- Wall Street bangkit pada 2 September 2026 karena yield obligasi melandai dan saham teknologi menguat.
- Bursa Asia dan IHSG melemah akibat konflik geopolitik Timur Tengah serta aksi jual bersih asing.
- Inflasi tahunan Korea Selatan naik menjadi 3,1 persen pada Agustus 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 juga harus terpuruk dengan koreksi tajam 2,9 persen. Pelemahan turut melanda Taiex Taiwan yang berkurang 1,7 persen, CSI 300 China yang merosot 1,4 persen, ASX 200 Australia yang terkoreksi 1 persen, serta Hang Seng Hong Kong yang ditutup melemah tipis 0,07 persen.
Menariknya, di tengah pusaran sentimen negatif tersebut, indeks FTSE Straits Times Singapura dan FTSE Malay KLCI Malaysia justru berhasil menahan gempuran dengan masing-masing menguat 0,6 persen dan 0,5 persen.
Selain mencerna faktor geopolitik, pasar Asia juga tengah merespons rilis data makroekonomi dari Korea Selatan. Tingkat inflasi di Negeri Ginseng tersebut dilaporkan kembali mengalami peningkatan pada bulan Agustus 2026.
Merujuk pada data resmi yang dirilis oleh Kementerian Data dan Statistik Korea Selatan, Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 3,1 persen secara tahunan (YoY) pada bulan Agustus.
Angka ini meningkat signifikan apabila dibandingkan dengan kenaikan 2,8 persen yang tercatat pada bulan Juli 2026. Peningkatan laju inflasi ini sebagian besar dipengaruhi oleh efek basis yang rendah dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, meskipun secara akumulasi angka inflasi tersebut masih lebih rendah dari proyeksi ekspektasi pasar.
Beralih ke pergerakan pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan fase konsolidasi yang cukup ketat. Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah sangat tipis sebesar 0,06 persen.
Pelemahan indeks kebanggaan bursa dalam negeri ini turut diwarnai oleh aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing yang mencapai nilai sekitar Rp235 miliar.
Sejumlah saham berkapitalisasi raksasa menjadi sasaran utama aksi pelepasan portofolio. Lima saham yang paling banyak dibuang oleh pemodal asing meliputi saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Astra International Tbk (ASII), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Meski sempat tertahan di zona merah pada penutupan kemarin, secara tinjauan teknikal IHSG dinilai memiliki potensi yang cukup terbuka untuk kembali mengalami rebound pada sesi perdagangan hari ini. Pergerakan laju IHSG diperkirakan akan menguji area pertahanan atau support terdekat yang berada di kisaran level 6520 hingga 6550.
BNI Sekuritas dalam kajiannya memperkirakan, jika momentum akumulasi kembali mendominasi, indeks memiliki peluang untuk merangsek naik menembus area resistensi yang diproyeksikan berada di rentang 6630 hingga 6700. Di tengah volatilitas pasar dan rotasi pergerakan sektor, para pelaku pasar dapat mencermati sejumlah ide trading harian yang direkomendasikan hari ini, yang meliputi saham MDKA, EMAS, INET, JGLE, KIJA, dan KETR.