-
FIFA resmi terapkan kartu merah bagi pemain yang menutupi mulut saat berkonfrontasi di Piala Dunia.
-
Pemain dan ofisial yang melakukan aksi walk out protes wasit akan diusir dan didiskualifikasi.
-
Aturan baru ini bertujuan memberantas rasisme tersembunyi dan menjaga sportivitas di lapangan hijau.
Infantino menambahkan bahwa tidak ada alasan logis bagi seorang atlet untuk menyembunyikan gerak bibir jika tidak melontarkan kata-kata terlarang.
"Harus ada praduga bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dia katakan, jika tidak, dia tidak perlu menutupi mulutnya," tegas pria asal Swiss itu.
Ia meyakini bahwa kejujuran di lapangan hijau dimulai dari keberanian untuk menunjukkan apa yang diucapkan kepada sesama rekan profesi.
"Jika Anda tidak memiliki sesuatu untuk disembunyikan, Anda tidak akan menyembunyikan mulut Anda saat mengatakan sesuatu. Begitu saja, sesederhana itu," tutur Infantino.
Selain isu rasisme, FIFA juga membidik tindakan protes berlebihan yang mengganggu jalannya pertandingan atau mencederai marwah kompetisi resmi.
Wasit kini memiliki wewenang penuh untuk memberikan kartu merah kepada pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas keputusan pengadil.
Aturan ini tidak hanya berlaku bagi pemain yang aktif di lapangan, tetapi juga menyasar ofisial tim di area teknis.
"Atas diskresi penyelenggara kompetisi, wasit dapat menjatuhkan sanksi kartu merah kepada pemain mana pun yang meninggalkan lapangan pertandingan sebagai protes terhadap keputusan wasit," tulis pernyataan FIFA.
Ketegasan ini juga mencakup instruksi kepada staf pelatih yang memprovokasi pemainnya untuk berhenti bertanding atau melakukan mogok main.
"Aturan baru ini juga akan berlaku bagi setiap ofisial tim yang menghasut pemain untuk meninggalkan lapangan pertandingan," lanjut pernyataan tersebut.
FIFA tidak main-main dalam menegakkan aturan ini, di mana tim yang menyebabkan pertandingan terhenti akan dianggap kalah secara otomatis.
Langkah ini menyusul drama memalukan pada final Piala Afrika tahun ini yang melibatkan tim nasional Senegal dan tuan rumah Maroko.
Saat itu, seluruh penggawa Senegal dan pelatih Pape Thiaw melakukan aksi walk out karena tidak terima dengan keputusan penalti wasit.
Meski Senegal akhirnya menang di babak tambahan, gelar juara mereka dicabut secara sensasional oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).
Keputusan pahit CAF tersebut menjadi rujukan FIFA agar kejadian serupa tidak merusak atmosfer Piala Dunia yang akan digelar mendatang.