-
Telkomsel melalui MAXStream Studios menggelar kompetisi film pendek Secinta Itu Sama Indonesia (SISI) sebagai lanjutan dari program tahun lalu.
-
Dari lebih 190 karya yang masuk, sutradara Aco Tenriyadelli menyeleksi tiga film terbaik yang ditayangkan di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).
-
Tiga film terpilih adalah Yuck & Yum! karya Kurnia Alexander, A Sanctuary For Nobody karya Ayesha Alma Almera, dan The Lost Forest karya Mizam Fadilah Ananda.
Suara.com - Telkomsel melalui MAXStream Studios menyelenggarakan kompetisi film pendek Secinta Itu Sama Indonesia (SISI). Ini merupakan kelanjutan dari program yang sama tahun lalu, Secinta Itu Sama Sinema (SISS).
Program ini merupakan wadah bagi sineas muda untuk mengembangkan dan mengekspresikan ide mereka ke dalam sebuah karya film yang bisa diapresiasi banyak orang.
Untuk tahun ini, MAXStream telah menyeleksi dan memilih tiga film pendek terbaik dari 190 lebih karya yang di-submit. Proses penyeleksian dilakukan secara langsung oleh sutradara kenamaan Aco Tenriyadelli.
Proses seleksi dilakukan sejak 18 Agustus 2025 hingga 10 September 2025. Berikut tiga film terpilih dari program SISI yang juga ditayangkan di ajang Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF):
1. Yuck & Yum!
Film ini berkisah tentang seorang pelayan asal Jawa, Ayu, yang mendapat tekanan dari berbagai pihak selama bertugas membuat konten promosi sebuah film.
Film yang diangkat cukup tragis, yakni tentang kebakaran di restoran asing tempatnya pernah bekerja.
Tekanan pun datang dari orang-orang sekitarnya, seperti produser yang mengejar sensasi, kekasih yang mempertanyakan tanggung jawab moralnya, serta Susan, aktris Indo-Belanda yang memerankannya dengan penuh empati.
Di situasi penuh desakan itui, Ayu berjuang mempertahankan citra dirinya sebagai sosok yang tetap “beradab.”
Film ini digarap oleh sutradara Kurnia Alexander, yang sejak kecil sudah menaruh minat besar pada dunia perfilman. Kebiasaannya menyewa VCD membuatnya mantap menekuni profesi sebagai sutradara dan mendedikasikan hidupnya untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Melalui film-filmnya, Kurnia konsisten menyoroti perjuangan komunitas queer dan kelompok marjinal di Indonesia, dengan fokus pada sisi kemanusiaan mereka.
2. A Sanctuary For Nobody (Hanya Ada Kedamaian di Balik Jendela Rumahku)
Film ini berkisah tentang Dunya, seorang pria yang tinggal di kontrakan sederhana, hanya ingin lepas dari bau pesing yang selalu muncul di dekat jendela kamarnya setiap kali kampungnya menggelar lomba burung.
Untuk mencegah orang kencing di sana, ia membuat makam palsu lengkap dengan sesajen agar terlihat seperti tempat keramat.
Namun, langkah sederhana itu justru menimbulkan rangkaian peristiwa tak terduga, seperti jendela kamarnya dianggap sebagai lokasi suci, sesajen terus berdatangan, hingga kawasan tersebut berubah menjadi destinasi wisata religi yang sama sekali tidak pernah dibayangkan.
Film ini digarap oleh Ayesha Alma Almera, sineas asal Yogyakarta yang menekuni dunia penyutradaraan melalui berbagai program internasional, seperti Cinema Crash Course di Kinosaurus Jakarta, BIFAN NAFF Fantastic Film School di Korea Selatan, serta Short Film Incubator oleh Objectifs Centre Singapura.
3. The Lost Forest
Film garapan Mizam Fadilah Ananda ini berkisah tentang Uli, seorang anak yang tumbuh di goa karst Kalimantan dengan tradisi pra-sejarah, dilepas ke hutan untuk membuktikan kisah leluhur yang selama ini diyakini sukunya.
Namun, ketika ia menemukan jejak manusia modern di dalam hutan, Uli dihadapkan pada pilihan sulit: tetap berpegang pada mitos nenek moyang atau menerima kenyataan baru yang berpotensi mengguncang identitas komunitasnya.
Mizam memulai kariernya di balik layar sebagai pencatat adegan dan asisten sutradara dalam sejumlah produksi, seperti Pertaruhan (2017), Love for Sale (2018), Mantan Manten (2019), dan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020).
Ia kemudian dipercaya sebagai Asisten Sutradara 1 di film besar seperti Love for Sale 2 (2019) dan Mencuri Raden Saleh (2022).
Pada tahun 2022, Mizam debut sebagai sutradara film layar lebar melalui karya horor Tumbal Kanjeng Iblis.