- Mhurny R Ratu memviralkan tuduhan bahwa anak angkat orang tuanya, Tina, pergi tanpa berpamitan setelah wisuda di Palu.
- Keluarga angkat merasa kecewa karena telah membiayai pendidikan Tina selama bertahun-tahun dengan penuh pengorbanan tenaga serta materi.
- Ibu kandung Tina membantah tuduhan tersebut dan mengklaim anaknya mengalami eksploitasi serta tekanan selama tinggal bersama keluarga angkat.
Suara.com - Kisah tentang seorang anak angkat yang dituding tidak tahu balas budi mendadak viral di media sosial dan memicu perdebatan panas di kalangan warganet.
Cerita ini pertama kali mencuat lewat unggahan akun bernama Mhurny R Ratu, yang membagikan curhatan panjang mengenai perlakuan adik angkatnya bernama Tina.
Dalam unggahannya, Mhurny mengaku kecewa dan marah atas sikap Tina yang dianggap tidak menghargai perjuangan orang tua angkatnya.
Ia menjelaskan bahwa Tina telah diasuh oleh kedua orang tuanya sejak usia 4 tahun hingga berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana. Selama itu pula, keluarga mereka disebut telah berkorban banyak demi masa depan Tina.
“Ini dia Tina. Anak yang mamah papah aku urus dari umur 4 tahun sampai sarjana. Itu Tina pas mau dekat acara wisudanya dia telepon terus mamah papah aku harus hadir di acara wisudanya,” tulis Mhurny dalam unggahannya.
Ia juga menceritakan bagaimana kedua orang tuanya berusaha keras untuk bisa menghadiri momen penting tersebut. Sang ayah bahkan rela bekerja tambahan di kebun kelapa demi mendapatkan uang lebih, sementara ibunya tetap memaksakan diri meski kondisi kesehatan tidak optimal.
Dengan kondisi keuangan yang pas-pasan, mereka tetap menyewa mobil agar bisa datang ke lokasi wisuda di Kota Palu.
Namun, sesampainya di gedung wisuda, hal yang tidak terduga justru terjadi. Menurut Mhurny, orang tuanya sudah menunggu berjam-jam, tetapi Tina tidak kunjung menemui mereka.
Kekecewaan semakin memuncak ketika tiba-tiba ibu kandung Tina menghubungi dan menyampaikan bahwa anaknya sudah dibawa pulang.
“Tiba-tiba jam 4 sore mamah kandungnya menelepon, bilang tidak usah cari Tina, sudah saya ambil anakku. Doakan saja Tina sukses biar bisa balas budi sama kamu,” ungkap Mhurny menirukan ucapan tersebut.
Merasa orang tuanya diperlakukan tidak adil, Mhurny pun meluapkan emosinya. Ia mempertanyakan hati nurani Tina yang pergi tanpa mengucapkan terima kasih, padahal telah dibesarkan dan disekolahkan hingga lulus.
“Di mana hati nuranimu untuk orang tuaku? Masa kau pergi tanpa temui mamah papahku, tanpa bilang terima kasih sudah bisa sekolah sampai S1,” tulisnya dengan nada kesal.
Klarifikasi ibu kandung Tina
Namun, cerita ini tidak berhenti di satu sisi saja. Tak lama setelah unggahan tersebut viral, ibu kandung Tina turut angkat bicara dan memberikan versi yang berbeda.
Ia membantah anggapan bahwa anaknya tidak tahu balas budi, dan justru mengungkap kondisi yang dialami Tina selama tinggal bersama keluarga angkatnya.
Menurutnya, Tina tidak hidup dengan nyaman, melainkan kerap diperlakukan seperti pembantu rumah tangga. Ia menyebut anaknya harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, mulai dari mencuci pakaian hingga mengurus kebutuhan keluarga.
“Sekarang Tina terbebas menjadi babu kamu. Kau tidak ingatkah Tina yang cuci pakaianmu, suamimu, dan anak-anakmu,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pendidikan Tina hingga sarjana bukan sepenuhnya hasil bantuan keluarga angkat, melainkan karena beasiswa yang didapatkan.
Bahkan, ia menuding sebagian dana beasiswa tersebut kerap diminta oleh pihak keluarga angkat.
Lebih lanjut, ibu kandung Tina menjelaskan bahwa keputusan anaknya untuk pergi tanpa berpamitan dilatarbelakangi rasa tertekan dan kelelahan yang sudah lama dipendam.
Tina disebut merasa takut dan memilih pergi sebagai jalan keluar dari situasi tersebut.
“Dia merasa tertekan dan takut, makanya memilih pergi. Dia sudah capek,” ungkapnya.
Ia juga memaparkan bahwa selama bertahun-tahun, Tina harus menjalani kehidupan yang berat, termasuk berjalan kaki ke sekolah dan hanya diberi uang jajan dalam jumlah sangat terbatas.
Semua itu, menurutnya, merupakan bentuk “bayaran” atas bantuan yang diberikan keluarga angkat.
Perbedaan versi cerita ini pun membuat warganet terbelah. Sebagian bersimpati kepada keluarga angkat yang merasa dikhianati, sementara lainnya justru membela Tina setelah mendengar penjelasan dari ibu kandungnya.
Hingga kini, kisah tersebut masih menjadi perbincangan hangat dan memunculkan diskusi lebih luas tentang hubungan anak angkat, tanggung jawab, serta batas antara bantuan dan eksploitasi.