- Sekelompok siswa SMAN 1 Purwakarta mengacungkan jari tengah kepada seorang guru di kelas pada 18 April 2026.
- Aksi tidak terpuji tersebut terekam dalam video viral yang memicu kecaman keras dari warganet di media sosial.
- Siswa kelas XI-1 menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada guru dan pihak sekolah atas perilaku mereka tersebut.
Suara.com - Aksi tidak terpuji sekelompok siswa SMAN 1 Purwakarta yang secara serempak mengacungkan jari tengah kepada seorang guru di dalam kelas viral di media sosial.
Insiden yang terekam kamera dan diunggah oleh akun Instagram @fakta.indo pada Sabtu, 18 April 2026 ini memicu kecaman luas dari warganet, yang berujung pada video permintaan maaf massal dari para siswa yang terlibat.
Dalam video yang beredar, tampak sejumlah siswa, baik laki-laki maupun perempuan, dengan sengaja mengarahkan jari tengah mereka ke arah punggung seorang guru yang hendak meninggalkan ruang kelas.
"Sejumlah siswa SMAN 1 Purwakarta melakukan tindakan tidak terpuji terhadap seorang guru di dalam kelas. Saat guru hendak meninggalkan kelas usai kegiatan belajar mengajar, beberapa siswa terlihat mengacungkan jari tengah ke arah punggung sang guru," tulis keterangan dalam unggahan tersebut.
Tak butuh waktu lama, video tersebut menyulut kemarahan warganet yang menilai tindakan para siswa telah melewati batas kewajaran dan melecehkan martabat seorang pendidik.
Gelombang kritik yang masif akhirnya membuat para siswa dan pihak sekolah mengambil tindakan.
Sebagai respons, sebuah video klarifikasi dan permintaan maaf diunggah. Dalam video kedua, seluruh siswa dari kelas XI-1 tersebut tampil seragam dan menyampaikan penyesalan mereka secara kolektif.
"Saya Hamila, perwakilan dari kelas XI 1, mohon maaf ke semua pihak yang bersangkutan," ujar seorang siswi yang menjadi juru bicara.
Permintaan maaf tersebut secara khusus ditujukan kepada guru yang menjadi korban, Saphira, serta seluruh jajaran guru dan alumni.
"Betul, saya mengakui tindakan yang sudah kami lakukan itu tidak pantas dilakukan kepada ibu guru kami," lanjut siswa tersebut.
Seluruh siswa kemudian menundukkan kepala dan mengucapkan permintaan maaf secara serempak.
"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesilapan dan kekhilafan kami," ucap mereka bersama-sama.
Peristiwa ini kembali membuka diskusi publik mengenai krisis moral dan adab di kalangan pelajar.
Banyak pihak menyayangkan bagaimana tindakan yang seharusnya menjadi ranah pembinaan di sekolah justru menjadi konten tidak pantas yang disebarluaskan di media sosial, sebelum akhirnya berakhir dengan penyesalan.