- Kementerian Ekraf meluncurkan program Kriyasi di Kota Payakumbuh untuk memulihkan ekonomi kreatif pascabencana.
- Pelatihan bagi 50 perajin lokal tersebut bertujuan meningkatkan keterampilan desain, produksi, dan daya saing produk.
- Pemerintah mendorong perajin menyertakan cerita sejarah pada produk agar mampu menembus pasar yang lebih luas.
Suara.com - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan pihaknya terus mendorong pemulihan ekonomi kreatif pascabencana di Sumatera Barat, khususnya Kota Payakumbuh. Salah satu wujud upaya ini adalah melalui program Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Anyam dan Sulam untuk membangkitkan kembali produktivitas dan daya saing para pelaku kriya lokal.
Irene mengatakan, sektor kerajinan anyaman dan sulam merupakan warisan budaya sekaligus salah satu penopang ekonomi kerakyatan yang potensial di Payakumbuh. Dalam upaya memulihkan ekonomi kreatif di Sumatera Barat, produk sulam dan anyam perlu terus dikembangkan agar memiliki nilai tambah dan semakin berdaya saing, baik di pasar nasional maupun internasional.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda Ekraf Peduli, sebagai wujud kepedulian dan komitmen Kementerian Ekraf dalam mendampingi para pelaku ekonomi kreatif untuk kembali pulih, memperkuat usaha, dan bangkit, melalui semangat ‘Pulih Bersama, Bangkit Berdaya’," kata Irene dalam keterangan yang diterima di Jakarta, akhir pekan kemarin.
Penguatan potensi lokal ini selaras dengan tren pertumbuhan ekonomi kreatif nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Ekraf, subsektor kriya terus menunjukkan kinerja positif.
Nilai ekspornya meningkat dari 3,47 miliar dolar AS pada Januari-April 2025 menjadi 3,82 miliar dolar AS pada periode yang sama 2026. Pada 2025, subsektor kriya juga berkontribusi 10,7 persen terhadap ekonomi kreatif, dengan pertumbuhan sebesar 2,36 persen.
Irene mengatakan agar produk lokal mampu menembus pasar yang lebih luas, ia meminta untuk para perajin membuat produk yang memiliki nilai cerita sejarah dan makna yang mendalam sehingga pembeli tidak hanya melihat fisik produk namun juga memahami produk tersebut bernilai tinggi.
“Cerita pada sebuah produk itu penting agar pembeli tahu alasan dan makna di balik barang yang mereka beli. Tanpa adanya cerita, orang hanya akan melihat barang dari keindahan bentuk dan harganya saja. Padahal buatan tangan manusia mengandung nilai sejarah dan doa yang tidak pernah bisa digantikan oleh mesin, ketika pembeli memahami cerita di baliknya, saya yakin produk lokal ini tidak hanya bernilai tinggi, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas,” ungkap Irene.
Program Kriyasi Anyam Kementerian Ekraf berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Payakumbuh untuk mempercepat pemulihan dan meningkatkan kapasitas pelaku usaha kriya yang terdampak bencana. Pendampingan dilakukan melalui pengembangan desain, peningkatan keterampilan produksi, serta pengembangan produk sesuai kebutuhan pasar.
Workshop ini diikuti 50 peserta, terdiri atas 25 perajin kriya anyam dan 25 perajin kriya sulam. Peserta mendapatkan pemaparan dan praktik langsung dari Rumpun Consulting untuk produk sulam serta Balai Besar Kerajinan dan Batik untuk produk anyam.
Melalui pelatihan ini, para perajin diharapkan dapat merevitalisasi material dan pengetahuan kerajinan melalui pengembangan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar, meningkatkan kesadaran tentang pentingnya cara berpikir desain, serta meningkatkan kualitas dan nilai tambah pada hasil karya. Semua itu diharapkan berujung pada peningkatan perekonomian yang lebih baik.