- Menko PM Muhaimin Iskandar menyoroti tantangan utama brand lokal adalah akses pasar global, bukan lagi kualitas produk.
- Pemerintah didorong mengubah strategi dukungan dengan memfasilitasi jejaring bisnis berkelanjutan, bukan sekadar menyelenggarakan ajang pameran produk.
- Sebanyak 80 brand Indonesia mengikuti MASA Singapore 2026 di Singapura untuk membangun koneksi dengan investor dan pembeli internasional.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar menilai tantangan terbesar brand lokal Indonesia saat ini bukan lagi soal kualitas produk, melainkan sulitnya menembus pasar internasional.
Karena itu, ia meminta pemerintah mengubah pola dukungan dari sekadar menggelar pameran menjadi membuka akses bisnis global.
Pernyataan tersebut disampaikan Muhaimin saat mengunjungi Indonesia Marketplace dalam rangkaian MASA Singapore 2026 di Takashimaya Shopping Centre, Singapura, Minggu (5/7/2026).
Ajang yang diinisiasi Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar itu menghadirkan lebih dari 80 brand Indonesia yang telah dikurasi untuk dipertemukan langsung dengan buyer, investor, media, pemilik ruang komersial, hingga jaringan bisnis internasional.
Menurut Cak Imin, kualitas produk buatan Indonesia kini sudah mampu bersaing dengan produk luar negeri. Tantangan berikutnya adalah memastikan pelaku usaha memiliki akses ke pasar global.
"Pemerintah harus mulai fokus membuka akses global untuk brand lokal. Produk Indonesia sudah semakin berkualitas. Yang sering menjadi tantangan justru bagaimana mempertemukan karya-karya terbaik kita dengan pasar, jejaring, dan peluang di tingkat internasional," kata Cak Imin.
Ia menilai promosi produk melalui pameran semata tidak lagi cukup. Menurutnya, pelaku usaha membutuhkan hubungan bisnis yang berkelanjutan agar dapat berkembang dan berekspansi ke pasar internasional.
Karena itu, Cak Imin mengapresiasi konsep MASA Singapore yang tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga mempertemukan brand Indonesia dengan ekosistem bisnis global.
Menurutnya, model seperti ini layak diperbanyak karena membuka akses pasar dan jejaring bisnis akan memberikan dampak yang jauh lebih besar dibanding sekadar bantuan anggaran atau insentif.
"Kalau hanya berpameran, dampaknya sering berhenti ketika acaranya selesai. Tetapi ketika pemerintah mampu membuka akses dan membangun jejaring, manfaatnya akan terus berkembang jauh setelah kegiatan itu berakhir. Inilah cara pemerintah menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat," katanya.
Cak Imin berharap semakin banyak program yang mampu menghubungkan pelaku usaha Indonesia dengan pasar dunia.
Menurutnya, ukuran keberhasilan pemerintah ke depan bukan hanya banyaknya program yang dijalankan, tetapi seberapa luas peluang yang berhasil dibuka bagi masyarakat.
"Yang dibutuhkan brand lokal hari ini bukan hanya ruang untuk pameran, tetapi kesempatan untuk tumbuh dan ekspansi. Tugas pemerintah adalah membuka pintu, menghubungkan peluang, dan memastikan semakin banyak karya anak bangsa mampu bersaing di pasar global," tutupnya.