sekuritas:
PT Indika Energy Tbk (INDY): Rekomendasi buy on break di level 2.850. Level support berada pada 2.640 dan resistance pada 2.960.
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR): Rekomendasi speculative buy dengan level support di 870 dan resistance di 1.140.
MNC Sekuritas:
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT): Target kisaran harga 1.455–1.520.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF): Target kisaran harga 7.450–7.650.
PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP): Target kisaran harga 1.525–1.590.
BNI Sekuritas:
PT Barito Renewables Energy Tbk (CUAN): Rekomendasi buy if break 820, target terdekat 840–865, cut loss di bawah 780.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Rekomendasi speculative buy area beli 1.800, target terdekat 1.860–1.920, cut loss di bawah 1.770.
PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA): Rekomendasi buy if break 1.990, target terdekat 2.020–2.080, cut loss di bawah 1.940.
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG): Rekomendasi speculative buy area beli 1.225–1.245, target terdekat 1.290–1.320, cut loss di bawah 1.200.
PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG): Rekomendasi speculative buy area beli 2.030, target terdekat 2.060–2.110, cut loss di bawah 2.000.
Fore Coffee / PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE): Rekomendasi buy if break 850, target terdekat 890–920, cut loss di bawah 830.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis kembali risiko serta potensi keuntungan sebelum melakukan transaksi jual beli saham maupun instrumen kripto.