- Pemerintah Kabupaten Indramayu menguji coba sistem pertanian modern PM-AAS di Desa Plosokerep pada Rabu, 26 Agustus 2026.
- Penerapan sistem pertanian modern tersebut berhasil meningkatkan produktivitas panen padi rata-rata menjadi 10,45 ton per hektare.
- Kementerian Pertanian RI menetapkan Kabupaten Indramayu di peringkat pertama untuk kontribusi produksi padi nasional sebesar 1,5 juta ton.
Penggunaan drone untuk pemupukan dan pengawasan, mekanisasi pompa irigasi, hingga penggunaan combine harvester saat panen terbukti mampu menekan potensi kehilangan hasil (losses) dan mempercepat proses kerja.
Namun, Lucky menekankan bahwa teknologi hanyalah alat. Fokus utamanya tetap pada kesejahteraan petani.
"Modernisasi bukan sekadar membawa mesin ke sawah. Hasilnya harus konkret dirasakan petani dalam bentuk peningkatan pendapatan," imbuhnya.
Pengakuan Nasional dan Tantangan Ke Depan
Efektivitas tata kelola pertanian di Indramayu ini mendapat apresiasi dari pemerintah pusat.
Kementerian Pertanian RI menempatkan Indramayu di Peringkat I untuk kontribusi produksi padi nasional dengan total produksi mencapai 1,5 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
Meski meraih berbagai penghargaan, tantangan besar masih membentang, terutama dalam memastikan teknologi ini dapat diadopsi secara merata oleh seluruh petani di Indramayu, bukan hanya di lahan uji coba.
Lucky Hakim sendiri memilih bersikap rendah hati atas pencapaian tersebut. Ia menyebut keberhasilan ini sebagai kerja kolektif.
"Penghargaan ini adalah hasil kerja keras petani, penyuluh, dan semua pihak di lapangan. Kami di pemerintahan hanya memastikan regulasi dan teknologinya tersedia," tuturnya.
Dengan hasil uji coba di Plosokerep ini, pemerintah daerah optimistis bahwa efisiensi pertanian berbasis teknologi dapat menjadi standar baru di Indramayu.
Tujuannya jelas: industri tetap tumbuh, namun sawah tetap terjaga dan petani semakin berdaya.