- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan dirinya tetap menggunakan pola pikir ekonom meski berada di pemerintahan.
- Presiden Prabowo Subianto meminta Purbaya menghitung dampak perang Amerika Serikat dan Iran terhadap APBN pada Februari lalu.
- Simulasi Purbaya menunjukkan defisit APBN tetap aman di bawah tiga persen melalui pengendalian belanja serta penyerapan subsidi.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berkelakar kalau dirinya masih bisa diposisikan sebagai ekonom, meskipun saat ini sudah menjadi bagian dari Pemerintah.
Hal ini disampaikan Menkeu Purbaya saat ia ditanya soal kebijakan subsidi energi agar tepat sasaran. Rekam jejaknya pun sempat disinggung karena pernah menjadi ekonom di masa lalu.
"Siapa bilang saya bukan ekonom lagi? Saya masih ekonom kok. Pejabat mah ininya doang," canda Purbaya di acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026, dikutip Jumat (4/9/2026).
Purbaya kembali bergurau kalau cara berpikir ala ekonom itu membuatnya banyak musuh, meskipun saat ini menjabat sebagai Menteri Keuangan.
"Isi kepala tetap ekonom. Cara berpikirnya tetap ekonom. Makanya banyak dimusuhi," ucapnya sembari tertawa.
Ia bercerita, ketika perang Amerika Serikat vs Iran dimulai Februari lalu, itu berdampak pada kenaikan harga barang, tak terkecuali bahan bakar minyak (BBM).
Saat itu Presiden RI Prabowo Subianto sempat meminta Purbaya menghitung dampak perang AS vs Iran tersebut pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Bendahara Negara kemudian memberikan simulasi apabila kenaikan harga minyak tembus rata-rata 100 Dolar AS per barel dalam setahun. Dari penghitungan tersebut, Purbaya menyebut defisit APBN masih sekitar 2,85 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), aman karena di bawah batas 3 persen.
"Jadi kita kendalikan belanja-belanja yang enggak perlu dan tetap memperbolehkan belanja-belanja yang lebih produktif. Sementara daya beli masyarakat terjaga dengan absorb tadi, kenaikan harga minyak dunia melalui subsidi," beber dia.
Dari kebijakan itu, Purbaya tak menampik kalau ia sempat dikritik boros. Ia membantah karena cara tersebut justru bisa menjaga daya beli masyarakat dan inflasi tetap terjaga.
Apabila inflasi naik, maka itu berdampak pada kenaikan suku bunga. Purbaya lalu menyimpulkan dampak itu juga bisa membuat perekonomian melambat.
"Tapi dengan strategi yang pas, walaupun harga minyak dunia sempat 100 (Dolar AS per barel), kita kan tenang-tenang aja. Salah satu negara paling tenang di dunia. Karena kebijakannya pas, karena arahan presiden tepat," jelas Purbaya.