Dengan demikian, tim bubur tidak diaduk cenderung memiliki persentase kecerdasan emosional lebih tinggi dibandingkan dengan tim bubur diaduk. Namun, perlu diingat, penelitian unik tersebut merupakan penelitian dasar yang perlu diteliti lebih lanjut untuk membuktikan keakuratannya.
Kecerdasan emosional
Perlu diketahui, Luh Suryatni dalam Kecerdasan Emosional dan Perilaku Manusia (2020) menuliskan, pada dasarnya manusia dibentuk oleh tiga unsur pembentukan perilaku, yakni IQ, EQ, dan SQ.
Intelligence quotient atau IQ adalah kecerdasan manusia yang bisa diukur melalui ilmu pengetahuan, dengan menggunakan psikotes.
EQ atau emotional quotient adalah kecerdasan manusia dari segi emosional yang dapat menentukan seimbang atau tidaknya emosi manusia.
Sementara SQ atau spiritual quotient merupakan kecerdasan manusia dari segi spiritual, melalui ketenangan batin yang dapat memberikan spirit dalam menjalankan dinamika kehidupan.
Dilansir dari Kompas, kecerdasan emosional atau emotional intelligence (EI) atau EQ adalah kemampuan untuk merasakan, mengekspresikan, memahami, dan mengelola emosi.
Istilah kecerdasan emosional muncul pertama kali pada 1985 oleh Wayne Payne, dalam sebuah disertasi doktoral.
Sejak itu, konsep kecerdasan emosional menarik perhatian komunitas sains dan khalayak umum karena penerapannya mudah dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Kurangi Emisi Karbon,BRI Mulai Gunakan Kendaraan Listrik
Pada 1990-an, istilah emotional intelligence kian populer dengan terbitnya buka bertajuk Emotional Intelligence karya Daniel Goleman.
Buku tersebut menjabarkan lima komponen kunci kecerdasan emosional, yakni kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan kemampuan bersosialiasi.
Lantas, tingkat kecerdasan emosional mana yang lebih tinggi? Tim bubur diaduk atau tim bubur tidak diaduk?