- Hilirisasi nikel belum banyak meningkatkan kesejahteraan warga lokal.
- Hanya 30 dari 5.638 UMKM Morowali bermitra dengan industri besar.
- Serapan pekerja lokal di smelter masih rendah, hanya 8%-15%.
Ia juga mengakui proses HPAL menghasilkan emisi serta residu tailing dalam jumlah signifikan. Meski demikian, perusahaan meyakini persoalan tersebut dapat dikelola melalui mitra yang tepat dan pemenuhan standar internasional.
"Kita akan melihat bagaimana HPAL ini akan berkembang di Indonesia, dan nantinya ketika downstreaming itu memang berjalan lebih lanjut di Indonesia, itu akan memberikan nilai tambah yang lebih tinggi bagi Indonesia," kata Mateus.
Direktur Utama IBC Aditya F. Arif menambahkan Indonesia perlu terjun lebih jauh ke industri baterai agar mineral dalam negeri tidak berhenti pada produk setengah jadi.
Menurut dia, Indonesia harus masuk langsung ke pengembangan teknologi baterai untuk memastikan sumber daya mineral nasional benar-benar digunakan dalam industri baterai.
"Kita harus masuk ke dalamnya. Jadi jika kita ingin mineral kita betul-betul digunakan dalam industri baterai, maka kita harus terjun langsung ke dalam pengembangannya," ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi agenda hilirisasi Indonesia. Pasalnya, meski memiliki cadangan nikel dan investasi smelter yang terus berkembang, porsi produk yang masuk ke rantai industri baterai masih relatif kecil.
Hal ini menjadi salah satu persoalan yang mengemuka dalam Sosialisasi MediaMIND 2026 yang diselenggarakan MIND ID dengan tema "Dari Bumi untuk Kedaulatan Negeri". Kompetisi jurnalistik tersebut mengangkat sejumlah isu pertambangan, mulai dari ekonomi dan investasi, ESG dan green mining, industrialisasi, kontribusi sosial, transformasi, inovasi hingga hilirisasi.
Corporate Secretary MIND ID Pria Utama mengatakan MediaMIND merupakan program tahunan yang ditujukan untuk memperluas pemahaman publik mengenai industri pertambangan, termasuk upaya perusahaan dalam menerapkan prinsip ESG.
"Kami itu sebenarnya ingin mempublikasikan bahwa tambang itu tidak selalu negatif. Tidak sekadar pertama menambang, terus kami tinggalkan, terus merusak ekosistem lingkungan. Kami punya ESG," kata Pria.
Reporter: Ester Nadya