Suara.com - Gerakan anti-fasis di Amerika Serikat yang berpusar di kolektif "Antifa", berkembang berkat jaringan gigs dan musik punk untuk memupuk aktivisme. Kini, saat Donald Trump berkuasa, mereka berada momen “peperangan” paling genting.
"No Trump! No KKK! No Fascist USA!", menjadi slogan yang dipekikkan Green Day saat beraksi di atas panggung American Music Awards 2016. Yel-yel itu mereka ambil dari band punk era 80'an, MDC, dan segera menjadi slogan baru gerakan anti-fasis dalam menentang Presiden Donald Trump.
Jamie Thomson, jurnalis musik dan kritik sosial, dalam artikelnya berjudul "No Fascist USA!: How Hardcore Punk Fuels the Antifa Movement" di The Guardian, Sabtu (9/9/2017), mengungkapkan jargon yang dipekikkan frontman Green Day, Billie Joe Armstrong, itu semakin marak dicetak di plakat, emblem, kaus, maupun menjadi yel-yel khas aksi demonstrasi anti-Trump dan Neo-Nazi.
"Sebenarnya, itu hanya sepotongan kecil sejarah punk yang tertulis dalam kehidupan dan budaya Amerika. Tapi, itu masih terlalu kecil untuk memberikan sedikit petunjuk pengaruh hardcore punk dalam lanskap politik AS saat ini," tulis Jamie.
Menurut Jamie, banyak komentator maupun jurnalis politik yang ingin memahami gerakan kelompok bertopeng Antifa di AS era Trump melupakan satu hal: gerakan tersebut telah dipengaruhi secara kritis oleh band-band hardcore punk selama lebih dari 4 dekade terakhir.
Gerakan Antifa
Sejak Trump berkuasa, kelompok-kelompok Neo-Fasis/Nazi dan rasis di AS memunyai keberanian untuk menggelar rapat terbuka maupun pawai. Termutakhir, pawai kelompok itu di Charlottesville berakhir bentrok dan menimbulkan korban jiwa.
Namun, di lain sisi, perlawanan terhadap kelompok-kelompok tersebut juga semakin menghebat, terutama yang diinisiasi oleh kelompok "Antifa".
Kelompok itu mudah dikenali dari kekhasannya memakai masker atau penutup wajah berwarna hitam dalam aksi-aksi jalanannya.
Tapi, yak tak banyak diketahui adalah, kelompok Antifa sebenarnya lahir dan membesar berkat musik hardcore punk.
Jamie mengungkapkan, gerakan Antifa yang kekinian giat memprotes Trump sebenarnya muncul dan tumbuh melalui kolektif-kolektif anarkis band hardcore punk era 70-80'an seperti Crass dan Conflict; maupun band politis semisal Dead Kennedys, MDC, atau Discharge.
Melalui band-band seperti itu, Antifa bisa berlindung dari aparat kepolisian, menggelar aksi massa, dan membuat jaringan selama puluhan tahun.
Mark Bray, pengarang buku "The Antifa Handbook", mengatakan "Dalam banyak kasus, gerakan Antifa di Amerika Utara tumbuh kali pertama untuk mempertahankan scene-scene (panggung pertunjukan) punk dari gerakan skinhead neo-Nazi."