'Lawan Trump dan Fasis!': Dari Panggung Musik Punk ke Jalanan

Reza Gunadha | Suara.com

Sabtu, 09 September 2017 | 16:21 WIB
'Lawan Trump dan Fasis!': Dari Panggung Musik Punk ke Jalanan
[The Guardian]

Suara.com - Gerakan anti-fasis di Amerika Serikat yang berpusar di kolektif "Antifa", berkembang berkat jaringan gigs dan musik punk untuk memupuk aktivisme. Kini, saat Donald Trump berkuasa, mereka berada momen “peperangan” paling genting.

"No Trump! No KKK! No Fascist USA!", menjadi slogan yang dipekikkan Green Day saat beraksi di atas panggung American Music Awards 2016. Yel-yel itu mereka ambil dari band punk era 80'an, MDC, dan segera menjadi slogan baru gerakan anti-fasis dalam menentang Presiden Donald Trump.

Jamie Thomson, jurnalis musik dan kritik sosial, dalam artikelnya berjudul "No Fascist USA!: How Hardcore Punk Fuels the Antifa Movement" di The Guardian, Sabtu (9/9/2017), mengungkapkan jargon yang dipekikkan frontman Green Day, Billie Joe Armstrong, itu semakin marak dicetak di plakat, emblem, kaus, maupun menjadi yel-yel khas  aksi demonstrasi anti-Trump dan Neo-Nazi.

"Sebenarnya, itu hanya sepotongan kecil sejarah punk yang tertulis dalam kehidupan dan budaya Amerika. Tapi, itu masih terlalu kecil untuk memberikan sedikit petunjuk pengaruh hardcore punk dalam lanskap politik AS saat ini," tulis Jamie.

Menurut Jamie, banyak komentator maupun jurnalis politik yang ingin memahami gerakan kelompok bertopeng Antifa di AS era Trump melupakan satu hal: gerakan tersebut telah dipengaruhi secara kritis oleh band-band hardcore punk selama lebih dari 4 dekade terakhir.

Gerakan Antifa

Sejak Trump berkuasa, kelompok-kelompok Neo-Fasis/Nazi dan  rasis di AS memunyai keberanian untuk menggelar rapat terbuka maupun pawai. Termutakhir, pawai kelompok itu di Charlottesville berakhir bentrok dan menimbulkan korban jiwa.

Namun, di lain sisi, perlawanan terhadap kelompok-kelompok tersebut juga semakin menghebat, terutama yang diinisiasi oleh kelompok "Antifa".

Kelompok itu mudah dikenali dari kekhasannya memakai masker atau penutup wajah berwarna hitam dalam aksi-aksi jalanannya.

Tapi, yak tak banyak diketahui adalah, kelompok Antifa sebenarnya lahir dan membesar berkat musik hardcore punk.

Jamie mengungkapkan, gerakan Antifa yang kekinian giat memprotes Trump sebenarnya muncul dan tumbuh melalui kolektif-kolektif anarkis band hardcore punk era 70-80'an seperti Crass dan Conflict; maupun band politis semisal Dead Kennedys, MDC, atau Discharge.

Melalui band-band seperti itu, Antifa bisa berlindung dari aparat kepolisian, menggelar aksi massa, dan membuat jaringan selama puluhan tahun.

Mark Bray, pengarang buku "The Antifa Handbook", mengatakan "Dalam banyak kasus, gerakan Antifa di Amerika Utara tumbuh kali pertama untuk mempertahankan scene-scene (panggung pertunjukan) punk dari gerakan skinhead neo-Nazi."

Antifa dalam aksi menentang Donald Trump

"Begitu pula pembentukan kolektif Anti-Racist Action network. Sebenarnya, gerakan Neo-Fasis/Nazi di AS kali pertama tumbuh untuk menguasai scene-scene punk era 1980-an. Selanjutnya, kedua gerakan yang berseberangan ini meluas tidak hanya di AS tapi ke Eropa," tuturnya.

Scene-scene hardcore punk, kata Mark, tidak bisa diartikan sekadar panggung pertunjukan musik. Lebih dari itu, tempat-tempat pertunjukan itu juga menjadi lokasi perencanaan aksi maupun pertukaran ide-ide politik.

Secara historis, sambungnya, gerakan Antifa di AS terinspirasi kelompok Anti-Fascist Action (AFA) di Inggris yang terbentuk era 70-an.

Kala itu, AFA dibentuk oleh komunitas hardcore punk sebagai respons terhadap membesarnya pengaruh partai politik sayap kanan seperti National Front dan British Movement.

“Tapi, akar gerakan anti-fasis/rasis di AS maupun Inggris Raya sebenarnya adalah grup-grup anti-fasis di Jerman. Nama kelompok 'Antifa' sendiri diadopsi dari gerakan antifasis di Jerman era 80'an, yang kali pertama diambilalih oleh kolektif anarkis di Portland, Oregon," terangnya.

Anti-Trump: Aksi Jalanan Punk

Thomas Barnett, vokalis band hardcore punk AS  "Strike Anywhere", menegaskan filosofi dan bentuk-bentuk aksi seperti yang dipromosikan gerakan Antifa merupakan satu-satunya cara untuk melawan Presiden Trump dan kebangkitan kaum Neo-Nazi di AS kekinian.

"Kami bukan sekadar melawan ide maupun politik sayap kanan, tapi melawan aksi kebencian serta kekerasan mereka yang bisa menghancurkan kemanusiaan. Tentu, aku percaya, aksi-aksi bentrokan Antifa dengan para Neo-Nazi itu di jalan-jalan sangat penting dilakukan," tuturnya.

Aksi-aksi massa Antifa di AS yang tak jarang diwarnai bentrokan dengan kelompok Neo-Nazi, seringkali didominasi oleh ”anak-anak punk”. Aksi seperti itu juga digelar untuk menentang Trump.

Thomas Barnett

Sebenarnya, bentuk aksi-aksi jalanan seperti itu bukan hal yang baru bagi komunitas hardcore punk di AS.

Pada dekade pertama tahun 2000'an, misalnya, mereka pernah menginisiasi aksi yang diikuti jutaan orang untuk menentang pertemuan World Trade Organization (WTO) maupun negara-negara G7.

Tak hanya itu, ketika gerombolan teroris ISIS merajalela di Suriah dan Irak, tak sedikit komunitas hardcore punk maupun Antifa yang terjun ke medan peperangan.

Misalnya Brace Belden, pemusik punk cum aktivis Antifa asal California yang bergabung dengan YPG, kelompok gerilyawan Kurdi yang beraliran kiri—memerangi ISIS di Suriah.

"Punk membantu membentuk ide-ide politik radikal saya," tutur Belden, saat ditanya mengenai keputusannya tersebut.

Bahkan di West Virginia—daerah basis terkuat Trump—aksi-aksi perlawanan terhadap sang presiden diinisiasi oleh grup band hardcore punk "Appalachian Terror Unit".

Sementara di Oakland, band punk/oi! "Hard Left" selalu ambil bagian dalam aksi-aksi protes, termasuk melawan pawai kekerasan Neo-Nazi di Charlottesville.

Selain grup-grup band, aktivis-aktivis Antifa juga menggunakan label rekaman, zine-zine (majalah komunitas hardcore punk), serta panggung-panggung pertunjukan musik sebagai medium koordinasi gerakan.

Jello Biafra, eks vokalis band punk legendaris Dead Kennedys, menegaskan, aksi-aksi protes yang dilakukan Antifa sangat diperlukan ketika politik sayap kanan semakin berbiak di AS.

"Jika kau tak melakukan protes seperti yang dilakukan mereka (demonstrasi massa, bentrok dengan Neo-Nazi di jalan-jalan), maka tak akan ada yang berubah," tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ini Satu-Satunya Aplikasi di Ponsel Donald Trump

Ini Satu-Satunya Aplikasi di Ponsel Donald Trump

Tekno | Senin, 04 September 2017 | 19:20 WIB

Ledakan Bom Hidrogen Korut Akibatkan Gempa 6,3 SR

Ledakan Bom Hidrogen Korut Akibatkan Gempa 6,3 SR

News | Minggu, 03 September 2017 | 14:59 WIB

Diplomat Rusia Angkat Kaki dari AS

Diplomat Rusia Angkat Kaki dari AS

News | Minggu, 03 September 2017 | 06:45 WIB

Trump Cabut Kebijakan Obama, 600 Ribu Imigran di Ujung Tanduk

Trump Cabut Kebijakan Obama, 600 Ribu Imigran di Ujung Tanduk

News | Jum'at, 01 September 2017 | 22:44 WIB

Konvoi Presiden Trump Nyaris Ditabrak Sedan dari Semak Belukar

Konvoi Presiden Trump Nyaris Ditabrak Sedan dari Semak Belukar

Otomotif | Jum'at, 01 September 2017 | 18:19 WIB

Profesor Kenneth: Texas Dilanda Badai karena Pilih Donald Trump

Profesor Kenneth: Texas Dilanda Badai karena Pilih Donald Trump

News | Rabu, 30 Agustus 2017 | 12:33 WIB

Pentagon Kaji Kebijakan Larangan Kaum Transgender di Militer AS

Pentagon Kaji Kebijakan Larangan Kaum Transgender di Militer AS

News | Rabu, 30 Agustus 2017 | 09:38 WIB

Putra Trump Akan Bersaksi Soal Campur Tangan Rusia di Pilpres AS

Putra Trump Akan Bersaksi Soal Campur Tangan Rusia di Pilpres AS

News | Rabu, 30 Agustus 2017 | 06:04 WIB

Begini Cara Trump Atasi Bencana Akibat Badai Harvey

Begini Cara Trump Atasi Bencana Akibat Badai Harvey

News | Selasa, 29 Agustus 2017 | 04:58 WIB

Amerika Mulai Buat Aturan Larangan Transgender Masuk Militer

Amerika Mulai Buat Aturan Larangan Transgender Masuk Militer

News | Jum'at, 25 Agustus 2017 | 07:12 WIB

Terkini

Lagi Jadi Sorotan, Begini Cara Menonton Film Dokumenter Pesta Babi

Lagi Jadi Sorotan, Begini Cara Menonton Film Dokumenter Pesta Babi

Entertainment | Senin, 11 Mei 2026 | 13:49 WIB

Sinopsis Pasar Setan yang Dibintangi Audi Marissa, Tayang Malam Ini di ANTV

Sinopsis Pasar Setan yang Dibintangi Audi Marissa, Tayang Malam Ini di ANTV

Entertainment | Senin, 11 Mei 2026 | 13:17 WIB

Dari Isu Lingkungan ke Lintasan Balap: Jerhemy Owen Jajal Adrenalin di Sirkuit Mandalika

Dari Isu Lingkungan ke Lintasan Balap: Jerhemy Owen Jajal Adrenalin di Sirkuit Mandalika

Entertainment | Senin, 11 Mei 2026 | 12:57 WIB

Drummer Band Hardcore Whispers Jadi Biksu: Menepi dari Ingar-bingar, Menabung Pahala

Drummer Band Hardcore Whispers Jadi Biksu: Menepi dari Ingar-bingar, Menabung Pahala

Entertainment | Senin, 11 Mei 2026 | 12:15 WIB

Belum Lunasi Duit Seragam Rp300 Ribu, 2 Siswa Panti Asuhan Diminta Angkat Kaki dari Sekolah

Belum Lunasi Duit Seragam Rp300 Ribu, 2 Siswa Panti Asuhan Diminta Angkat Kaki dari Sekolah

Entertainment | Senin, 11 Mei 2026 | 11:21 WIB

Syifa Hadju Diributkan Pakai Baju Terbuka, Ahmad Dhani: Dosa Ditanggung Desainer

Syifa Hadju Diributkan Pakai Baju Terbuka, Ahmad Dhani: Dosa Ditanggung Desainer

Entertainment | Senin, 11 Mei 2026 | 11:09 WIB

Muncul Kabar Dul Jaelani dan Tissa Biani Ingin Nikah di KUA Hindari Konflik, Ahmad Dhani Menolak

Muncul Kabar Dul Jaelani dan Tissa Biani Ingin Nikah di KUA Hindari Konflik, Ahmad Dhani Menolak

Entertainment | Senin, 11 Mei 2026 | 10:15 WIB

Ahmad Dhani Ungkap Paras Anak Al Ghazali dan Alyssa: Gak Mirip Orang Indonesia

Ahmad Dhani Ungkap Paras Anak Al Ghazali dan Alyssa: Gak Mirip Orang Indonesia

Entertainment | Senin, 11 Mei 2026 | 09:35 WIB

Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah

Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah

Entertainment | Senin, 11 Mei 2026 | 08:01 WIB

Ahmad Dhani Ingin Cucu Pertamanya Lahir di Jumat Kliwon, Apa Istimewanya Bagi Masyarakat Jawa?

Ahmad Dhani Ingin Cucu Pertamanya Lahir di Jumat Kliwon, Apa Istimewanya Bagi Masyarakat Jawa?

Entertainment | Senin, 11 Mei 2026 | 07:29 WIB