SuaraCianjur.id- Terkait temuan yang disebut-sebut botol miras di dalam area Stadion Kanjuruhan Malang, ternyata bukanlah seperti yang dikira selama ini milik suporter Aremania.
Komnas HAM pun angkat bicara soal penemuan botol-botol yang katanya disebut-sebut sebagai minuman keras.
Menurut Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, dari hasil penelusuran awal terhadap botol-botol miras itu bukan milik Aremania.
Berdasarkan dari keterangan yang dikumpulkan, para suporter dari Arema FC itu tak bisa membawa miras tersebut ke dalam stadion.
“Nanti detailnya akan dijelaskan dengan bukti fotonya," terang Choirul Anam ketika konpers di Jakarta, Rabu (12/10) kemarin.
Anam menjelaskan soal botol-botol yang ditemukan di dalam Stadion Kanjuruhan tersebut.
"Ada satu botol gepeng itu di stadion dan teman-teman Aremania bilang beli tiket aja harus ngumpulin uang tiga hari, masa beli minuman mahal," kata Anam.
Kini berdasarkan penelusuran lebih lanjut dari Komnas HAM, terkait dengan temuan botol-botol yang diduga miras itu, ternyata isinya bukan miras melainkan obat hewan ternak.
Dalam paparan temuan awalnya Komnas HAM menyebut beberapa poin seperti tentang pintu Tribun Stadion Kanjuruhan sampai bukti video yang disebut-sebut sebagai kunci atas insiden maut kemarin.
Termasuk hasil dai investiasi soal temuan puluhan botol yang diduga berisi miras.
"Itu bukan untuk diminum tapi untuk sesuatu yang lain. Untuk sesuatu yang lain dan tidak untuk diminum," terang Choirul Anam.
Temuan botol-botol itu bukanlah miras tapi obat untuk Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hewan ternak.
Mengutip dalam unggahan video Tim Narasi dalam akun Twitternya @NarasiNewsroom, ditemukan fakta kalau botol-botol yang katanya disebut miras itu ternyata adalah obat PMK.
"Adanya berita yang beredar di media ditemukan dua kardus botol minuman yang di resepsionis dinas pemuda dan olahraga saya nyatakan itu bukan minuman keras," terang Kadispora Kabupaten Malang, Nazarudin Hasan Seliant dalam video tersebut.
Botol-botol itu disebut sebagi obat untuk hewan ternak agar tak tertular penyakit PMK.