- Tenaga Ahli KSP Ulta Levenia mengaitkan erupsi enam gunung di Indonesia dengan proyek HAARP.
- Pernyataan kontroversial Ulta di media sosial tersebut menuai banyak kritik pedas dari netizen.
- Pendiri Kaskus Andrew Darwis menegaskan bahwa gelombang HAARP tidak mampu menembus kerak bumi untuk memicu gempa.
Darwis juga menyinggung potongan video yang menampilkan Dharma Pongrekun, sosok yang kerap dikaitkan dengan pembahasan teori konspirasi global.
Dalam unggahannya, Darwis menjelaskan bahwa anggapan gempa besar dapat dipicu oleh gelombang elektronik atau HAARP tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
"HAARP itu neliti lapisan atmosfer atas (ionosfer), gelombangnya gak bisa nembus ke dalam kerak bumi buat ngegerakin patahan geologi," tulis Darwis.
Ia juga menjelaskan alasan Indonesia menjadi salah satu wilayah yang rawan mengalami gempa.
Menurut Darwis, aktivitas gempa di Indonesia berkaitan dengan kondisi geografis wilayah yang berada di pertemuan sejumlah lempeng tektonik besar.
Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik terus bergerak sehingga aktivitas tektonik menjadi bagian dari proses alam yang berlangsung di kawasan tersebut.
Apa Itu HAARP?
HAARP merupakan fasilitas penelitian yang digunakan untuk mempelajari ionosfer, yakni lapisan atmosfer bagian atas yang memiliki peran penting dalam berbagai fenomena gelombang radio.
Program HAARP pada fase awalnya memang melibatkan pendanaan dan sejumlah lembaga pemerintah Amerika Serikat, termasuk militer.
Fakta tersebut kemudian menjadi salah satu alasan HAARP kerap dikaitkan dengan berbagai teori konspirasi di internet.
HAARP selama bertahun-tahun dituding memiliki kemampuan untuk memengaruhi cuaca, memicu badai, hingga menyebabkan gempa bumi dan aktivitas vulkanik.
Namun, tudingan tersebut berbeda dengan fungsi ilmiah HAARP yang berfokus pada penelitian ionosfer.
Tidak terdapat bukti ilmiah kredibel yang menunjukkan HAARP dapat mengendalikan aktivitas gunung api atau menggerakkan patahan geologi.