Suara.com - Tulisan Dr. Ir. Adhi S. Soembagijo, alumni Teknik Mesin ITB tahun 1989, mengaitkan aspek elektromagnetik dengan kronologi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur.
Seperti diketahui, insiden bermula saat sebuah taksi listrik melintang di perlintasan sebidang dekat Bulak Kapal lalu tertemper KRL Commuter Line yang melintas.
Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL relasi Kampung Bandan-Cikarang terhenti di emplasemen Stasiun Bekasi Timur untuk proses evakuasi kendaraan.
Dalam kondisi berhenti itulah, Kereta Api Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi menabrak bagian belakang KRL sekitar pukul 20.52 WIB.
Benturan keras menyebabkan kerusakan parah pada gerbong belakang KRL dan menimbulkan korban jiwa serta puluhan luka-luka.
Adhi kemudian menjelaskan bahwa mobil dan kereta api merupakan objek elektromagnetik karena adanya proses konversi energi listrik menjadi energi gerak.
"Di dalam kedua kendaraan terdapat konversi energi listrik ke energi kinetik dan sebaliknya," tulis Adhi dalam unggahan Facebook, seperti dikutip pada Selasa, 28 April 2026.
Dia menyebut komponen seperti motor listrik, inverter, generator, dan stabilizer tegangan memancarkan medan magnet saat beroperasi aktif.
"Semua komponen tersebut memancarkan medan magnet yang dapat terakumulasi dan menginduksi benda di sekitarnya," jelasnya lebih lanjut.

Menurut Adhi, rel kereta menjadi objek paling mudah terinduksi sehingga berperan seperti penghantar besar medan elektromagnetik.
"Rel jadi seperti antena raksasa elektromagnetik yang menangkap dan menyebarkan induksi medan magnet," tulisnya menegaskan.
Dia menambahkan bahwa kekuatan induksi tersebut bersifat fluktuatif tergantung jarak dari sumber dan kepadatan lalu lintas kereta.
“Fluktuasi dipengaruhi posisi terhadap lokomotif, frekuensi perjalanan kereta, hingga kondisi cuaca di lintasan,” ungkap Adhi.
Dalam kondisi tertentu, mobil yang melintasi rel dapat mengalami ketidakcocokan level elektromagnetik dengan rel yang terinduksi tinggi.

“Ketidak-kompatibelan ini memicu lonjakan induksi yang menghasilkan emisi elektromagnetik di sekitar kendaraan,” tulisnya menjelaskan mekanisme.
Adhi menilai emisi tersebut berpotensi mengganggu sistem kontrol kendaraan seperti ECU pada mobil berbahan bakar maupun VCM pada mobil listrik.
"Emisi ini mengganggu kerja ECU atau VCM sehingga fungsi kelistrikan terganggu dan mesin mobil bisa mati mendadak," jelasnya rinci.
Dia memperingatkan bahwa kondisi mesin mati di atas rel dapat memperbesar risiko kecelakaan seperti yang terjadi dalam kronologi awal insiden.
Adhi juga menegaskan bahwa sistem palang pintu telah dirancang berdasarkan perhitungan jarak aman yang mempertimbangkan faktor induksi tersebut.
"Waktu buka tutup pintu lintasan sudah diprogram berdasarkan jarak induksi aman yang dihitung secara matematis," tulisnya.
Direktur Eksekutif MECATA Foundation itu menutup dengan peringatan tegas agar pengguna jalan tidak melanggar aturan perlintasan demi menghindari risiko fatal di lintasan kereta.
"Perhitungan matematis itu lebih berkuasa, makanya jangan dilanggar," tegas Adhi dalam bagian akhir tulisannya.
Adhi S. Soembagijo memiliki latar belakang akademis dan profesional di bidang teknik.
Dia sering menjadi pembicara dalam berbagai forum mengenai teknologi, sistem otonom, dan kecerdasan buatan, termasuk Studium Generale di ITB.
Kontributor : Chusnul Chotimah