-
Legenda sepak bola Indonesia Riono Asnan meninggal dunia pada usia 68 tahun di Sidoarjo.
-
Almarhum merupakan bek andalan Timnas Indonesia periode 1979-1983 dan mantan pelatih kepala Persebaya.
-
Riono dikenal sebagai pelatih bertangan dingin yang pernah menukangi Persiku Kudus hingga Persiba Balikpapan.
Suara.com - Panggung sepak bola tanah air kembali dirundung duka yang mendalam pada pekan pertama Maret 2026. Mantan penggawa lini belakang Timnas Indonesia, Riono Asnan, dikabarkan telah mengembuskan napas terakhirnya, meninggal dunia.
Berita mengenai wafatnya sang legenda pertama kali tersiar luas pada hari Rabu, 4 Maret 2026 kemarin.
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia kemudian memberikan konfirmasi resmi terkait kabar duka ini lewat media sosial.
Melalui unggahan Instagram Story pada Kamis pagi, federasi menyampaikan rasa kehilangan atas kepergian sosok yang sangat dihormati.
Almarhum dikenal publik sebagai salah satu pilar pertahanan paling kokoh yang pernah dimiliki oleh negara.
Dalam kurun waktu tahun 1979 hingga 1983, beliau menjadi bagian inti dari skuad Garuda di level internasional.
Kemampuannya dalam membaca arah serangan lawan membuatnya sering ditempatkan sebagai bek tengah maupun gelandang bertahan yang solid.
Riono merupakan salah satu representasi ketangguhan pemain bertahan pada masa kejayaan kompetisi kasta tertinggi yakni era Perserikatan.
Lahir di Kota Surabaya pada pertengahan Januari 1958, ia membawa semangat juang khas masyarakat Jawa Timur.
Baca Juga: Kevin Diks Jadi Pemain Terbaik Borussia Monchengladbach Bulan Februari
Dinasti Sepak Bola Keluarga Asnan di Persebaya
Nama besar Riono tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kuat keluarga Asnan dalam kancah olahraga di Surabaya.
Ia tumbuh besar dalam lingkungan keluarga yang memang memiliki dedikasi penuh terhadap perkembangan klub Persebaya Surabaya.
Saudara-saudaranya seperti Sutrisno, Hartono, serta Margono juga dikenal luas sebagai deretan pemain sepak bola yang profesional.
Karier awalnya di lapangan hijau bermula saat ia memperkuat tim berjuluk Bajul Ijo yang melegenda tersebut.
Kala itu Persebaya adalah kekuatan utama yang mendominasi peta persaingan sebelum memasuki era liga profesional sepenuhnya.