Atas saran kakak Agnes, Bartholomew (Joe Alwyn), William pergi ke London untuk mengejar karier teater.
Namun, kebebasan William untuk mengejar mimpi kontras dengan nasib Agnes yang harus bertahan dalam kesunyian rumah tangga, terutama setelah kematian tragis anak mereka.
3. Kekuatan Akting dan Atmosfer Sinematik

Keberhasilan Hamnet sangat bergantung pada performa luar biasa Jessie Buckley dan Paul Mescal.
Mescal sukses menampilkan sisi manusiawi Shakespeare yang frustrasi dan penuh emosi tertahan.
Namun, sorotan utama jatuh pada Jessie Buckley. Adegan ketika ia meratapi kematian Hamnet dengan jeritan yang liar dan menyayat hati diprediksi akan menjadi momen ikonik di musim penghargaan film dunia.
Dukungan teknis dari komposer Max Richter dan perancang suara Johnnie Burn menciptakan atmosfer yang rimbun namun meresahkan.
Meski beberapa kritikus menilai narasi film ini kadang terlalu eksplisit dalam menjelaskan kaitan antara Hamnet dan naskah Hamlet, meski secara keseluruhan film ini tetap memukau secara emosional.
4. Karya Besar Lahir dari Duka Paling Perih
Baca Juga: Sosok Sabrina Farhana Istri Founder Nussa Rara yang Dikaitkan Isu Selingkuh, Kerabat Orang Populer

Hamnet adalah sebuah pengingat bahwa karya-karya terbesar manusia sering kali lahir dari luka yang paling perih.
Meskipun narasinya kadang terasa tidak konsisten karena mencoba merangkum isu gender, romansa, dan refleksi seni sekaligus, konklusinya berhasil menyatukan semua elemen tersebut.
Film ini menawarkan pengalaman reflektif tentang bagaimana seni bisa menjadi media penyembuhan bagi duka yang tak terucapkan.
Bagi pencinta drama sejarah yang puitis, Hamnet adalah tontonan wajib yang sangat menyentuh.
Kontributor : Safitri Yulikhah