- Ekonom Josua Pardede memperkirakan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen pada September 2026.
- Kebijakan tersebut didasari oleh langkah antisipatif sebelumnya, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa Indonesia yang sangat memadai.
- Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga pada akhir 2026 jika tekanan eksternal dan harga minyak dunia meningkat tajam.
Kendati skenario utama September adalah mempertahankan BI-Rate, Josua melihat, risiko suku bunga masih mengarah ke atas. Apabila Bank Sentral AS kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir 2026, BI diperkirakan berpotensi merespons dengan kenaikan 25 basis poin.

"Kami memperkirakan apabila Bank Sentral AS kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin sebelum akhir 2026, BI kemungkinan perlu merespons dengan tambahan 25 basis poin sehingga BI-Rate menjadi 6,00 persen pada akhir 2026," kata Josua.
Dengan demikian, menurutnya, skenario BI bukan berarti telah selesai menaikkan suku bunga. BI diperkirakan hanya menahan suku bunga pada September sembari tetap membuka ruang untuk melakukan pengetatan pada kuartal IV jika tekanan eksternal meningkat.
Josua menyebut, terdapat tiga perkembangan utama yang dapat mengubah keputusan BI. Pertama, pelemahan rupiah yang tajam dan berlangsung secara berkelanjutan setelah kenaikan suku bunga AS.
Kedua, meningkatnya arus modal keluar yang menyebabkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) kembali melonjak. Per 18 September 2026, imbal hasil SBN tenor 10 tahun berada di sekitar 7,12 persen, naik sekitar 105 basis poin sejak awal tahun.
Ketiga, harga minyak yang kembali bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko inflasi yang berasal dari harga impor.
"Apabila ketegangan geopolitik berlangsung lebih lama dan harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS, peluang kenaikan suku bunga tambahan baik di AS maupun Indonesia akan meningkat," ujarnya.
Josua menambahkan, kebijakan Bank Sentral AS tetap menjadi salah satu faktor penting bagi pasar Indonesia. Perubahan arah suku bunga global dapat memicu gejolak nilai tukar, perubahan arus modal, serta penyesuaian harga obligasi.
Namun, BI dinilai tidak harus mengikuti kebijakan Bank Sentral AS secara mekanis. Fokus utama BI tetap menjaga daya tarik aset rupiah, stabilitas nilai tukar, dan ekspektasi inflasi.
"BI tidak perlu mengikuti Bank Sentral AS secara mekanis. Yang harus dijaga adalah daya tarik aset rupiah, stabilitas nilai tukar dan ekspektasi inflasi," ungkap Josua.
Ia menilai stabilisasi rupiah juga dapat diperkuat melalui intervensi pasar valuta asing dan instrumen moneter lainnya. Dengan mempertimbangkan berbagai kondisi tersebut, skenario utama Josua untuk RDG September adalah BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen.

"Dasarnya adalah BI sudah menaikkan bunga 100 basis poin lebih dahulu, kenaikan suku bunga AS September sudah cukup terantisipasi, inflasi domestik masih berada dalam sasaran, cadangan devisa memadai, dan rupiah menunjukkan stabilisasi," pungkasnya.