Deli.Suara.com - Mantan Sekertaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Muhammad Said Didu turut buka suara terkait dengan tragedi Kanjuruhan yang merenggut nyawa seratusan orang.
Said Didu menganalisis penyebab korban berjatuhan karena polisi menggunakan gas air mata yang sudah jelas dilarang oleh FIFA. Ia pun meminta agar Menkopolhukam Mahfud MD untuk tidak terlalu membela polisi.
"Prof @mohmahfudmd Yth, menurut saya pembelaan bapak kepada polisi sudah lebih dari cukup.
Analisisnya bahwa penyebab ratusan korban (meninggal) adalah polisi menggunakan gas air mata (yang jelas-jelas dilarang FIFA) sehingga menyebabkan kepanikan dan sesak nafas.
Mohon berkenan Prof bahas masalah ini," cuit Said Didu di akun Twitternya.
Bukan tanpa sebab Said Didu meminta Mahfud MD untuk cukup membela polisi atas tragedi maut di Stadion Kanjuruhan, usai pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) malam kemarin.
Karena saat menyampaikan keterangan pers kepada publik, Minggu (2/10/2022) kemarin, Mahfud MD menyebutkan para korban pada umumnya meninggal karena desak-desakan, saling himpit, dan terinjak-injak, serta sesak napas. Tak ada korban pemukulan.
Hal ini berbeda dengan analisis Said Didu yang menyampaikan kalau pemicu korban meninggal karena adanya penggunaan gas air mata oleh aparat keamanan.
Sementara, Mahfud MD meminta semua pihak untuk bersabar. Pemerintah sedang konsentrasi menolong korban yang luka-luka maupun yang meninggal, serta melakukan penyelidikan untuk memastikan duduk perkaranya.
"Terkait tragedi Kanjuruhan, dalam 2 - 3 hari ini kita konsentrasi dulu menolong korban, baik yang harus dirawat maupun yang harus dikuburkan," cuit Mahfud MD lewat akun Twitter-nya.
"Presiden sudah menginstruksikan penghentian pertandingan Liga sampai selesai evaluasi total. Artinya ini harus diselidiki dulu duduk perkaranya. Harap sabar," sambungnya.
Sebelumnya, diberitakan sebanyak 127 orang dilaporkan meninggal dunia dalam tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pascapertandingan antara Arema FC vs Persebaya Surabaya.
Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Nico Afinta dalam jumpa pers di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu, menyebutkan dua dari 127 orang yang meninggal dunia tersebut merupakan anggota Polri.
"Dalam kejadian itu, telah meninggal 127 orang; dua diantaranya adalah anggota Polri," kata Nico di Malang.
Dia menjelaskan sebanyak 34 orang dilaporkan meninggal dunia di Stadion Kanjuruhan, sementara sisanya meninggal dunia saat mendapatkan pertolongan di sejumlah rumah sakit setempat.
Menurut Nico, sesungguhnya, pertandingan di Stadion Kanjuruhan awalnya berjalan dengan lancar. Namun, setelah permainan berakhir, sejumlah pendukung Arema FC merasa kecewa dan beberapa di antara mereka turun ke lapangan untuk mencari pemain dan ofisial.
Petugas pengamanan kemudian melakukan upaya pencegahan dengan melakukan pengalihan agar para suporter tersebut tidak turun ke lapangan dan mengejar pemain. Dalam prosesnya, akhirnya petugas melakukan tembakan gas air mata.
Menurutnya, penembakan gas air mata tersebut dilakukan karena para pendukung tim berjuluk Singo Edan yang tidak puas dan turun ke lapangan itu telah melakukan tindakan anarkis dan membahayakan keselamatan para pemain dan ofisial.
"Karena gas air mata itu, mereka pergi keluar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen," katanya.