Banyak yang berharap agar tren kenaikan ini tidak merembet ke jenis bahan bakar yang paling banyak digunakan masyarakat luas.
Salah satu netizen berkomentar, "Turbo aja ya pak yang naik, jangan yg lain."
Ada pula yang merasa lega namun tetap waspada dengan berkomentar, "Mau bilang alhamdulillah Pertalite enggak naik, takut digruduk."
Di sisi lain, muncul pula komentar-komentar satir yang menyoroti perbedaan kelas sosial pengguna BBM tersebut.
Beberapa netizen menganggap mereka yang menggunakan Pertamax Turbo adalah kelompok masyarakat yang sangat mampu sehingga kenaikan ini dianggap sebagai bentuk keadilan distribusi beban ekonomi.
"Alhamdulillah yang kaya biar miskin," celetuk seorang netizen.
Senada dengan itu, netizen lain menambahkan, "Yang biasa pake Pertamax Turbo itu berarti orangnya kaya atau mampu banget."
Meskipun harga BBM non-subsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami kenaikan signifikan, pihak Pertamina terpantau masih menjaga stabilitas harga untuk beberapa jenis produk lainnya.
Hingga saat ini, harga BBM Pertamax (RON 92) masih dipertahankan pada angka Rp12.300 per liter dan Pertamax Green tetap Rp12.900 per liter.
Kabar baiknya bagi masyarakat luas, Pertamina juga belum mengubah harga BBM subsidi, di mana Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter.
Penyesuaian harga ini tercatat tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga dialami di sejumlah provinsi lainnya di Indonesia.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah