- IHSG anjlok 1,33 persen ke level 6.589,34 pada Kamis (10/9/2026) akibat tekanan pasar global.
- Lonjakan harga minyak mentah dan kenaikan imbal hasil US Treasury memicu kekhawatiran inflasi global tinggi.
- Indeks Harga Saham Gabungan berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat (11/9/2026) di tengah volatilitas pasar.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat (11/9/2026), di tengah tekanan pasar global akibat lonjakan harga minyak mentah dan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury.
Berdasarkan Morning Pack BNI Sekuritas untuk Jumat, 11 September 2026, IHSG pada perdagangan Kamis (10/9) anjlok 1,33% ke level 6.589,34. Pelemahan tersebut disertai aksi jual bersih investor asing sekitar Rp748 miliar.
Sejumlah saham menjadi sasaran net sell asing terbesar, yakni BBCA, BBNI, SAT, INDY, dan CPIN. Tekanan terhadap IHSG diperkirakan masih berlanjut karena kenaikan harga minyak yang signifikan meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membuka peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih berpotensi melanjutkan pelemahan. Area support berada pada 6.530-6.570, sedangkan resistance berada di kisaran 6.600-6.620.
Tekanan terhadap pasar domestik tidak terlepas dari perkembangan pasar global. Wall Street kembali ditutup melemah pada Kamis (10/9). Indeks S&P 500 turun 0,58%, Nasdaq melemah 0,65%, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,60%.
Investor merespons kenaikan harga minyak dan data inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) yang memperkuat kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter The Fed. Kondisi tersebut mendorong yield US Treasury 10 tahun ke level tertinggi dalam hampir enam bulan.
Harga minyak Brent sempat melonjak sekitar 6% hingga menembus US$107 per barel, dipicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Dalam perdagangan komoditas, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$103,93 per barel, melonjak 8,20%, sedangkan Brent berada di US$109,14 per barel, naik 0,18%.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian investor karena dapat memperkuat tekanan inflasi global. Jika tekanan inflasi bertahan tinggi, ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat semakin terbatas.
Investor juga menantikan rilis data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat pada Jumat. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting yang akan diperhatikan pasar dalam memperkirakan langkah The Fed selanjutnya.
Di pasar saham Asia, tekanan juga terlihat cukup luas. Bursa Asia-Pasifik melemah pada Kamis seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel semakin meningkatkan risiko inflasi.
Nikkei 225 dan Topix Jepang menjadi pengecualian dengan masing-masing menguat 0,2%. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong turun 1,3%, Taiex Taiwan melemah 0,5%, dan ASX 200 Australia terkoreksi 1,03%. BNI Sekuritas juga mencatat pasar mencermati langkah The Fed dan Bank of Japan (BOJ) yang dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pekan depan.
Pergerakan pasar domestik tercermin dari sejumlah indeks utama. Selain IHSG yang turun 1,33%, indeks LQ45 melemah 1,25% menjadi 655,98, sedangkan indeks Kompas100 turun 1,20% ke level 866,36. Di pasar valuta asing, rupiah berada di level Rp17.535 per dolar AS atau melemah 0,28%.
Di pasar obligasi, yield US Treasury 2 tahun berada pada 4,586%, naik 3,59%, sedangkan yield US Treasury 10 tahun mencapai 4,961%, naik 2,56%. Yield US Treasury 30 tahun tercatat 5,366%, meningkat 1,51%. Indeks dolar AS (DXY) juga naik 0,27% ke level 99,08.
Sementara itu, sejumlah komoditas lain bergerak beragam. Harga gas alam tercatat US$2,84 atau naik 0,64%, sedangkan batu bara Newcastle berada di US$150,40 dan turun 0,46%.
Pada kelompok logam dan pertambangan, harga emas berada di level 4.358,55 atau turun 2,29%, perak turun 6,64% menjadi 64,09, dan tembaga melemah 0,25% ke 6,542. Harga nikel turun 1,44% menjadi 16.627, timah terkoreksi 0,56% menjadi 54.529, aluminium turun 2,45% menjadi 3.280, dan iron ore 62% melemah 0,69% menjadi 98,68.