- Pengusaha Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama sepakat mengakuisisi 30 persen saham PT Bayan Resources Tbk.
- Transaksi besar ini memicu lonjakan harga saham BYAN hingga terkena Auto Rejection Atas pada awal perdagangan.
- Analis menilai akuisisi ini memperkuat posisi strategis, meski investor tetap harus mencermati masalah RKAB anak usaha.
Suara.com - Pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam mulai menggenggam 30 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Pembelian ini melalui perusahaan afiliasi PT Jhonlin Baratama.
Transaksi ini membuat investor kaget dan langsung memborong saham BYAN. Bahkan, pada awal perdagangan saham BYAN langsung terkena Auto Rejection Atas (ARA).
Berdasarkan data Stockbit, saham BYAN melonjak 19,96 persen ke level Rp13.825 per lembar saham.
Lantas adanya ekspetasi itu, bagaimana prospek saham BYAN ke depannya?
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama, menilai prospek saham BYAN tergantung dari realisasi transaksi, sinergi operasional, serta penyelesaian isu RKAB.
Namun, ia melihat Jhonlin memiliki pengalaman berbisnis di sektor batu bara, sehingga bisa bersinergi dengan kontraktor tambang, logistik, infrastruktur. Alhasil bisa tercipta efisiensi.

"Akuisisi 10 miliar saham atau sekitar 30 persen BYAN juga berpotensi memperkuat posisi strategis Jhonlin di bisnis batu bara nasional," ujarnya saat dihubungi Suara.com, Jumat (18/9/2026).
Kendati demikian, Nafan menyarankan, investor harus cermat, meski berganti kepemilikan saham tidak serta merta mengaburkan masalah fundamental BYAN.
Terlebih, neberapa anak usaha BYAN masih menghadapi persoalan RKAB 2026 dan force majeure, yang berpotensi menekan volume produksi.
"Di sisi fundamental, BYAN sebenarnya masih memiliki basis keuangan yang kuat; pada semester I-2026, laba bersih tercatat sekitar Rp7,05 triliun, naik 24,4 persen secara tahunan," imbuhnya.
Sementara, dalam jagka menengah-panjang potensi pertumbuhan kinerja BYAN masih terbuka, jika memang masalah RKAB bisa diselesaikan.
"Tetapi dalam jangka pendek volatilitas saham kemungkinan masih tinggi karena pasar akan lebih dahulu menunggu kepastian transaksi dan perkembangan produksi," bebernya.
sebelumnya, Melalui PT Jhonlin Baratama, Haji Isam menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low untuk mengambil alih 10.000.000.500 saham BYAN atau sekitar 30% dari total saham beredar.
Transaksi tersebut masih tunduk pada sejumlah kondisi pendahuluan. Setelah seluruh persyaratan terpenuhi, Jhonlin Baratama akan menguasai sekitar 30 persen saham BYAN.
Direktur BYAN Jenny Quantero menyatakan transaksi tersebut tidak menimbulkan dampak material negatif terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan maupun kelangsungan usaha perseroan.