- Polisi Thailand menangkap mantan kepala biara Wat Phutthaisawan atas kasus dugaan penyelewengan dana dan pencucian uang.
- Biksu senior tersebut memiliki latar belakang pernah menikah dan bekerja sebagai medium atau perantara spiritual.
- Penyidik menyita sejumlah aset bernilai besar yang masih harus diverifikasi sumber dan keabsahannya.
"Dia pernah menjadi medium sebelumnya," kata Kritsada.
Menurut dia, tempat tinggal lama Sme Choti berbentuk apartemen dan pernah digunakan sebagai lokasi untuk menjalankan aktivitas sebagai perantara spiritual.
Sme Choti juga disebut memiliki hubungan dekat dengan sejumlah orang yang menjalani aktivitas serupa.
Latar belakang tersebut kemudian membuatnya dikenal sebagai sosok yang memiliki kemampuan membaca keberuntungan atau memberikan nasihat spiritual kepada para pengikutnya.
Dikenal Mahir Meramal
Setelah menjadi biksu dan dikenal sebagai pemimpin Wat Phutthaisawan, reputasi Sme Choti sebagai sosok yang memiliki kemampuan spiritual tetap melekat.
Kritsada mengungkapkan, para pengikut yang datang menemuinya terkadang mendapatkan selembar kertas berisi tulisan tertentu.
Kertas tersebut kemudian diminta untuk dibakar sebagai bagian dari ritual.
"Bagi murid yang dekat, biasanya mereka mendapatkan beberapa lembar," ujar Kritsada.
Ia bahkan mengaku pernah menerima beberapa lembar kertas tersebut ketika masih mengenal pelaku sebagai seorang tokoh agama.
Selain dugaan pelanggaran disiplin keagamaan, polisi juga menyelidiki dugaan penyelewengan dana kuil.
Dalam penggeledahan, polisi menyebut menemukan uang tunai sekitar 138 juta baht, sementara sejumlah rekening yang dikaitkan dengan pelaku memiliki saldo sekitar 290 juta baht.
Polisi juga menemukan emas dan sejumlah aset lain sehingga total nilai aset yang ditemukan disebut dapat mencapai sekitar 500 juta baht, meski seluruh asal-usul aset tersebut masih harus diverifikasi.
Polisi menegaskan tidak seluruh aset tersebut otomatis merupakan hasil tindak pidana.
Penyidik masih harus menelusuri sumber dana, termasuk membedakan antara uang hasil penjualan benda-benda keagamaan, sumbangan kepada kuil, dan aset pribadi.