- Seniman Rully Irawan merilis proyek musik bertajuk "Markisa" di Copenhagen sebagai bentuk komunikasi kasih sayang kepada putrinya.
- Setelah menetap di Denmark selama lima tahun, Rully kembali bermusik untuk mengekspresikan identitasnya melalui nama panggung RAUN.
- Lirik berbahasa Indonesia dalam karya ini menjadi jembatan budaya agar sang putri tetap terhubung dengan latar belakangnya.
RAUN menjadi simbol perjalanan emosional Rully dalam mencari identitas di tanah rantau. Pendekatan musiknya pun dibuat sangat jujur dan minimalis.
Tanpa pretensi ingin terdengar seperti musisi besar lainnya, ia hanya bermain gitar dan bass, menyuarakan apa yang ada di hatinya.
Judul "Markisa" sendiri diambil dari hal kecil yang sangat dekat dengan kesehariannya: buah kesukaan Flora.
Melalui metafora buah markisa, Rully berpesan tentang pentingnya berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menemukan bagian dari diri sendiri.
"Terkadang jangan lupa menepi, lihatlah itu rumahmu juga. Tempat berpuas makan markisa, tempat temukan bagian dari diri sendiri," tulisnya dalam lirik tersebut.
Meski menetap di Denmark, Rully memilih tetap menggunakan bahasa Indonesia dalam liriknya.
Ini adalah upaya sadar untuk menjaga koneksi budaya. Ia ingin Flora, meski tumbuh besar di Eropa, tetap memiliki ikatan emosional dengan "bahasa bapaknya".
Berbeda dengan karya-karyanya di masa lockdown 2020 yang cenderung getir, "Markisa" lahir dari fase hidup yang lebih tenang dan penuh penerimaan.
Rully tidak lagi mengeluh tentang sulitnya adaptasi, melainkan merayakan kedamaian yang ia temukan dalam kesederhanaan peran sebagai seorang ayah.
Melalui "Markisa", Rully Irawan dan RAUN mengajak kita semua untuk ikut "raun", berkeliling sejenak, menepi, dan akhirnya menemukan bahwa "rumah" bukan sekadar bangunan, melainkan tempat di mana cinta dan diri sendiri saling bertemu.