-
I.League terapkan teknologi VAR dan instruktur Jepang guna tingkatkan standar keadilan wasit lapangan.
-
Tindakan tegas terhadap rasisme menjadi prioritas utama demi menjaga nilai inklusivitas sepak bola.
-
Pembangunan karakter dan integritas pemain ditekankan sebagai fondasi utama meraih prestasi olahraga sejati.
Suara.com - I.League sebagai operator kompetisi sepak bola profesional di Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga integritas kompetisi dengan menjunjung tinggi prinsip keadilan, fair play, serta penghormatan terhadap seluruh insan sepak bola.
Bersama PSSI melalui Komite Wasit, I.League terus melakukan berbagai langkah konkret guna memastikan setiap pertandingan berjalan profesional dan transparan.
Salah satu langkah penting yang sudah diterapkan adalah penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) untuk meningkatkan akurasi keputusan wasit sekaligus menjaga keadilan dalam pertandingan.
![Ketua Umum PSSI Erick Thohir dibuat geleng-geleng saat memperkenalkan Wakil Ketua Komite Wasit Yoshimi Ogawa yang ternyata kenal dengan pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert dan jajarannya. [Dok. IG/erick thohir]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/02/07/15011-ketua-umum-pssi-erick-thohir-wakil-ketua-komite-wasit-yoshimi-ogawa-patrick-kluivert.jpg)
Tak hanya itu, I.League juga mendukung peningkatan kualitas wasit dengan menggandeng tenaga ahli internasional.
Salah satunya melalui kerja sama dengan instruktur perwasitan asal Jepang yang didatangkan untuk membantu pelatihan berkelanjutan serta evaluasi menyeluruh terhadap kinerja wasit di Indonesia.
Di sisi lain, I.League menunjukkan sikap tegas terhadap isu rasisme yang mencoreng kompetisi.
Menyusul insiden dalam laga antara Dewa United Banten FC melawan Persib Bandung di ajang BRI Super League, serta pertandingan Elite Pro Academy (EPA) yang melibatkan pemain Timnas U-20, I.League menyatakan dukungan penuh terhadap sikap tegas Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dalam menolak segala bentuk rasisme.
Sepak bola, menurut I.League, harus menjadi ruang yang menjunjung tinggi nilai inklusivitas, saling menghargai, dan persatuan.
Oleh karena itu, segala bentuk rasisme dinyatakan tidak memiliki tempat dalam sepak bola Indonesia.
Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menegaskan bahwa komitmen terhadap fair play tidak hanya terbatas pada aspek teknis pertandingan, tetapi juga mencakup nilai-nilai fundamental yang harus dijaga bersama.
“Kami bersama Komite Wasit PSSI terus berupaya memastikan setiap pertandingan berjalan adil dan profesional, baik melalui penerapan VAR maupun peningkatan kualitas wasit dengan dukungan expert internasional," kata Ferry Paulus di laman I.League.
"Namun lebih dari itu, kami menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi rasisme dalam sepak bola Indonesia. Ini adalah komitmen bersama yang harus dijaga oleh seluruh elemen,” ujar Ferry Paulus.
Ferry juga menekankan pentingnya pembinaan karakter pemain sebagai fondasi dalam membangun ekosistem sepak bola yang sehat dan berkelanjutan.
“Kami mendorong seluruh klub untuk terus menanamkan nilai fair play, toleransi, disiplin, serta penghormatan kepada wasit sejak usia dini," jelasnya.
"Prestasi tidak hanya diukur dari kemampuan di lapangan, tetapi juga dari sikap dan karakter pemain," sambungnya.