- Argentina dan Inggris akan bertemu pada semifinal Piala Dunia 2026 di tengah memanasnya kembali isu sengketa Kepulauan Falklands.
- Menteri Luar Negeri Argentina menegaskan klaim wilayah tersebut, sementara pemerintah Inggris menolak politisasi olahraga dalam laga internasional ini.
- Pertandingan ini menjadi momen bersejarah karena Lionel Messi akan menghadapi tim Inggris untuk pertama kalinya sepanjang karier profesionalnya.
Suara.com - Duel panas Argentina vs Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 kembali memanas, bukan hanya di lapangan tetapi juga di ranah politik.
Isu Kepulauan Falklands atau Malvinas kembali mencuat dan memperkeruh rivalitas klasik kedua negara.
Setelah menang atas Swiss di perempat final, para pemain Argentina terlihat menyanyikan lagu bernada nasionalisme.
Lagu tersebut menyebut kemenangan atas Inggris sebagai perjuangan untuk Malvinas.
Penyerang Argentina, Jose Manuel Lopez, mengakui laga ini memang sarat sejarah dan emosi.

“Di luar lapangan, ini pertandingan dengan banyak sejarah, banyak rasa sakit, dan banyak hal di baliknya,” ujarnya.
Meski begitu, Lopez menegaskan timnya tidak membutuhkan motivasi tambahan.
“Ini semifinal Piala Dunia, pertandingan yang kami impikan sejak kecil,” katanya.
Ketegangan meningkat setelah Menteri Luar Negeri Argentina, Pablo Quirno, kembali menegaskan klaim negaranya atas Falklands.
Ia menilai wilayah tersebut masih menjadi bagian dari Argentina meski berada di bawah kekuasaan Inggris sejak 1833.
“Waktu tidak mengubah pendudukan ilegal menjadi kedaulatan,” tegas Quirno.
Ia juga menyebut Falklands sebagai janji antar generasi yang tidak akan ditinggalkan Argentina.
Pemerintah Inggris langsung merespons.
Kantor Perdana Menteri menegaskan status kedaulatan Falklands tidak bisa diperdebatkan dan berharap sepak bola tidak dicampur dengan politik.
“Sepak bola seharusnya menyatukan, bukan memecah,” kata juru bicara pemerintah Inggris.
