Cerita Pengasong di Stadion Maguwoharjo Raup Jutaan Rupiah Sekali Laga

Galih Priatmojo, Muhammad Ilham Baktora

Jum'at, 26 Juli 2019 | 11:19 WIB
Cerita Pengasong di Stadion Maguwoharjo Raup Jutaan Rupiah Sekali Laga
Ilustrasi pengasong di Kawasan Stadion Maguwoharjo, Sleman. [Tim grafis Suara.com]

Suara.com - "Cuma manusia pengecut atau curang yang tiada ingin melakukan pekerjaan yang berat, tetapi bermanfaat buat masyarakat sekarang dan dihari kemudian itu," Tan Malaka, Islam dalam Tinjauan Madilog: Materialisme Dialektika Logika.

Sebagai bagian dari rantai industri, sepak bola tak bisa dimungkiri punya andil besar dalam menggerakkan roda ekonomi dunia.

Mengulik kembali catatan yang pernah ditulis di media Spanyol, AS, sepak bola tahun lalu menduduki peringkat ke-17 dalam sektor yang memberi kontribusi terbesar dalam ekonomi global. Bukti nyatanya seperti yang terjadi di Spanyol.

Lewat kompetisi bergengsi La Liga dengan ikon Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo kala itu, pundi-pundi uang menggelinding deras memenuhi kantong Negeri Matador tersebut. Terhitung sepak bola telah memberi kontribusi sekira lebih dari 2 persen terhadap ekonomi Spanyol secara keseluruhan dalam pendapatan domestik brutonya.

Seperti halnya di Spanyol, jauh di ujung Selatan dunia tepatnya di kawasan Asia Tenggara, sepak bola nyatanya juga punya andil besar dalam mendukung perputaran uang lewat bergulirnya kompetisi.  Pedagang kaki lima yang berseliweran di sekitar area stadion merupakan salah satu yang sangat merasakan dampaknya.

Potret ini seperti yang tergambar di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta misalnya. Markas besar klub yang baru saja promosi Liga 1, PSS Sleman ini menjadi penyambung tali kehidupan orang-orang kecil di tengah riuhnya sorakan suporter dan drama yang terjadi di dalam stadion kala tim berjuluk Super Elang Jawa itu berlaga.

Road show dari satu stadion ke stadion lain

Sorak sorai pecak dari sisi Selatan Stadion Maguwoharjo, Sleman. Para Sleman Fans menyambut dengan gegap gempita kala Yvehen Bokhashvili menjebol gawang Persebaya Surabaya yang dikawal Miswar Saputra. 

Di tengah riuhnya suasana stadion, Kencono tampak tak peduli. Sambil sesekali membetulkan letak baju jersey yang dipajangnya, ia mengibas-kibaskan setumpuk uang di tangan ke arah dagangannya tersebut berharap bisa jadi penglaris.

baca juga

Ya, seperti pemandangan khas yang ada di seantero stadion di Indonesia, Kencono (51) adalah satu di antara ratusan bahkan ribuan pengasong yang mencoba peruntungan mengais rejeki di tengah gemerlapnya kompetisi sepak bola Indonesia yang bertajuk Liga 1.

Tak hanya di Maguwoharjo, Kencono ternyata kerap menyambangi satu stadion ke stadion lain untuk menjajakan dagangan jersey dan aksesoris sepak bola.

Kencono (51) salah satu pengasong yang ada di kawasan Stadion Maguwoharjo, Sleman. [Muhammad Ilham Baktora / Suara.com]
Kencono (51) salah satu pengasong yang ada di kawasan Stadion Maguwoharjo, Sleman. [Muhammad Ilham Baktora / Suara.com]

Baginya jarak tempuh nan jauh bukanlah persoalan kecuali untuk bertahan hidup.

"Berpindah-pindah stadion untuk jualan sudah biasa bagi kami. Mulai dari Surabaya ke Yogyakarta atau sebaliknya. Bahkan kami sempat menempuh perjalanan dari Jakarta hingga ke Bali dalam satu hari, jadi tidak istirahat usai pertandingan di Jakarta," kenang Kencono saat diwawancarai di Stadion Maguwoharjo.

"Tahun 2005-2006 pedagang jersey di sekitar stadion masih sangat sedikit. Jika ada pertandingan bola, mungkin dua hingga tiga pedagang yang jualan. Namun saat ini sudah mulai banyak penjual karena prospeknya yang bagus," jelas dia.

Kencono mengaku punya trik jitu dalam menjajakan dagangannya. Ia terlebih dulu mengantongi jadwal lengkap pertandingan Liga 1 yang akan dihelat. Dengan begitu dalam satu pekan dia bisa menyiapkan biaya dan jersey apa yang akan dijual.

"Setiap minggu kami mencari jadwal pertandingan bola. Termasuk menentukan kota mana yang akan kami datangi. Karena setiap pertandingan bisa kami prediksi pertandingan mana yang didatangi banyak penonton," tuturnya.

Berbicara soal pendapatan, Kencono menjelaskan hal itu tak bisa diprediksi. Meski telah menentukan kota yang berpotensi didatangi banyak penonton. Hal itu tak menjanjikan jika barang dagangan akan terjual habis.

"Pernah dalam satu waktu hanya satu baju yang terjual, dari ratusan stok yang kami siapkan. Namun jika di rata-rata, sekali menggelar lapak bisa mengantongi dari Rp 500 ribu- 1 juta," katanya.

Hanya 10 menit dagangan langsung ludes

Berbeda hal dengan Kencono, seorang pedagang minuman es keliling yang biasa berjualan di dalam tribun, Mujiman (48) memiliki cerita lain. Memulai berjualan ke stadion-stadion dan even di Yogyakarta sejak 15 tahun lalu, pria asal Yogyakarta itu bisa mengantongi omzet hingga Rp 1,5-2 juta dalam satu pertandingan.

"Momen pertandingan bola ini menjadi keuntungan bagi orang seperti kami. Hal itu cukup membantu keseharian kami. Dalam sekali pertandingan saya bisa mengantongi hingga Rp 1-1,5 juta," ungkapnya.

Muijiman menerangkan satu gelas es teh dibandrol mulai dari Rp 5 ribu. Dibantu tiga orang karyawan yang bertugas menjajakan di tribun stadion, dirinya mengklaim cukup 10 menit minuman-minuman tersebut ludes terjual.

Mujiman (48) salah satu pengasong yang ada di kawasan Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. [Salah seorang pengasong di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. [Muhammad Ilham Baktora / Suara.com]]
Mujiman (48) salah satu pengasong yang ada di kawasan Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. [Salah seorang pengasong di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. [Muhammad Ilham Baktora / Suara.com]]

"Jarak pintu masuk dan bangku penonton yang ada di tengah cukup jauh. Sehingga mereka sulit untuk keluar. Di lain sisi karena lelah berteriak mendukung klubnya, dia juga butuh minum. Kesempatan inilah yang kami ambil untuk meraup untung," kata dia.

Tak hanya saat pertandingan bola, dirinya juga kerap menghadiri acara wisuda di daerah Yogyakarta. Hanya bermodal sepeda motor dan alat membuat teh, Mujiman juga mengaku dapat meraup hasil bersih mencapai Rp 2 juta.

"Saya harus mengikuti agenda yang ada di kota Yogyakarta dan sekitarnya. Termasuk pada pertandingan lanjutan Liga 1 2019, di Stadion Maguwoharjo. Ini hal yang menguntungkan bagi kami, sehingga peluang-peluang seperti ini harus dimanfaatkan dengan baik. Bahkan jika kami nekat bisa berjualan hingga ke Bali," kata Mujiman.

Baik Mujiman dan Kencono berharap, pertandingan bola di Indonesia bisa terus digelar. Pernyataan itu merupakan doa agar peristiwa kelam yang terjadi pada 30 Mei 2015 silam kala FIFA menjatuhkan sanksi kepada PSSI hampir satu tahun tak terulang lagi.

Biasa hadapi situasi tawuran antarsuporter

Momen ini menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang. Disamping mereka harus mengamankan diri mereka sendiri, barang dagangan yang mereka bawa juga harus dijaga.

"Jika suporter bentrok, kami harus tetap tenang dan jangan panik. Jadi saat berjualan kita juga harus bisa membaca keadaan. Pertama melihat keadaan, kedua jika terjadi tawuran, kita langsung mengemas barang seluruhnya, dan menjauh," kata Kencono.

Dia memilih menghindar karena barang bawaan mereka banyak dan harus dikemas di dalam mobil.

Sedangkan bagi pedagang asongan, mereka tak langsung menjauh dari stadion. Mereka sembunyi terlebih dahulu di tempat yang aman, setelah bentrokan mereda mereka berjualan lagi.

"Karena setelah tawuran mereka bakal kehausan, jadi ini peluang lagi bagi kami," kelakar Mujiman.

Mujiman mengaku, selama ini pihaknya tak pernah dijarah saat terjadi tawuran antarsuporter. Dia meyakini jika suporter di Indonesia bisa lebih menghormati orang-orang kecil yang mencari kehidupan di tengah drama sepak bola tanah air.

"Kalau tawuran mereka fokus ke suporter lawan, saat bentrok PSS vs Arema kemarin, banyak yang berlari-lari di depan tempat saya berjualan. Merek tak sampai mengganggu kerjaan saya. Saya pikir mereka cukup beradab," imbuhnya.

Ada 200 Pedagang yang menggantungkan hidup di Stadion Maguwoharjo

Lebih lanjut, salah satu pedagang minuman dan makanan di dalam Stadion Maguwoharjo, Winardi (61) mengungkapkan, banyaknya pedagang yang berjualan di stadion memang harus di kelola. Beberapa di antaranya memiliki paguyuban pedagang salah satunya, Paguyuban Ayem Tentrem Maguwoharjo.

Pedagang yang biasa berjualan di dalam tribun tergabung dalam paguyuban tersebut. Lebih kurang terdapat 50 pedagang.

Pedagang lainnya biasa berjualan di luar tribun, tepatnya di sisi Timur stadion. Mereka biasa berjualan dengan motor gerobak.

"Jadi ada perbedaan lokasi pedagang. antara di dalam tribun (asongan), luar tribun dan luar pagar stadion," katanya.

Ketua Paguyuban Ayem Tentrem, Kabul (50) menjelaskan, jika ditotal jumlah pedagang yang mangkal di Stadion Maguwoharjo mencapai 200 orang. Namun jumlah tersebut diklaim sudah ada penambahan.

"Di sini memang pedagang berusaha untuk hidup. Lebih kurang ada 150-200 orang, baik yang masuk ke paguyuban maupun tidak," kata dia.

Grafis pengasong di Kawasan Stadion Maguwoharjo, Sleman. [Tim grafis Suara.com]
Grafis pengasong di Kawasan Stadion Maguwoharjo, Sleman. [Tim grafis Suara.com]

"Ratusan pedagang itu, kami juga mengimbau untuk saling menjaga stadion ini agar tetap kondusif. Sehingga 'sawah' kami di Maguwoharjo tetap menjadi berkah dan bisa menghidupi orang lain di rumah," kata dia.

Nah, pada akhirnya, kisah Kencono, Mujiman, Winardi Kabul merupakan potret betapa sepak bola tanah air begitu krusial bagi kehidupan wong cilik seperti mereka. 

Maka, wajib hukumnya sepak bola Indonesia harus dikelola secara profesional baik dalam penyelenggaraannya maupun manajemennya.

Aksi tipu-tipu di balik pertandingan sudah bukan lagi zamannya. Selain bakal mencederai sportifitas para pelaku olahraga terpopuler sejagad ini, perbuatan itu secara tidak langsung juga bakal 'membunuh' para pengasong dan keluarganya. 

Liputan khas ini ditulis oleh Muhammad Ilham Baktora

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

PSS Dihajar Bali United, Seto Nurdiantoro: Kami memang Kalah Kelas

PSS Dihajar Bali United, Seto Nurdiantoro: Kami memang Kalah Kelas

Bola | Selasa, 23 Juli 2019 | 08:58 WIB

Taklukkan PSS Sleman, Teco: Kepercayaan Pemain Bali United Meningkat

Taklukkan PSS Sleman, Teco: Kepercayaan Pemain Bali United Meningkat

Bola | Selasa, 23 Juli 2019 | 01:10 WIB

Bali United Tekuk PSS, Berikut Hasil dan Klasemen Liga 1 2019

Bali United Tekuk PSS, Berikut Hasil dan Klasemen Liga 1 2019

Bola | Senin, 22 Juli 2019 | 23:00 WIB

Bantai PSS, Bali United Tempel Tira-Persikabo di Puncak Klasemen

Bantai PSS, Bali United Tempel Tira-Persikabo di Puncak Klasemen

Bola | Senin, 22 Juli 2019 | 20:46 WIB

Pelatih PSIS Semarang Ungkap Kunci Keberhasilan Bungkam PSS Sleman

Pelatih PSIS Semarang Ungkap Kunci Keberhasilan Bungkam PSS Sleman

Bola | Rabu, 17 Juli 2019 | 18:57 WIB

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×