- Iker Casillas mengkritik taktik defensif Thomas Tuchel yang menyebabkan Timnas Inggris kalah dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026.
- Strategi bertahan total Tuchel membuat Inggris kehilangan kendali lini tengah dan membiarkan Argentina mencetak dua gol kemenangan.
- Kegagalan taktis tersebut memaksa Inggris menjalani laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis di Hard Rock Stadium, Miami.
Pada menit ke-81, ia juga menarik bek kiri Nicolas Tagliafico dan memasukkan Lautaro Martinez sebagai tambahan penyerang.
Strategi menyerang habis-habisan itu membuahkan hasil ketika Lautaro mencetak gol kemenangan Argentina.
Ironisnya, Lautaro yang memiliki tinggi 1,74 meter mampu memanfaatkan celah di antara John Stones dan Ezri Konsa yang bertubuh lebih tinggi.
Sementara itu, sederet pemain kreatif Inggris seperti Bukayo Saka, Noni Madueke, dan Kobbie Mainoo justru tidak dimanfaatkan untuk menjaga tekanan kepada lawan.
Fabregas Pernah Ingatkan Risiko Menambah Bek
Kekalahan Inggris juga mengingatkan pada analisis Cesc Fabregas mengenai risiko memasukkan terlalu banyak pemain bertahan saat unggul.
"Misalnya Anda sedang unggul 1-0 lalu mengganti gelandang atau penyerang dengan bek pada 10 atau 15 menit terakhir. Secara otomatis pola pikir tim berubah menjadi bertahan," ujar Fabregas.
"Akibatnya, Anda justru mengundang tekanan. Lawan lebih banyak menguasai bola, lebih leluasa menyerang, dan menjadi lebih berbahaya," lanjutnya.
Apa yang dialami Inggris berbanding terbalik dengan Spanyol. Saat menyingkirkan Prancis di semifinal, pelatih Luis de la Fuente tetap mempertahankan identitas menyerang timnya meski sudah unggul.
Kini, Inggris harus puas tampil di laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis di Hard Rock Stadium, Miami.
Meski masih berpeluang meraih peringkat ketiga, kritik Casillas dipastikan akan terus membayangi keputusan taktis Thomas Tuchel di semifinal Piala Dunia 2026.
