- Aktivis Chiki Fawzi akan memimpin pelayaran kemanusiaan bernama Global Summit Flotilla pada 12 April 2026 menuju Gaza.
- Misi damai ini bertujuan membuka koridor bantuan kemanusiaan melalui jalur laut meski situasi geopolitik Timur Tengah sedang memanas.
- Delegasi Indonesia akan berkoordinasi untuk menentukan titik awal pelayaran dari lokasi seperti Tunisia, Turki, atau Yunani.
Suara.com - Aktivis sekaligus musisi Chiki Fawzi menyatakan kesiapannya untuk kembali melakukan pelayaran kemanusiaan guna menembus blokade Gaza, Palestina, pada 12 April 2026 mendatang.
Misi bertajuk Global Summit Flotilla ini tetap dijalankan meski situasi geopolitik Timur Tengah tengah membara akibat konflik terbuka antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel yang pecah sejak akhir Februari lalu.
Chiki menjelaskan bahwa misi ini merupakan gerakan internasional yang bertujuan membuka koridor kemanusiaan via jalur laut. Pelayaran ini diklaim sebagai aksi damai tanpa kekerasan (non-violence sailing).
"Ada sekitar 30-an orang dari Indonesia yang bergabung. Tujuannya membuka koridor kemanusiaan di Gaza via jalur laut. Kita berlayar dengan damai, with peace," kata Chiki Fawzi saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Rabu, 4 Maret 2026.
Rencana keberangkatan ini memicu kekhawatiran mengingat kondisi keamanan di kawasan tersebut sedang berada di titik nadir.

Serangan udara massal di berbagai kota di Iran serta blokade energi di Selat Hormuz telah mengganggu stabilitas internasional.
Chiki mengakui bahwa setiap upaya menembus Gaza selalu berbenturan dengan dinamika politik yang fluktuatif.
Anak pasangan Ikang Fawzi dan Marissa Haque ini mengenang pengalaman pahit saat tertahan di Tunisia dalam misi sebelumnya. Saat itu, ketegangan militer AS di kawasan tersebut berdampak langsung pada keamanan rute pelayaran mereka.
"Waktu itu dinamika politiknya luar biasa. Aku ingat banget Qatar dibom pangkalan udara militer Amerikanya, terus pelabuhan Sidi Bou Said di Tunisia juga dibom dari drone yang ternyata berasal dari pangkalan militer Amerika di Malta. Jaraknya dekat sekali, seperti Jakarta ke Bandung," ungkap Chiki.
Baca Juga: Kenapa Komentar Reza Rahadian Ini Dianggap Pro Israel?
Terkait memanasnya hubungan Iran dan Amerika Serikat saat ini, Chiki mengaku tetap memantau situasi namun tidak akan menyurutkan niatnya. Menurutnya, dampak konflik antara Iran, AS, dan Israel memang dahsyat, tetapi misi kemanusiaan tidak boleh berhenti.
"Aku sebenarnya ikut alur saja ya, karena ini memang luar biasa sih. Antara Iran, Amerika, dan Israel ini efeknya dahsyat. Kita lihat saja ke depannya gimana, yang pasti pelayaran ini harus terus berlanjut," tegasnya.
Chiki memiliki alasan kuat mengapa dirinya bersikeras berangkat ke wilayah konflik meski risikonya bertaruh nyawa. Baginya, perjuangan untuk Palestina adalah soal akidah dan kemanusiaan.
"Hati saya di sana. Dari segi Muslim, ini ada ujian akidah karena kita ada kewajiban memperjuangkan Baitul Maqdis. Dari segi kemanusiaan, yang terjadi di sana sudah benar-benar tidak manusiawi," tambahnya.
Persiapan untuk keberangkatan April mendatang kini terus dimatangkan melalui koordinasi di bawah Indonesia Global Peace Convoy.
Delegasi Indonesia akan bekerja sama dengan aktivis global untuk menentukan titik start pelayaran, yang kemungkinan dimulai dari Tunisia, Turki, Italia, Barcelona, atau Yunani.